Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura.
—–
11 Januari 2017. Hari itu saya menapakkan kaki pertama sebagai jurnalis di Kota Gerbang Salam. Tanpa teman. Tanpa kenalan. Hanya bermodal status profesi wartawan, saya menyambung persekawanan.
Orang pertama yang saya temui adalah Miftahul Arifin. Wartawan JTV Madura. Rambutnya gondrong, diikat rapi ke belakang. Penampilannya mengingatkan pada jurnalis-jurnalis kota besar.
Belakangan saya tahu, ia punya sapaan khas: Ipin Zoom-in. Julukan yang lahir dari kedekatannya dengan kamera—dan mungkin, dengan sorotan.
Nyaris setiap hari kami turun liputan bersama. Kedekatan itu kian menguat ketika kami sadar punya rumah ideologi yang sama: PMII. Dari situ, persaudaraan tumbuh bukan hanya karena profesi, tapi juga karena sejarah perjuangan.
Hingga suatu pagi, Mas Ipin berkata ia tak bisa ikut liputan. Ada pertemuan dengan seorang petinggi media. Saya kira urusan berita besar. Ternyata, tawaran ganti seragam. Dari jurnalis televisi ke jurnalis koran.
Dalam hati, saya menilai keputusannya keliru. JTV adalah media raksasa. Pindah ke perusahaan cetak yang masih belia terasa seperti mundur selangkah. Tetapi, hidup kerap mengajarkan bahwa “mundur” tidak selalu berarti kalah. Kadang, ia justru jalan pintas menuju lompatan.
Awalnya, Mas Ipin memang gamang. Dari video ke tulisan. Dari visual ke narasi. Beberapa kali ia meminta bantuan. Berita yang saya tulis, ia edit, lalu dikirim ke redaksi. Siapa sangka, dari kebiasaan itu lahir keahlian, menjadi editor.
Pierre Bourdieu menyebutnya habitus—kebiasaan yang berulang lalu membentuk kompetensi. Dalam kasus Mas Ipin, habitus sederhana mengedit justru mengubah jalan kariernya. Tak lama, ia diangkat redaktur. Lalu kepala biro.
Saya masih wartawan lapangan. Baru setelah itu menyusul jadi redaktur. Tapi tetap saja: ia selalu setahap di depan. Bahkan saat kami akhirnya sama-sama jadi kepala biro, pola itu tak berubah. Ia lebih dulu. Lebih presisi.
Hidup Mas Ipin seolah menjawab teori Aristoteles tentang mesotes: jalan tengah yang terukur. Tidak tergesa-gesa, tidak pula terlampau lambat. Setiap keputusannya bukan hanya berani, tetapi juga tepat.
Sampai akhirnya, saya memutuskan hengkang dari media tempat saya ditempa. Beberapa waktu kemudian, Mas Ipin juga mengambil langkah yang sama—dengan waktu yang berbeda. Dan, seperti biasa, ia melangkah lebih jauh. Ia membangun medianya sendiri. Namanya: TERUKUR.ID.
Nama itu bukan sekadar label. Ia adalah cermin hidup pemiliknya. Terukur dalam langkah. Terukur dalam keputusan. Terukur dalam membangun jejak.
Dari Mas Ipin saya belajar: hidup bukan soal siapa paling cepat. Tapi siapa paling tepat. Selamat, Mas Ipin. Anda tetap sama: penuh kejutan. Dan selalu terukur. (*)














