Kisah Satrio, Bocah Kelas 6 SD di Pamekasan Nyambi Jualan Kacang Rebus Demi Meringankan Beban Orang Tua

- Jurnalis

Jumat, 24 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Satrio Samudro (13), asal Kelurahan Bugih, saat berjualan di area Pendopo Ronggosukowati Pamekasan. (KLIKMADURA)

Satrio Samudro (13), asal Kelurahan Bugih, saat berjualan di area Pendopo Ronggosukowati Pamekasan. (KLIKMADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Di usia ketika sebagian besar anak seusianya menghabiskan waktu untuk bermain sepulang sekolah, Satrio Samudro justru memilih jalan yang berbeda.

Bocah 13 tahun asal Kelurahan Bugih, Kabupaten Pamekasan itu lebih akrab dengan uap panas kacang rebus dan telur puyuh rebus daripada permainan yang lazim dinikmati anak-anak seusianya.

Setiap hari, ia menjalani dua peran sekaligus. Pagi hari, Satrio adalah siswa kelas VI SD Negeri Laden 3 yang tekun belajar di ruang kelas. Namun ketika pelajaran usai, ia menjelma menjadi pedagang kecil yang menawarkan dagangannya kepada siapa saja yang bersedia membeli. Di balik senyumnya yang polos, tersimpan tekad besar yang bahkan tidak dimiliki banyak orang dewasa.

Usaha kecil itu telah ia jalani selama kurang dari satu tahun. Bukan karena diperintah, bukan pula karena dipaksa oleh kedua orang tuanya. Keputusan itu lahir dari hati seorang anak yang terlalu dini memahami kerasnya kehidupan.

Baca juga :  Sempat Hilang Usai Perahu yang Ditumpangi Tenggelam, Remaja Asal Kecamatan Tlanakan Ditemukan Tak Bernyawa

Satrio melihat sendiri bagaimana ayahnya setiap hari berjuang mencari barang-barang rongsokan demi membawa pulang sedikit penghasilan. Ia juga menyaksikan ibunya yang hanya menjadi ibu rumah tangga berusaha mengatur setiap rupiah agar dapur tetap mengepul. Pemandangan itulah yang diam-diam mengetuk nuraninya.

Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, ia tidak ingin hanya menjadi penonton atas perjuangan orang tuanya. Ia ingin ikut memikul beban itu, meski pundaknya masih kecil.

Setiap lembar uang hasil berjualan bukan sekadar keuntungan. Di baliknya ada harapan, ada doa, dan ada cinta seorang anak kepada keluarganya. Dalam sehari, Satrio bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Uang itu tidak ia gunakan untuk memuaskan keinginan pribadinya.

Baca juga :  Pemkab Pamekasan Nunggak Pembayaran BPJS Kesehatan Rp 41 Miliar, Pelayanan UHC Terancam Dihentikan!

“Saya ingin membantu orang tua. Hasil jualan saya kasih ke orang tua, sebagian untuk kebutuhan sekolah,” kata Satrio.

Kalimat sederhana itu terdengar begitu singkat. Namun di dalamnya tersimpan makna yang begitu dalam. Di saat banyak anak seusianya meminta uang kepada orang tua, Satrio justru menyerahkan hasil jerih payahnya kepada mereka.

Meski harus membagi waktu antara belajar dan berjualan, semangatnya untuk mengenyam pendidikan tidak pernah padam. Baginya, sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan menuju harapan yang lebih baik. Sementara berjualan adalah ikhtiar agar mimpi itu tetap bisa diraih tanpa menambah berat langkah kedua orang tuanya.

Baca juga :  Penerimaan DBHCHT Pamekasan 2026 Menyusut, Total Hanya Sekitar Rp59,4 Miliar

Ia tidak pernah merasa rendah karena berdagang. Sebaliknya, ia menemukan kebanggaan dalam setiap perjuangan yang dijalaninya.

“Saya jualan karena saya ingin terus sekolah dan membantu mengurangi beban orang tua. Saya tidak malu jualan, justru saya bangga bisa membantu keluarga,” ucapnya.

Kisah Satrio mengingatkan bahwa kebesaran seseorang tidak selalu diukur dari usia atau harta yang dimiliki. Terkadang, justru lahir dari hati seorang anak yang memahami arti pengorbanan lebih cepat daripada waktunya.

Di balik keranjang berisi kacang rebus dan telur puyuh yang ia bawa setiap hari, tersimpan mimpi sederhana. Yakni, tetap bersekolah, membuat orang tua tersenyum, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang. (ibl/nda)

Berita Terkait

Tiga Pelaku Pembunuhan Divonis Lebih Ringan dari Tuntutan, Keluarga Korban Ngamuk di PN Pamekasan
Dinkes Pamekasan Gelar Program Grant Immunization, Target Capaian Imunisasi 100 Persen
38 Kasus HIV Ditemukan di Pamekasan, Pengobatan ARV Hanya Tersedia di Dua Puskesmas
Musholla Milik Lansia di Kecamatan Waru Hangus Terbakar, Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran
Penanganan Dugaan Perusakan Mangrove Jalan di Tempat, PPLH Madura Raya Pertanyakan Keseriusan Polres Pamekasan
Jalin Kemitraan dengan 18 Desa, UIM Perkuat Program Desa Binaan Berkelanjutan
Imigrasi Pamekasan Gencarkan Edukasi PMI Prosedural, Tekankan Jalur Resmi Lebih Aman dan Banyak Manfaat
Triwulan Kedua Kasus HIV/AIDS Tembus Puluhan Penderita, Hubungan Sesama Jenis Menjadi Penyebab Utama

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:59 WIB

Kisah Satrio, Bocah Kelas 6 SD di Pamekasan Nyambi Jualan Kacang Rebus Demi Meringankan Beban Orang Tua

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:55 WIB

Dinkes Pamekasan Gelar Program Grant Immunization, Target Capaian Imunisasi 100 Persen

Kamis, 23 Juli 2026 - 00:09 WIB

38 Kasus HIV Ditemukan di Pamekasan, Pengobatan ARV Hanya Tersedia di Dua Puskesmas

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:37 WIB

Musholla Milik Lansia di Kecamatan Waru Hangus Terbakar, Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:31 WIB

Penanganan Dugaan Perusakan Mangrove Jalan di Tempat, PPLH Madura Raya Pertanyakan Keseriusan Polres Pamekasan

Berita Terbaru