PAMEKASAN || KLIKMADURA – Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) se-Madura menggelar Pekan Kebudayaan Madura di kawasan Monumen Arek Lancor, Pamekasan, pada 25–31 Oktober 2026.
Mengusung tema Dari M. Tabrani untuk Indonesia, kegiatan tersebut menjadi upaya merawat identitas budaya lokal sekaligus mengenalkan kekayaan tradisi Madura kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Pemilihan tema tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada M. Tabrani, salah satu tokoh pergerakan nasional yang turut mengusulkan penggunaan frasa Bahasa Indonesia dalam ikrar Sumpah Pemuda yang dihasilkan melalui Kongres Pemuda II pada 1928.
Melalui momentum tersebut, penyelenggara ingin menegaskan bahwa perjuangan membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui gerakan politik, tetapi juga melalui pelestarian bahasa, seni, dan kebudayaan sebagai bagian dari identitas nasional.
Pekan Kebudayaan Madura akan diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari pameran budaya Madura, bazar kuliner khas Pamekasan, diskusi dan orasi kebudayaan, hingga seremonial pembacaan Sumpah Pemuda.
Rangkaian kegiatan itu dirancang sebagai ruang perjumpaan bagi masyarakat, seniman, pelajar, dan pegiat budaya untuk memperkuat kecintaan terhadap warisan budaya Madura.
Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, melalui Sarasehan Kebudayaan yang melibatkan sejumlah tokoh kebudayaan Madura.
Dalam forum tersebut, para tokoh akan menyampaikan testimoni dan pandangan mengenai kondisi kebudayaan Madura sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap keberadaan dan keberlanjutan budaya lokal.
Ketua AJP, M. Khairul Umam, mengatakan kebudayaan Madura bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat yang harus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi perlu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dengan mengenalkannya kepada anak-anak sejak usia dini.
“Kalau kita tidak mengenal dan merawatnya, suatu saat generasi berikutnya mungkin hanya akan mengenal kebudayaan Madura sebagai cerita dari masa lalu,” kata Khairul Umam.
Dia menilai perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya dari luar merupakan hal yang tidak mungkin dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Namun, keterbukaan terhadap perkembangan zaman tersebut tidak seharusnya membuat generasi muda kehilangan akar budaya dan jati dirinya.
“Anak-anak kita boleh mengikuti perkembangan zaman dan mengenal budaya dari mana pun. Tetapi mereka juga harus tahu siapa dirinya, dari mana asalnya, dan apa yang menjadi kekayaan budayanya,” ucap jurnalis yang akrab disapa Irul tersebut.
Karena itu, kegiatan yang digagas AJP bersama DKP dan KNPI se-Madura tersebut turut melibatkan pelajar SD dan SMP sederajat dalam berbagai perlombaan seni dan budaya.
Sejumlah kegiatan yang disiapkan. Di antaranyaz lomba cipta dan baca puisi bertema perjuangan, membatik Madura, peragaan busana tradisional Madura bertema Marlena dan Sakera, menyanyi lagu daerah Madura, tari saman, serta mewarnai batik Madura.
Ketua DKP, Arief Wibisono, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari gagasan sederhana untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap kebudayaan Madura.
Dia berharap gagasan tersebut dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih besar apabila mendapat dukungan dan kesamaan pandangan dari berbagai kalangan, mulai dari wartawan, pengusaha, hingga pemimpin daerah.
“Harapan kami bahwa meskipun ini ide kecil, tapi bagaimana suatu saat ini menjadi besar. Apalagi kalau wartawan, pengusaha, dan pemimpin satu pemahaman, mau peduli di dalam persoalan ini. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, kita terketuk,” katanya.
Menurut Arief, pembangunan daerah perlu menjaga keseimbangan antara seni, budaya, agama, dan olahraga agar kemajuan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan identitas serta karakter masyarakat.
Dia berharap jargon Gerbang Salam atau Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami di Pamekasan dapat berjalan beriringan dengan penguatan seni dan budaya lokal.
“Mudah-mudahan jargon Gerbang Salam di Pamekasan terjadi keseimbangan yang terjaga antara seni, budaya, agama, dan olahraga,” demikian harapan pria yang biasa disapa Ayiek tersebut.
Arief menegaskan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk ruang ibadah, hiburan, dan olahraga, perlu mendapat perhatian secara proporsional dalam pembangunan daerah.
Meski demikian, seluruh aspek tersebut harus tetap berakar pada identitas budaya masyarakat setempat agar pembangunan tidak tercerabut dari nilai-nilai yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.
“Yang terpenting semuanya mengakar pada entitas budaya kita,” imbuhnya.
Dia juga menegaskan Pekan Kebudayaan Madura merupakan kegiatan independen yang diselenggarakan melalui semangat gotong royong kelompok-kelompok yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk kepentingan DKP, melainkan sebagai upaya bersama membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya.
“Harapan kami, ini perlu ditekankan, kegiatan ini independen, gotong royong dari kelompok-kelompok yang memang peduli kebudayaan. Dampaknya sendiri ini bukan untuk DKP,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Arief menempatkan keterlibatan anak-anak dalam rangkaian kegiatan tersebut sebagai bagian penting dari upaya membangun karakter generasi muda melalui kesenian.
Menurutnya, seni dan budaya memiliki peran mendasar dalam membentuk kepribadian pelajar, sehingga pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian kemampuan akademik.
“Berbagai kegiatan seni dan budaya yang kami gelar ini, karena kesenian ini bagi kami adalah ruhnya. Dalam beberapa kegiatan, kami juga melibatkan anak-anak sebagai peserta. Karena kami ingin menekankan pada pendidikan karakter, terutama bagi pelajar,” tutur Arief.
Dia menegaskan pendidikan karakter perlu dibangun sejak dini dengan menjadikan nilai-nilai budaya sebagai salah satu fondasi utama dalam proses pendidikan.
Melalui Pekan Kebudayaan Madura, pihaknya berharap generasi muda tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga mengenal identitas, memahami nilai-nilai luhur, dan memiliki kepedulian terhadap kebudayaan daerahnya.
“Jadi, kami ingin mendidik benar dulu, sebelum pintar. Jadi terbangun lewat kebudayaan, dari dasar, dan budaya ini harus berdasar,” pungkasnya. (nda)














