Pertamina Urat Nadi Kehidupan Warga Kepulauan

- Jurnalis

Sabtu, 29 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tumpukan deriken dan tabung gas LPG di salah satu Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Pulau/Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. (PRENGKI WIRANANDA / KLIKMADURA)

Tumpukan deriken dan tabung gas LPG di salah satu Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Pulau/Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. (PRENGKI WIRANANDA / KLIKMADURA)

SUMENEP || KLIKMADURA – Kokok ayam saling bersahutan dengan debur ombak. Suasana Desa/Pulau Saobi, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep terlihat sangat tenang saat Mentari menyapa pagi, Senin (24/6/2026).

Sehari tinggal di desa yang wilayah administrasinya terbagi menjadi empat pulau itu memberikan vibes yang sangat berbeda. Tenang, damai, yang penuh keharmonisan. Bunyi genset perahu-perahu nelayan mulai meraung-raung, petanda aktivitas kehidupan dimulai.

Agenda saya adalah melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau/Kecamatan Sapeken. Salah satu pulau terbesar di Kabupaten Sumenep setelah Pulau Kangean. Pulau yang memiliki kekayaan alam minyak dan gas bumi (migas) ini cukup luas.

Administrasi wilayahnya terbagi menjadi 11 desa dan 53 pulau-pulau kecil. Sebanyak 21 pulau berpenghuni dan 32 pulau lainnya tidak berpenguhi. Puluhan pulau tersebut dihuni oleh 60 orang penduduk dengan beragam suku. Mulai suku Mandar, Bajau dan Madura sendiri.

Perjalanan laut dari Pulau/Desa Saobi menuju Pulau Sapeken membutuhkan waktu 2 jam. Saat saya hendak berlayar, tidak ada perahu taksi yang beroperasi. Sebab, dalam sepekan perahu-perahu itu hanya melayani dua kali pelayaran. Yakni, hari Rabu dan Sabtu. Di luar hari itu, tidak ada ”taksi laut”.

Terpaksa, saya harus carter perahu agar bisa menyeberangi samudera. Tarifnya lumayan mahal. Rp 500 ribu untuk pulang pergi (PP). Biasanya, tarif untuk masing-masing penumpang Rp 30 ribu untuk sekali berangkat. Artinya, ongkos PP Rp 60 ribu.

Baca juga :  Lanjutkan Pembangunan KIHT Tahap 4, Pemkab Sumenep Kembali Gelontorkan Anggaran Miliaran Rupiah

Jarum jam menunjuk angka 08.00 WIB. Matahari mulai terik. Saya bersama Solihin akhirnya berangkat menuju Pulau/Kecamatan Sapeken. Di sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh pemandangan yang begitu indah.

Ikan-ikan sesekali muncul di permukaan. Berkejaran. Seperti anak-anak di daratan yang sedang asyik bermain. Kecipak air menambah kesyahduan pelayanan yang ditemani terik mentari.

Sekitar pukul 10.13 WIB perahu yang saya tumpangi tiba di dermaga Sapeken. Perahu-perahu nelayan seolah menyambut dengan riang gembira. Dari bibir pantai, terlihat sejumlah nelayan sibuk memilah ikan hasil tangkapan.

Di dermaga, kami ditunggu seorang teman bernama Suryono. Dia seorang nelayan yang secara turun temurun menaruhkan kebutuhan hidupnya dengan hasil melaut. Usianya masih tergolong muda. Baru menginjak 35 tahun. Kulitnya berwarna sawo matang, khas warga kepulauan.

Suryono tidak bisa berbahasa Madura. Dia juga tidak fasih berbahasa Indonesia. Sehari-sehari, pria dengan badan badan kekar itu menggunakan bahasa Bajau. Dia keturunan suku bajau yang sudah turun temurun tinggal di Pulau Sapeken.

Kami bertiga kemudian bergerak menuju kediaman Suryono menggunakan motor Honda Revo tanpa nomor polisi. Kulit joknya mengelupas. Kotor. Tidak terawat. Tapi, tarikan mesinnya masih sangat nyaman untuk dikendarai di wilayah kepulauan.

Baca juga :  Satu Dekade Pertamina Bina Desa Labuhan Bangkalan, Alam Lestari Warga Tak Lagi Jadi TKI

Di tengah perjalanan, terlihat solar cell pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) membentang. Dari situlah, listrik dialirkan ke rumah-rumah warga. Meski sebagian warga masing menggunakan genset untuk kebutuhan penerangan.

”Memang ada PLTS, tapi kadang tidak normal sehingga masyarakat tetap menggunakan genset untuk kebutuhan penerangan di rumahnya,” kata Suryono.

Aktivitas masyarakat Pulau Sapeken sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM). Tidak hanya untuk kebutuhan kendaraan bermotor. Tapi, juga untuk kebutuhan utama mesin perahu yang sehari-hari digunakan untuk menangkap ikan.

Kemudian, yang tidak kalah penting adalah, BBM digunakan untuk membangkitkan listrik dari genset. Mayoritas rumah warga menggunakan penerangan dari genset yang membutuhkan BBM.

”Alhamdulillah pengiriman BBM ke Pulau Sapeken selalu normal sehingga aktivitas masyarakat berjalan lancar. Masing-masing rumah juga terang benderang karena ketersediaan BBM terpenuhi,” katanya.

Suryono mengatakan, Pulau Sapeken merupakan wilayah yang memiliki kekayaan migas sangat tinggi. Lautnya dieksploitasi sejak sekitar tahun 1990. Sampai sekarang, pengeboran migas masih beroperasi di wilayah laut tersebut.

Namun, ketersediaan energi selama ini sangat minim. Masih banyak rumah warga yang tidak teraliri listrik. Dengan demikian, warga menggantungkan aktivitas sehari-hari menggunakan BBM yang dikirim oleh Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus.

”Hampir seluruh aktivitas warga di Pulau Sapeken ini membutuhkan BBM. Mulai dari melaut, hingga penerangan rumah. Alhamdulillah selama ini ketersediaan BBM cukup untuk memenuhi kebutuhan warga,” katanya.

Baca juga :  Warga Resah Dugaan Pertalite Oplosan di Bangkalan, HMI Desak Pertamina dan Aparat Lakukan Investigasi Lanjutan

Tidak hanya BBM, tetapi pengiriman Liquefied Petroleum Gas (LPG) juga normal. Dengan demikian, kebutuhan rumah tangga juga terpenuhi. ”Meskipun kami berada di wilayah kepulauan terluar, tetapi aktivitas kami berjalan normal karena pengiriman BBM dan LPG normal,” kata pria dengan dua anak tersebut.

Suryono mengatakan, jika pengiriman BBM dan LPG terhambat, secara otomatis aktivitas masyarakat akan terganggu. Bahkan, bisa lumpuh. Dia berharap, pengiriman bahan bakar yang selama ini berjalan normal itu terus dipertahankan dan ditingkatkan.

BBM ternyata tidak hanya bermanfaat bagi aktivitas masyarakat. Tetapi, juga berdampak pada pendidikan. Banyak sekolah mulai tingkat dasar hingga menengah yang mengandalkan operasional kegiatan pembelajaran menggunakan BBM.

”Listrik di sini terbatas, makanya sekolah juga menggunakan genset. Berkat pengiriman BBM yang lancar, akhirnya anak-anak kami bisa merasakan pendidikan yang berkualitas seperti pembelajaran berbasis digital,” tandasnya.

Saya berkesempatan mengunjung beberapa pulau yang masih bagian dari teritori Pulau Sapeken. Di antaranya, Pulau Sepanjang, Pulau Pagerungan Besar dan Pulau Pagerungan Kecil.

Mayoritas masyarakat melakukan aktivitas menggunakan mesin yang pembangkitnya menggunakan BBM hasil kiriman dari Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus. (nda)

Berita Terkait

Geger! Warga Batang-Batang Sumenep Temukan Mayat Perempuan Terbakar di Tegalan
311 Pil Y Diamankan di Gapura Sumenep, Polisi Ungkap Dugaan Peredaran Okerbaya
Refleksi Maulid Nabi, Rektor UIM Ajak Civitas Akademika Teladani Akhlak Rasulullah
Polresta Sumenep Gelar Mutasi Besar-besaran, Sejumlah Kasat dan Kapolsek Diganti
Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2026, Polresta Sumenep Bekuk 7 Tersangka dan Sita 5,5 Gram Sabu
Pertamina Menyulam Mimpi Warga Kepulauan Terluar Madura
Bupati Fauzi Perjuangkan Akses Laut Warga Kepulauan Sumenep ke Kemenhub
HUT ke-81 RI, Bupati Sumenep Tegaskan Semangat Perjuangan Harus Dibuktikan Lewat Kerja Nyata

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 02:46 WIB

Pertamina Urat Nadi Kehidupan Warga Kepulauan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:21 WIB

Geger! Warga Batang-Batang Sumenep Temukan Mayat Perempuan Terbakar di Tegalan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 02:24 WIB

311 Pil Y Diamankan di Gapura Sumenep, Polisi Ungkap Dugaan Peredaran Okerbaya

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:56 WIB

Refleksi Maulid Nabi, Rektor UIM Ajak Civitas Akademika Teladani Akhlak Rasulullah

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:11 WIB

Polresta Sumenep Gelar Mutasi Besar-besaran, Sejumlah Kasat dan Kapolsek Diganti

Berita Terbaru

Tumpukan deriken dan tabung gas LPG di salah satu Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Pulau/Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. (PRENGKI WIRANANDA / KLIKMADURA)

SUMENEP

Pertamina Urat Nadi Kehidupan Warga Kepulauan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 02:46 WIB