Puisi Tuhan, Mawar, dan Musang: Kado BH. Riyanto untuk Diri Sendiri dan Kehidupan

- Jurnalis

Kamis, 29 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sastrawan BH. Riyanto menyerahkan buku puisi hasil karyanya kepada Pemred Klik Madura, Prengki Wirananda. (IMDAD FAIHA ILA SABILA / KLIKMADURA)

Sastrawan BH. Riyanto menyerahkan buku puisi hasil karyanya kepada Pemred Klik Madura, Prengki Wirananda. (IMDAD FAIHA ILA SABILA / KLIKMADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Kantor Klik Madura kedatangan tamu spesial. Dia adalah BH Riyanto, seniman sekaligus sastrawan yang selalu menginspirasi anak-anak muda melalui karya, pemikiran, dan kegigihannya merawat kata-kata di tengah riuh kehidupan.

Kedatangannya kali ini membawa cerita tentang sebuah buku puisi yang lahir dari perenungan panjang, pengalaman hidup, serta kegelisahan membaca zaman. Buku itu berjudul Tuhan, Mawar, dan Musang, sebuah kompilasi tiga kumpulan puisi yang merangkum perjalanan batin, romantika cinta, hingga kritik sosial-politik yang disampaikan melalui metafora.

Bagi BH. Riyanto, buku tersebut bukan sekadar kumpulan karya yang dihimpun menjadi satu. Lebih dari itu, buku ini merupakan hadiah istimewa untuk dirinya sendiri, bertepatan dengan hari ulang tahunnya pada 15 Oktober.

“Ini adalah salah satu bentuk kado dari saya kepada diri sendiri,” tuturnya.

Oktober memang memiliki makna tersendiri bagi Riyanto. Selain menjadi bulan kelahirannya, Oktober juga lekat dengan perayaan kebudayaan dan Bulan Bahasa, sebuah momentum yang seolah mempertemukan perjalanan personalnya dengan kecintaan terhadap dunia sastra.

Namun, hadiah itu tidak berhenti sebagai perayaan bagi diri sendiri. Riyanto berharap, puisi-puisi yang telah dikumpulkan tersebut juga bisa menjadi cermin bagi orang lain untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

“Lebih kepada saya sendiri, tapi pada akhirnya meluas kepada diri-diri yang lain,” ungkapnya.

Tuhan, Mawar, dan Musang bukan judul yang dipilih tanpa pertimbangan. Ketiganya menjadi pintu masuk untuk menyelami tiga wilayah kehidupan yang berbeda, tetapi saling berkelindan antara religiositas, romantika cinta, dan kritik sosial-politik.

Tuhan menjadi ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Di dalamnya, Riyanto merawat pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang tauhid, keyakinan, dan pencarian makna hidup.

Puisi-puisi bertema ketuhanan mengajak pembaca menengok ke dalam diri. Sebab, perjalanan spiritual tidak selalu berlangsung di tempat-tempat yang sunyi, tetapi juga di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang kerap membuat manusia kehilangan arah.

Baca juga :  Kumpulan Puisi Fardan,d 

Sementara itu, mawar menjadi simbol romantika. Bunga yang identik dengan keindahan dan cinta tersebut mewakili perasaan, kerinduan, serta pengalaman emosional manusia dalam menjalin hubungan dengan sesamanya.

Melalui tema ini, BH. Riyanto memberi ruang bagi sisi lembut kehidupan. Di antara kritik, kegelisahan, dan pertanyaan tentang dunia, cinta tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman manusia.

Musang dalam buku ini bukan sekadar binatang yang dikenal masyarakat desa. Riyanto menjadikannya metafora untuk membaca perilaku sosial-politik, terutama mereka yang gemar mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Gagasan itu berangkat dari pengalaman sederhana. Ia pernah kehilangan ayam karena dimakan musang, sebuah kejadian yang kemudian membawanya pada perenungan lebih luas tentang pencurian, kekuasaan, dan perilaku manusia.

“Saya pernah kehilangan ayam saya dimakan musang. Dari situ, saya teringat kepada musang-musang yang lain yang mencuri tidak hanya pada malam hari. Saat terang benderang pun, bahkan siang bolong, bisa mencuri apa pun,” katanya.

Dari pengalaman itu, musang menjelma menjadi simbol kritik terhadap perilaku sebagian pejabat dan politikus yang menyalahgunakan kepercayaan. Metafora tersebut menyentuh kehidupan politik, termasuk perilaku calon anggota legislatif dan mereka yang duduk di kursi kekuasaan.

BH. Riyanto tidak sekadar bercerita tentang seekor musang yang mencuri ayam. Ia sedang mengajak pembaca memikirkan pencurian dalam pengertian yang lebih luas. Yakni, ketika hak masyarakat dirampas, amanah dikhianati, dan kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi.

Dengan bahasa puisi, kritik itu disampaikan melalui simbol dan perumpamaan. Pembaca diberi ruang untuk menafsirkan sendiri siapa musang yang dimaksud dan bagaimana wajahnya dalam kehidupan sehari-hari.

Buku Tuhan, Mawar, dan Musang juga menjadi ikhtiar Riyanto untuk merawat perjalanan kreatifnya. Sejumlah puisi yang pernah diterbitkan dalam buku-buku sebelumnya kembali dihimpun, kemudian dipadukan dengan karya-karya baru yang memiliki kedekatan tema.

Baca juga :  Mengulas Buku Laut Bercerita Di Pulau Garam, Tiga Gangguan Psikologis Dialami Tokoh Novel

Baginya, pengumpulan tersebut penting agar karya-karya yang lahir pada waktu berbeda dapat terdokumentasi dengan lebih baik. Puisi-puisi itu tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menemukan ruang yang lebih utuh dalam tiga tema besar.

Proses tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana seorang penyair tumbuh bersama pengalaman dan zamannya. Karya lama menyimpan jejak pemikiran pada masa lalu, sementara puisi baru merekam kegelisahan yang terus berkembang.

Di tangan BH. Riyanto, keduanya bertemu dalam satu buku yang menyatukan pencarian spiritual, pengalaman cinta, dan kepekaan terhadap persoalan sosial-politik.

Meski demikian, ia tidak menganggap buku ini sebagai akhir dari perjalanan kreatifnya. Sebaliknya, tiga tema tersebut justru menjadi fondasi untuk kemungkinan-kemungkinan karya berikutnya.

“Sepertinya pada tahun ini, ini yang akan lahir. Sudah ada fondasinya untuk tema berikutnya,” ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa menulis baginya bukan pekerjaan yang selesai ketika sebuah buku diterbitkan. Selalu ada ruang untuk tumbuh, menggali pengalaman, dan menemukan cara baru dalam memandang kehidupan.

Di tengah perjalanan waktu, Riyanto masih terus produktif menulis. Ketekunan tersebut tidak semata-mata lahir dari inspirasi yang datang tiba-tiba, tetapi juga dari kebiasaan menjaga disiplin.

Ia percaya, kehidupan pada dasarnya adalah gerak yang tidak pernah berhenti. Manusia terus berproses, belajar, dan menemukan sesuatu yang baru dari pengalaman yang dilaluinya.

“Salah satu ciri makhluk hidup itu adalah yang terus bergerak, berproses,” katanya.

Bagi seorang seniman dan sastrawan, proses itu menemukan bentuknya melalui kesediaan untuk terus berkarya. Inspirasi mungkin datang dari peristiwa besar, tetapi bisa pula berawal dari hal sederhana. Di antaranya, kehilangan seekor ayam, jatuh cinta, atau pertanyaan yang muncul ketika seseorang merenungkan hubungan dengan Tuhan.

Baca juga :  Coretan Joni Efendy

Semua pengalaman tersebut dapat menjadi bahan bakar bagi puisi. Yang membedakan adalah kepekaan untuk menangkap makna di balik peristiwa, lalu mengolahnya menjadi bahasa yang mampu menyentuh pembaca.

Konsistensi itulah yang membuat Riyanto terus menjaga hubungannya dengan dunia sastra. Ia tidak menunggu zaman menjadi tenang untuk menulis, sebab kehidupan selalu menawarkan persoalan yang layak direnungkan.

Dalam salah satu penggalan puisi bertema ketuhanan yang dibacakan saat wawancara, Riyanto menulis pertanyaan yang sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna.

“Tuhan, aku mencari-Mu. Di mana, di mana itu? Di padang kehidupan, di gua-gua duniawi,” katanya.

Pertanyaan tersebut menggambarkan manusia yang terus mencari Tuhan di tengah luasnya kehidupan dan beragam godaan duniawi. Pencarian itu tidak selalu menghadirkan jawaban seketika, tetapi justru membuka ruang bagi perenungan yang lebih mendalam.

Di situlah puisi menemukan kekuatannya. Ia tidak harus selalu memberikan jawaban, karena terkadang sebuah pertanyaan yang jujur mampu membawa manusia lebih dekat kepada pemahaman tentang dirinya sendiri.

Dalam Tuhan, Mawar, dan Musang, pencarian spiritual berdampingan dengan cinta dan kritik sosial. Ketiganya menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah berdiri dalam satu warna, melainkan tersusun dari keyakinan, perasaan, serta pergulatan menghadapi realitas.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya kado ulang tahun seorang penyair untuk dirinya sendiri. Ia juga menjadi cara BH. Riyanto merawat ingatan, merekam kegelisahan, dan membagikan perenungan kepada khalayak.

Sebab, melalui Tuhan, manusia belajar mencari makna. Melalui mawar, manusia mengenali cinta. Dan melalui musang, manusia diajak menengok sisi kehidupan yang terkadang lebih pandai bersembunyi daripada mengakui kesalahan.

Di antara ketiganya, BH. Riyanto terus menulis dan berproses. Merawat kata-kata, menjaga kegelisahan tetap hidup, dan menjadikan puisi sebagai jalan untuk membaca manusia serta dunia yang tak pernah selesai ditafsirkan. (nda)

Berita Terkait

Coretan Joni Efendy
Puisi-puisi Sultan Musa
Mengulas Buku Laut Bercerita Di Pulau Garam, Tiga Gangguan Psikologis Dialami Tokoh Novel
Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy
Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”
Daun-Daun yang Gugur dari Hati BH. Riyanto
Makna Cinta
Belajar Tulus dari Hati Suhita

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 04:21 WIB

Puisi Tuhan, Mawar, dan Musang: Kado BH. Riyanto untuk Diri Sendiri dan Kehidupan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:25 WIB

Coretan Joni Efendy

Sabtu, 18 Juli 2026 - 07:14 WIB

Puisi-puisi Sultan Musa

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:51 WIB

Mengulas Buku Laut Bercerita Di Pulau Garam, Tiga Gangguan Psikologis Dialami Tokoh Novel

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:04 WIB

Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy

Berita Terbaru