Kasus Dugaan Penyimpangan Dana BOS SMKN 1 Sampang Mandek, Kinerja Kejaksaan Dipertanyakan

- Jurnalis

Sabtu, 13 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang. (IBNU ANSORI / KLIKMADURA)

Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang. (IBNU ANSORI / KLIKMADURA)

SAMPANG || KLIKMADURA – Kasus dugaan penyimpangan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan mark up data siswa di SMKN 1 Sampang hingga kini masih mandek.

Padahal, laporan resmi sudah masuk ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang sejak Rabu, 7 Mei 2025 lalu. Lebih dari enam bulan berlalu, publik hanya disuguhi janji tanpa ada kepastian penindakan hukum.

Kasi Intel Kejari Sampang, Diecky E.K. Andriansyah, ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan kasus tersebut.

Sikap bungkam tersebut memantik kecurigaan publik bahwa tidak ada kerseriusan dari korps adhyaksa dalam menangani kasus dugaan rasuah itu.

Baca juga :  Terkait Bosdamadin Rp 7,3 Miliar Ngendap di Kasda, DPRD Pamekasan: Disdikbud Harus Jemput Bola

Sorotan keras datang dari Lembaga Pemuda Peduli Desa (PAPEDA). Ketua Umum sekaligus praktisi hukum, Badrus Sholeh Ruddin, SH, menegaskan kinerja Kejari Sampang patut dipertanyakan.

“Masyarakat tidak butuh janji-janji atau sekadar formalitas pelimpahan. Yang dibutuhkan adalah kepastian hukum. Kalau memang ada bukti penyimpangan, kenapa lambat? Kalau tidak ada, kenapa tidak diumumkan secara terang? Jangan sampai publik menganggap hukum bisa dipermainkan,” ujarnya, Sabtu (13/9/2025).

Menurut Badrus, dugaan mark up data siswa dan penyalahgunaan Dana BOS bukan sekadar pelanggaran administrasi. Melainkan, berpotensi merugikan keuangan negara sekaligus mencederai kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan.

Baca juga :  Ustad Cabuli Bocah 11 Tahun di Panti Asuhan Pamekasan Berdalih Bangunkan Subuh

Ia menegaskan, mandeknya kasus tersebut bisa menimbulkan persepsi buruk terhadap integritas penegakan hukum di Kabupaten Sampang.

“Transparansi adalah harga mati. Kalau Kejaksaan diam saja, masyarakat bisa curiga ada permainan. Ingat, pendidikan adalah hak anak bangsa. Jangan dikorbankan hanya karena ada oknum yang bermain anggaran,” tegasnya. (ibn/nda)

Berita Terkait

Iming-iming Kerja ke Malaysia Berujung Petaka, Belasan Warga Sampang Rugi Ratusan Juta Rupiah
27 Orang Diduga Lakukan Kekerasan Seksual terhadap Anak Usia 15 Tahun, Polres Sampang Tangkap 12 Terduga Pelaku
Jelang Wajib Halal Oktober, Pemkab Sampang Siapkan Perbup Industri Halal, Ayam Potong Jadi Prioritas
Heboh Isu Pengadaan 14 Mobil Puskesmas Rp434 Juta per Unit, Dinkes Sampang Pastikan Tidak Benar
Kurang dari 12 Jam, Pembacok Paman dan Adik Kandung di Sampang Dibekuk Polisi
Pemkab Sampang Gelar Nobar Piala Dunia 2026, UMKM Kebanjiran Pembeli
PN Sampang Tolak Penundaan, Eksekusi Rumah Tetap Berjalan Meski Perkara Pidana Masih Berproses
Guru dari Belasan Sekolah Adukan Tindakan Intimidasi Oknum LSM ke Bakesbangpol Sampang

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:48 WIB

Iming-iming Kerja ke Malaysia Berujung Petaka, Belasan Warga Sampang Rugi Ratusan Juta Rupiah

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:41 WIB

27 Orang Diduga Lakukan Kekerasan Seksual terhadap Anak Usia 15 Tahun, Polres Sampang Tangkap 12 Terduga Pelaku

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:07 WIB

Jelang Wajib Halal Oktober, Pemkab Sampang Siapkan Perbup Industri Halal, Ayam Potong Jadi Prioritas

Kamis, 9 Juli 2026 - 06:25 WIB

Heboh Isu Pengadaan 14 Mobil Puskesmas Rp434 Juta per Unit, Dinkes Sampang Pastikan Tidak Benar

Rabu, 8 Juli 2026 - 06:27 WIB

Kurang dari 12 Jam, Pembacok Paman dan Adik Kandung di Sampang Dibekuk Polisi

Berita Terbaru