Migas Madura, Potensi dalam Kebiri Regulasi

- Jurnalis

Selasa, 21 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura.

—–

MADURA adalah fragmen geografis yang kaya sumber daya minyak dan gas bumi (migas). Dari ujung Bangkalan hingga Sumenep, kawasan lepas pantai menjadi wilayah operasi sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang berkontribusi pada produksi hulu migas Jawa Timur.

Namun ironisnya, keberadaan sumber daya itu belum bermetamorfosa menjadi peningkatan kesejahteraan yang signifikan bagi masyarakat. Fakta empiris menunjukkan disparitas tajam.

Empat kabupaten di Madura justru masuk kategori daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi meski berada di kawasan penghasil migas.

Penyebab utamanya tersembunyi di lembaran hukum negara. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah memindahkan kewenangan pengelolaan laut dari kabupaten ke provinsi dan pusat.

Madura kehilangan hak administratif untuk disebut daerah penghasil migas. Akibatnya, daerah ini hanya mendapat sebagian kecil dari hasil kekayaan alam yang diambil dari perut bumi. Sungguh, ironi yang lahir dari kebijakan yang timpang.

Baca juga :  Jurus Jitu Akhmad Ma'ruf Wujudkan Madura Provinsi

Migas diambil, tapi manfaatnya tidak kembali ke masyarakat. Pemerintah kabupaten hanya menjadi penonton. Perusahaan besar bekerja di bawah izin pusat, dan keuntungan mengalir keluar pulau.

Tidak ada industri pengolahan besar di Madura. Tidak ada kilang yang berdiri gagah di tepi pantai. Tidak ada hilir yang menciptakan lapangan kerja.

Semua aktivitas bernilai tinggi berlangsung di luar, sementara Madura hanya mengirimkan bahan mentah.

Akibatnya jelas. Rakyat Madura tidak menikmati hasil kekayaannya. Nelayan kehilangan ruang tangkap karena laut berubah menjadi zona industri. Ekosistem pesisir terganggu. Namun, kompensasi sosial dan ekonomi nyaris tak terlihat.

Dalam situasi seperti ini, keadilan bukan lagi soal moral, tetapi soal kebijakan. Negara seharusnya hadir bukan hanya untuk mengatur eksploitasi, tetapi untuk menjamin pemerataan manfaat.

Baca juga :  Belajar Terukur dari Mas Ipin

Pemerintah pusat perlu meninjau ulang formula pembagian hasil migas agar kabupaten pesisir yang terdampak ikut menikmati manfaatnya.

Bukan semata berdasar batas administratif, melainkan juga berdasarkan dampak ekologis dan sosial yang mereka tanggung setiap hari.

Madura juga tidak boleh terus diam. Pemerintah daerah mesti berani memperjuangkan haknya di meja kebijakan. Jangan hanya mengeluh tentang ketidakadilan, tapi dorong lahirnya skema kompensasi lokal.

Perusahaan migas pun perlu membuka mata. Tanggung jawab sosial tidak cukup diukur dari bantuan tempat sampah atau jaket pelampung.

Saat ini yang dibutuhkan adalah investasi nyata. Pelatihan tenaga kerja lokal, pemberdayaan nelayan, dan pembangunan infrastruktur dasar.

Lebih dari itu, Madura harus berpikir jangka panjang. Jika belum ada kilang besar, bangunlah fasilitas pengolahan kecil yang mampu menampung sebagian produksi lokal. Di situlah nilai tambah bisa lahir. Di situlah peluang kerja bisa tumbuh.

Baca juga :  Pantas Ingin Pisah dari Jawa Timur, Ternyata Madura Pernah Jadi Negara, Begini Sejarahnya

Kekayaan alam bukan takdir, tetapi amanah. Migas di perairan Madura seharusnya menjadi jalan pembebasan, bukan jebakan kemiskinan yang terus diwariskan.

Ketika laut terus dieksplorasi, rakyat berhak menuntut kesejahteraan yang setara. Karena laut tidak hanya menyimpan minyak, tetapi juga harapan.

Madura harus berhenti menjadi penonton di rumah sendiri. Sudah cukup lama kekayaan ini mengalir tanpa makna.

Kini waktunya memastikan setiap tetes migas yang diambil dari perut laut membawa kembali kesejahteraan ke darat.

Sebab, keadilan energi bukanlah slogan, melainkan janji yang seharusnya bisa dirasakan oleh mereka yang paling dekat dengan sumbernya. Sekali lagi, maaf. (*)

——-

Penulis juga Ketua Umum Ikatan Alumni Ilmu Kelautan, Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Berita Terkait

Gus Yahya dan Lompatan Besar Nahdlatul Ulama
Tentang Cinta, Iman, dan Qurban
Urgensi PLTMG Saronggi
PLTG Madura dan Masa Depan yang Lebih Terang
Energi Mineral Langgeng dan Janji Manis Sang Jenderal
15 Tahun Menanti Eksplorasi Gas Saronggi
Laut Madura di Pusaran Denyut Ekonomi Global
Andai Semua Boeya MH. Said Abdullah 

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 01:11 WIB

Gus Yahya dan Lompatan Besar Nahdlatul Ulama

Rabu, 27 Mei 2026 - 02:39 WIB

Tentang Cinta, Iman, dan Qurban

Selasa, 19 Mei 2026 - 02:00 WIB

Urgensi PLTMG Saronggi

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:27 WIB

PLTG Madura dan Masa Depan yang Lebih Terang

Kamis, 30 April 2026 - 02:07 WIB

Energi Mineral Langgeng dan Janji Manis Sang Jenderal

Berita Terbaru