Tekan Stunting, Universitas Noor Huda Mustofa Bentuk Sekolah Perempuan Pertama di Desa Pamorah Bangkalan

- Jurnalis

Kamis, 29 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tokoh Perempuan Bangkalan, Zaenab Zuraidah bersama para tokoh meluncurkan program Sekolah Perempuan

Tokoh Perempuan Bangkalan, Zaenab Zuraidah bersama para tokoh meluncurkan program Sekolah Perempuan "Rato Ebhu". (KLIKMADURA)

BANGKALAN || KLIKMADURA – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Bangkalan dilakukan melalui pemberdayaan perempuan berbasis keluarga. Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Noor Huda Mustofa membentuk Sekolah Perempuan Ratho Ebhu di Desa Pamorah, Kecamatan Tragah, sebagai wadah edukasi kesehatan untuk meningkatkan kualitas ibu dan keluarga.

Program bertajuk Sekoper Ratho Ebhu (Sekolah Perempuan Ratho Ebhu): Upaya Pemberdayaan Perempuan dalam Pencegahan Stunting Berbasis Family Center Nursing di Desa Pamorah, Kecamatan Tragah, Bangkalan tersebut menjadi sekolah perempuan pertama di desa setempat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah pengabdian kepada masyarakat yang didanai melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Program tersebut dipimpin Luluk Fauziyah Januarti, S.Kep., Ns., M.Kep., bersama anggota tim Nisfil Mufidah, S.Kep., Ns., M.Kep., dan Heni Ekawati, S.Kep., Ns., M.Kep.

Baca juga :  BEM KM UTM Gelar Mimbar Bebas, Singgung Komersialisasi Pendidikan
Puluhan peserta Sekolah Perempuan “Rato Ebhu” foto bersama. (KLIKMADURA)

Pelaksanaannya melibatkan sejumlah mitra lintas sektor, mulai dari dinas yang membidangi keluarga berencana, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, Dinas Kesehatan, DPC FPPI Kabupaten Bangkalan, Kecamatan Tragah, Puskesmas Tragah, hingga Pemerintah Desa Pamorah.

Kepala Desa Pamorah, Moh. Zairi, S.H., menyambut positif pembentukan Sekolah Perempuan Ratho Ebhu tersebut. Menurutnya, program itu penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mempersiapkan generasi mendatang agar tumbuh sehat dan terbebas dari stunting.

“Kegiatan ini sangat penting bagi desa kami demi terciptanya generasi yang berkualitas dan terbebas dari stunting,” ungkap Moh. Zairi dalam sambutannya.

Dukungan serupa disampaikan Kepala Puskesmas Tragah, Vivin, yang memaparkan perkembangan angka stunting di Desa Pamorah. Ia menyebutkan, jumlah anak yang mengalami stunting tercatat sebanyak 24 anak pada 2022, kemudian turun menjadi 11 anak berdasarkan data per Agustus yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Baca juga :  Siswa SD MUDABA Tempa Karakter Lewat PERJUSA, Tanamkan Jiwa Kepemimpinan Sejak Dini

“Saya yakin dengan adanya kegiatan ini, Desa Pamorah pada tahun 2024 akan bebas dari stunting,” ungkap Vivin.

Selain pemerintah desa dan tenaga kesehatan, kegiatan tersebut turut dihadiri Zainab Zuraidah dari Forum Pemberdayaan Perempuan. Ia hadir sebagai pemateri sekaligus memberikan apresiasi terhadap inisiatif pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan di Desa Pamorah.

Melalui Sekolah Perempuan Ratho Ebhu, masyarakat diharapkan memperoleh pengetahuan kesehatan yang lebih baik dan mampu menerapkannya dalam kehidupan keluarga. Program ini juga diarahkan untuk membangun perempuan yang cerdas, mandiri, dan terampil dalam menjaga kesehatan diri, anak, serta lingkungan keluarga.

Pendekatan Family Center Nursing atau keperawatan berpusat pada keluarga menjadi landasan program dalam mendorong keterlibatan keluarga dalam upaya pencegahan stunting.

Baca juga :  Bak Sidang Doktor, Semhas Tesis Pemred Klik Madura Dihadiri Guru Besar, Anggota DPR RI hingga Mantan Dubes RI

Dengan peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku kesehatan, perempuan diharapkan memiliki kapasitas lebih kuat untuk mengenali risiko stunting serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atas dukungan pendanaan program tersebut.

Mereka berharap Sekolah Perempuan Ratho Ebhu dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Madura untuk mengembangkan program serupa demi meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan menekan angka stunting.

Keberadaan sekolah perempuan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi, tetapi berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, cita-cita mewujudkan Madura yang lebih sehat dan bebas stunting diharapkan semakin mendekati kenyataan. (nda)

Berita Terkait

Warga Bangkalan Kesulitan Air Bersih, Madura Institute Gandeng Yayasan H. Her Salurkan Bantuan
Ngaku Imam Mahdi, FA Diduga Raup Rp1,3 Miliar dari Pengikut dengan Janji Tiket Surga
UTM Jadi Tuan Rumah Kongres APSMBI 2026, Libatkan 75 Perguruan Tinggi dan Angkat Isu SDGs
Lima Hari Pria ODGJ Meresahkan di Pasar Blega, Warga Harap Segera Ada Penanganan
Tragis! Ganti Ban di Akses Suramadu, Sopir Truk Asal Sampang Tewas Tertabrak dari Belakang
UTM Dampingi Warga Lestarikan Tari Topeng Patenteng, Ritual Sakral Meminta Hujan di Bangkalan
Akademisi UTM Sebut Usulan Parliamentary Threshold 6 Persen Punya Rasionalitas Kelembagaan
Hari Kesaktian Pancasila, PLN Validasi Inovasi OMP untuk Percepat Penanganan Padam di Bangkalan

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 04:51 WIB

Tekan Stunting, Universitas Noor Huda Mustofa Bentuk Sekolah Perempuan Pertama di Desa Pamorah Bangkalan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 02:26 WIB

Warga Bangkalan Kesulitan Air Bersih, Madura Institute Gandeng Yayasan H. Her Salurkan Bantuan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:32 WIB

Ngaku Imam Mahdi, FA Diduga Raup Rp1,3 Miliar dari Pengikut dengan Janji Tiket Surga

Senin, 19 Oktober 2026 - 00:32 WIB

UTM Jadi Tuan Rumah Kongres APSMBI 2026, Libatkan 75 Perguruan Tinggi dan Angkat Isu SDGs

Kamis, 15 Oktober 2026 - 03:49 WIB

Lima Hari Pria ODGJ Meresahkan di Pasar Blega, Warga Harap Segera Ada Penanganan

Berita Terbaru