BANGKALAN || KLIKMADURA – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Bangkalan dilakukan melalui pemberdayaan perempuan berbasis keluarga. Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Noor Huda Mustofa membentuk Sekolah Perempuan Ratho Ebhu di Desa Pamorah, Kecamatan Tragah, sebagai wadah edukasi kesehatan untuk meningkatkan kualitas ibu dan keluarga.
Program bertajuk Sekoper Ratho Ebhu (Sekolah Perempuan Ratho Ebhu): Upaya Pemberdayaan Perempuan dalam Pencegahan Stunting Berbasis Family Center Nursing di Desa Pamorah, Kecamatan Tragah, Bangkalan tersebut menjadi sekolah perempuan pertama di desa setempat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah pengabdian kepada masyarakat yang didanai melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Program tersebut dipimpin Luluk Fauziyah Januarti, S.Kep., Ns., M.Kep., bersama anggota tim Nisfil Mufidah, S.Kep., Ns., M.Kep., dan Heni Ekawati, S.Kep., Ns., M.Kep.

Pelaksanaannya melibatkan sejumlah mitra lintas sektor, mulai dari dinas yang membidangi keluarga berencana, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, Dinas Kesehatan, DPC FPPI Kabupaten Bangkalan, Kecamatan Tragah, Puskesmas Tragah, hingga Pemerintah Desa Pamorah.
Kepala Desa Pamorah, Moh. Zairi, S.H., menyambut positif pembentukan Sekolah Perempuan Ratho Ebhu tersebut. Menurutnya, program itu penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mempersiapkan generasi mendatang agar tumbuh sehat dan terbebas dari stunting.
“Kegiatan ini sangat penting bagi desa kami demi terciptanya generasi yang berkualitas dan terbebas dari stunting,” ungkap Moh. Zairi dalam sambutannya.
Dukungan serupa disampaikan Kepala Puskesmas Tragah, Vivin, yang memaparkan perkembangan angka stunting di Desa Pamorah. Ia menyebutkan, jumlah anak yang mengalami stunting tercatat sebanyak 24 anak pada 2022, kemudian turun menjadi 11 anak berdasarkan data per Agustus yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
“Saya yakin dengan adanya kegiatan ini, Desa Pamorah pada tahun 2024 akan bebas dari stunting,” ungkap Vivin.
Selain pemerintah desa dan tenaga kesehatan, kegiatan tersebut turut dihadiri Zainab Zuraidah dari Forum Pemberdayaan Perempuan. Ia hadir sebagai pemateri sekaligus memberikan apresiasi terhadap inisiatif pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan di Desa Pamorah.
Melalui Sekolah Perempuan Ratho Ebhu, masyarakat diharapkan memperoleh pengetahuan kesehatan yang lebih baik dan mampu menerapkannya dalam kehidupan keluarga. Program ini juga diarahkan untuk membangun perempuan yang cerdas, mandiri, dan terampil dalam menjaga kesehatan diri, anak, serta lingkungan keluarga.
Pendekatan Family Center Nursing atau keperawatan berpusat pada keluarga menjadi landasan program dalam mendorong keterlibatan keluarga dalam upaya pencegahan stunting.
Dengan peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku kesehatan, perempuan diharapkan memiliki kapasitas lebih kuat untuk mengenali risiko stunting serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atas dukungan pendanaan program tersebut.
Mereka berharap Sekolah Perempuan Ratho Ebhu dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Madura untuk mengembangkan program serupa demi meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan menekan angka stunting.
Keberadaan sekolah perempuan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi, tetapi berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, cita-cita mewujudkan Madura yang lebih sehat dan bebas stunting diharapkan semakin mendekati kenyataan. (nda)














