Daul Semut Ireng Gelorakan Musik Tradisional Khas Pamekasan, Gaungnya Sampai ke Istana Negara

- Jurnalis

Selasa, 22 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hannan, pembina Musik Daul Semut Ireng saat ditemui di kediamannya. (KLIKMADURA)

Hannan, pembina Musik Daul Semut Ireng saat ditemui di kediamannya. (KLIKMADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Musik tradisional tidak selalu lahir dari panggung megah. Kadang, ia tumbuh dari suara kentungan, lorong-lorong kampung, dan kebiasaan sederhana masyarakat yang ingin membangunkan tetangganya untuk sahur.

Dari tradisi sederhana itulah musik daul di Pamekasan menemukan jalan panjangnya. Kini, daul bukan sekadar bunyi-bunyian pengiring sahur. Ia menjelma menjadi identitas kesenian daerah yang terus hidup, berkembang, bahkan menembus panggung nasional hingga Istana Negara.

LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan

Siang di Pamekasan terasa terik pada Selasa (22/9/2026). Musim kemarau masih membentang. Angin muson timur membawa debu yang sesekali beterbangan di sepanjang jalan.

Kuda besi sang jurnalis terus melaju di atas aspal Kabupaten Pamekasan. Tujuannya, sebuah rumah sederhana di Kelurahan Parteker.

Rumah itu bercat kuning. Beberapa bagian temboknya dihiasi ukiran kayu. Di halaman depan, sebuah kerangka dekor musik daul terparkir rapi.

Seorang pria mengenakan topi hitam keluar dari rumah. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Dialah Hannan Thahir, pembina Daul Semut Ireng Pamekasan.

“Silakan duduk, maaf menunggu lama,” katanya sambil tersenyum.

Dari tempat sederhana itu, cerita panjang tentang musik daul mengalir. Hannan, pria kelahiran 1964, seperti membuka kembali lembar demi lembar perjalanan sebuah kesenian yang telah melewati zaman. Cerita itu bermula pada era 1970-an.

Saat itu, masyarakat Pamekasan memiliki tradisi membangunkan warga untuk sahur pada bulan Ramadan. Kentungan dan berbagai alat musik tradisional menjadi sarana untuk menghidupkan suasana kampung menjelang waktu makan sahur.

Bunyinya sederhana. Namun dari suara yang berulang setiap malam itu, perlahan lahir sesuatu yang lebih besar. Tahun 1984 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut.

Baca juga :  Modus Calo Rekrutmen Polisi, Pria Asal Bugih Tipu Korban Rp500 Juta

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas (SMA), Hannan dipercaya warga Kelurahan Parteker untuk menciptakan instrumen musik dari berbagai alat tradisional yang tersedia. Latar belakang Hannan sebagai penyuka musik menjadi bekal tersendiri.

“Saya itu dulu suka main gitar, suka ngamen bahkan. Mungkin itu yang mendasari warga sekitar sini agar saya bisa menciptakan musik dari alat tradisional,” jelasnya.

Dari tangan para pemuda Parteker, alat-alat sederhana itu kemudian dirangkai menjadi instrumen musik.

Musik tersebut semakin dikenal. Sejumlah organisasi mulai menggelar perlombaan, di antaranya Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), beberapa media massa, dan organisasi lainnya.

Sekumpulan anak muda yang mencintai musik tradisional itu kemudian diberi nama Generasi Muda Parteker (Gempar) oleh Hannan.

Pada 1986, nama tersebut berubah menjadi Karang Taruna. Namun, aktivitas kelompok itu kemudian berakhir dan sempat vakum hingga beberapa tahun.

Waktu berlalu. Musik yang pernah hidup di tengah masyarakat itu kembali menemukan napasnya pada 1999.

Saat itu, Pulau Madura mengalami pemadaman listrik selama sekitar tiga bulan. Di tengah gelapnya malam, masyarakat mencari cara untuk tetap berkegiatan sekaligus menjaga lingkungan dan hewan peliharaan mereka.

Dari Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, penggunaan alat-alat musik tradisional kembali berkembang.

Suara yang dahulu digunakan untuk membangunkan warga sahur kembali terdengar. Kali ini, bunyinya mulai dirangkai menjadi pertunjukan.

Hannan kemudian memanggil kembali teman-temannya yang pernah berkegiatan bersama pada 1984.

“Lalu saya panggil teman-teman saya di tahun 1984 itu dan saya ganti namanya menjadi reuni. Nah, baru di tanggal 7 bulan 7 tahun 1999 saya ganti lagi namanya,” ungkap Hannan.

Namun, perjalanan menuju nama Semut Ireng belum selesai. Hannan ingin nama kelompok musik itu bukan sekadar nama. Harus ada makna yang melekat di dalamnya.

Baca juga :  Keterbatasan Armada, Jenazah Bayi di Puskesmas Teja Terpaksa Diantar Pakai Ambulans Milik Lembaga Sosial

Semula muncul nama Bilis Celleng. Namun, nama tersebut dinilai sulit mendapatkan kepanjangan yang sesuai. Kemudian muncul nama Semut Celleng, tetapi kembali dirasa kurang pas. Hingga akhirnya pilihan jatuh pada nama Semut Ireng.

Nama itu memiliki kepanjangan Seni Musik Tradisional, Idaman Rakyat Seantero Negeri. Nama tersebut bertahan hingga sekarang.

Pada masa yang hampir bersamaan, istilah daul juga mulai dikenal. Musik yang sebelumnya identik dengan sebutan musik sahur itu kemudian disebut daul. Dari situlah istilah musik daul semakin melekat dalam kesenian tradisional Pamekasan.

Perlahan, kelompok-kelompok daul tumbuh di berbagai wilayah Pamekasan. Semut Ireng pun ikut tumbuh bersama zaman.

Dari awalnya hanya dimainkan sekitar 25 personel, kelompok tersebut terus berkembang. Saat tampil dengan posisi duduk, jumlah pemain sekitar 14 orang. Kini, ketika tampil dalam parade di jalan, personelnya bisa mencapai sekitar 50 orang.

“Dan dulu itu pertama kali main ada 25 personel, kalau main duduk ada 14 orang dan sekarang pas tampil di jalan itu ada 50 orang,” ujar Hannan.

Namun, bertambahnya zaman tidak membuat Semut Ireng meninggalkan akar tradisinya.

Alat musik tradisional tetap dipertahankan. Bagi Hannan, itulah identitas yang tidak boleh hilang.

Sebab, ketika musik tradisional mulai meninggalkan karakter dasarnya, yang tersisa mungkin hanya pertunjukan. Tetapi ketika akar budaya tetap dijaga, sebuah kesenian dapat membawa cerita tentang masyarakat yang melahirkannya.

Dari Kelurahan Parteker, suara musik itu kemudian berjalan semakin jauh. Bahkan hingga ke Istana Negara.

Daul Semut Ireng tercatat telah tiga kali tampil di Istana Negara dalam rentang 2007 hingga 2009. Salah satunya dalam agenda penyambutan Perdana Menteri Brunei Darussalam dan kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Baca juga :  Meski Keterbatasan Anggaran, SDN Gladak Anyar 4 Tetap Berprestasi

Bukan hanya Istana Negara. Daul Semut Ireng juga beberapa kali tampil di Jakarta Convention Center (JCC) dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“JCC itu kami juga sering, terus di TMII sering sekali. Alhamdulillah bisa dikenal sampai ke istana,” ujar Hannan dengan bangga.

Perjalanan itu menunjukkan satu hal: kesenian yang lahir dari kampung tidak harus berhenti di kampung. Ia bisa berjalan jauh ketika dirawat, dimainkan, dan diwariskan.

Kini, setelah musik daul ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB), kebanggaan Hannan terasa semakin lengkap.

Bagi dia, pengakuan tersebut bukan sekadar penghargaan administratif. Ada perjalanan panjang masyarakat Pamekasan yang ikut mendapatkan tempat di balik penetapan itu.

“Dan dengan ditetapkannya musik daul sebagai WBTB kemarin ini saya pribadi sangat bersyukur, terharu saya,” tandasnya.

Hannan berharap perjalanan daul tidak berhenti setelah mendapatkan pengakuan sebagai WBTB. Ia ingin musik daul terus berkembang, semakin maju, dikenal lebih luas, bahkan menembus panggung mancanegara.

Sebab, baginya, musik daul bukan hanya tentang bunyi. Di dalamnya ada ingatan tentang kampung, gotong royong, kreativitas anak muda, dan identitas Pamekasan yang terus dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari kentungan untuk membangunkan warga sahur, musik itu tumbuh menjadi kesenian. Dari Kelurahan Parteker, ia menempuh perjalanan hingga Istana Negara.

Dan kini, ketika zaman terus bergerak, Semut Ireng masih memilih untuk menjaga suara yang lahir dari akar sendiri. (*)

Berita Terkait

Tak Terima Dituding Seperti Kaum Nabi Luth, Warga Pamekasan Tempuh Jalur Hukum
Kemenbud Tetapkan Musik Daul sebagai Warisan Budaya Takbenda Milik Pamekasan
Harga Tembakau Turun, Wakil Ketua DPRD Pamekasan Pertanyakan Klaim Overstock Gudang
Razia Blok Hunian Lapas Narkotika Pamekasan, 13 Petugas dan 40 Warga Binaan Jalani Tes Urine
Pendapatan Naik Rp63,8 Miliar, Pemkab Pamekasan Ajukan Perubahan APBD 2026
Disdikbud Pamekasan Evaluasi Pengelolaan Dana BOS, Buntut Keluhan Wali Murid SDN Jambringin 2
Kemarau Panjang dan Sejumlah Desa Dilanda Kekeringan, Lapas Narkotika Pamekasan Gelar Shalat Istisqa
Front One Azana Style Pamekasan Bersih-bersih Masjid Al Mukhlisin, Dorong Gerakan Peduli Tempat Ibadah

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 09:32 WIB

Daul Semut Ireng Gelorakan Musik Tradisional Khas Pamekasan, Gaungnya Sampai ke Istana Negara

Selasa, 22 September 2026 - 09:18 WIB

Tak Terima Dituding Seperti Kaum Nabi Luth, Warga Pamekasan Tempuh Jalur Hukum

Selasa, 22 September 2026 - 08:03 WIB

Kemenbud Tetapkan Musik Daul sebagai Warisan Budaya Takbenda Milik Pamekasan

Selasa, 22 September 2026 - 05:02 WIB

Razia Blok Hunian Lapas Narkotika Pamekasan, 13 Petugas dan 40 Warga Binaan Jalani Tes Urine

Senin, 21 September 2026 - 11:20 WIB

Pendapatan Naik Rp63,8 Miliar, Pemkab Pamekasan Ajukan Perubahan APBD 2026

Berita Terbaru