Menjaga Peran Guru di Era Kecerdasan Buatan

- Jurnalis

Senin, 6 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ahmad Suhri, Wakil Sekretaris DPD Partai Gelora Pamekasan – Ketum PGMNI Pamekasan.

****

Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menjadi salah satu inovasi yang membawa perubahan paling signifikan.

AI kini mampu membantu menyusun materi pembelajaran, menjawab pertanyaan, menerjemahkan bahasa, membuat evaluasi, hingga memberikan rekomendasi belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Perubahan ini membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas pendidikan, sekaligus menghadirkan tantangan baru terhadap peran guru.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, muncul pertanyaan yang cukup mendasar: apakah AI akan menggantikan guru? Jawabannya adalah tidak. AI merupakan alat bantu yang sangat canggih, tetapi tidak memiliki dimensi kemanusiaan yang menjadi inti dari proses pendidikan.

Pendidikan bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, melainkan juga membentuk karakter, menanamkan nilai, membangun empati, dan mengembangkan kepribadian peserta didik. Peran-peran tersebut hanya dapat dijalankan oleh seorang pendidik.

Baca juga :  Reorientasi DBHCHT: Menjemput Pamekasan Berdaulat 2045

Guru memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar penyampai materi. Guru adalah pembimbing, motivator, fasilitator, sekaligus teladan bagi peserta didik. Hubungan emosional yang terjalin antara guru dan siswa menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat.

AI mampu memberikan jawaban yang cepat dan akurat, tetapi tidak mampu memahami kondisi psikologis peserta didik secara utuh ataupun memberikan keteladanan melalui sikap dan perilaku.

Oleh karena itu, kehadiran AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru dapat memanfaatkan AI untuk menyusun perangkat ajar, merancang media pembelajaran yang lebih menarik, melakukan analisis hasil belajar, serta menghemat waktu dalam pekerjaan administratif.

Dengan demikian, guru memiliki lebih banyak kesempatan untuk fokus pada pembinaan karakter, pendampingan belajar, dan penguatan kompetensi peserta didik.

Baca juga :  Mengapa Petani Tetap Miskin Ketika Produksi Meningkat?

Namun, pemanfaatan AI juga harus diimbangi dengan literasi digital dan etika yang kuat. Peserta didik perlu dibimbing agar tidak menjadikan AI sebagai sarana untuk melakukan plagiarisme, menyontek, atau menghindari proses berpikir kritis.

Sebaliknya, AI harus dimanfaatkan sebagai media untuk memperluas wawasan, mempercepat pencarian informasi, dan meningkatkan kreativitas. Dalam konteks ini, guru memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, kritis, dan beretika.

Selain itu, peningkatan kompetensi guru menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Guru perlu terus belajar, mengikuti pelatihan, dan mengembangkan kemampuan digital agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran akan menjadi salah satu indikator profesionalisme guru pada era digital. Guru yang mampu memanfaatkan AI secara tepat akan lebih mudah menciptakan pembelajaran yang inovatif, efektif, dan berpusat pada peserta didik.

Baca juga :  Mengapa Petani Tetap Miskin Ketika Produksi Meningkat?

Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas manusia.

AI hanyalah instrumen, sedangkan guru tetap menjadi aktor utama dalam membangun generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan berintegritas. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ruh pendidikan.

Karena itu, menjaga peran guru di era kecerdasan buatan bukan berarti menolak kemajuan teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tetap berada di bawah kendali nilai-nilai pendidikan.

Guru harus menjadi pengarah, pembimbing, sekaligus inspirator yang mampu mengantarkan peserta didik menghadapi masa depan dengan kompetensi, karakter, dan moral yang kuat. Di era AI, guru bukan kehilangan peran, tetapi justru dituntut menjadi lebih profesional, adaptif, dan visioner. (*)

Berita Terkait

Mengapa Petani Tetap Miskin Ketika Produksi Meningkat?
Reorientasi DBHCHT: Menjemput Pamekasan Berdaulat 2045

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 23:24 WIB

Menjaga Peran Guru di Era Kecerdasan Buatan

Kamis, 25 Juni 2026 - 02:32 WIB

Mengapa Petani Tetap Miskin Ketika Produksi Meningkat?

Kamis, 18 Juni 2026 - 02:29 WIB

Reorientasi DBHCHT: Menjemput Pamekasan Berdaulat 2045

Berita Terbaru

MANIFESTO GELORA PAMEKASAN

Menjaga Peran Guru di Era Kecerdasan Buatan

Senin, 6 Jul 2026 - 23:24 WIB

Plt Direktur RSUD Smart Pamekasan dr. Syaiful Hidayat, Sp.P saat ditemui di ruang kerjanya (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

Pamekasan

Cathlab RSUD SMART Pamekasan Sudah Tercover BPJS Kesehatan

Senin, 6 Jul 2026 - 10:53 WIB