SAMPANG || KLIKMADURA – Rantai pasok bahan pangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sampang masih didominasi jaringan supplier besar. Hasil monitoring tahap pertama Satgas MBG menunjukkan keterlibatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), petani, dan peternak lokal dalam memenuhi kebutuhan 165 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih relatif terbatas.
Temuan tersebut tertuang dalam dokumen monitoring yang disusun Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Sampang, Sudarmanto. Dokumen itu memotret pola pengadaan bahan pangan pada seluruh SPPG yang telah terdaftar di portal Badan Gizi Nasional (BGN).
Berdasarkan hasil monitoring, sebagian besar kebutuhan bahan pokok SPPG masih dipenuhi melalui supplier swasta. Sementara itu, kerja sama dengan Koperasi Desa Merah Putih baru tercatat melibatkan satu koperasi, meski jumlah dapur MBG yang telah beroperasi mencapai 165 unit.
Dokumen tersebut juga mencatat kondisi berbeda pada komoditas ikan. Dalam keterangan tertulisnya, Sudarmanto menjelaskan jumlah pemasok ikan masih sangat terbatas karena menu berbahan ikan belum banyak diterapkan oleh masing-masing SPPG.
Bahkan, terdapat dapur MBG yang belum pernah menyajikan menu ikan kepada penerima manfaat. Akibatnya, sebagian SPPG masih membeli kebutuhan ikan secara langsung di pasar ketika diperlukan.
Hasil monitoring juga memuat daftar supplier yang menjadi pemasok utama bahan pangan di sejumlah kecamatan. Di Kecamatan Karang Penang, misalnya, pasokan dipenuhi oleh UD Putra, UD HM Murni, UD Basmalah, UD Sehat Sentosa, dan Koperasi Al Aziz.
Sementara itu, di Kecamatan Tambelangan, jaringan pemasok berasal dari PT Al Arifin Makmur Abadi, PT Putra Bumi Madura, UD TY Makmur, JM Sentosa, SH Jaya Abadi dan UD Nusantara.
Kemudian, UD Sandang Pangan, Rumah Sayur, Toko Hasil Ternak, UD RJA, UD Anugrah Telur, Induk Ayam, UD BJ, UD Rayhan Jaya Abadi, hingga Bogenk Buah.
Di wilayah Birem dan Jrengik, daftar pemasok juga didominasi pelaku usaha berskala besar. Beberapa di antaranya yakni UD Prima Nusantara, Barokah Mandiri, UD Rezeki Ilahi, Toko Setia Kawan, Anie Pangan Jaya, Bawangku, UD Sumber Rejeki, Fresh Fruit, Zamzam Telur, Bahari Jaya, Tiga Raya Prima, dan UD Hasil Tani.
Berbeda dengan jumlah supplier yang cukup banyak, daftar petani dan peternak lokal yang telah bermitra dengan SPPG masih sangat terbatas. Monitoring hanya mencatat enam pihak.
Yakni, Mulyadi dari Poktan Bangun Sari Desa Sokobanah Daya sebagai pemasok bawang merah dan sayuran, Awi, Pusar, dan Faisal dari Taruna Tani Jogo Mulyo Desa Rabasan sebagai pemasok melon.
Kemudian, petani Desa Jrengik sebagai pemasok beras, sayuran, dan semangka melalui UD Sumber Rejeki, serta H. Rosi dari Poktan Sari Mulya Desa Muktesareh sebagai pemasok ayam petelur.
Dalam dokumen tersebut, Sudarmanto menjelaskan bahwa kebutuhan bahan pangan seluruh SPPG hingga saat ini tetap dapat dipenuhi sesuai permintaan karena telah terjalin kerja sama dengan berbagai supplier. Kondisi itu membuat operasional dapur MBG tetap berjalan tanpa mengalami kendala pasokan.
Meski demikian, data monitoring memperlihatkan adanya ketimpangan antara jumlah dapur MBG yang telah beroperasi dengan tingkat keterlibatan produsen pangan lokal.
Di tengah keberadaan 165 SPPG, kemitraan dengan Koperasi Desa Merah Putih baru melibatkan satu koperasi, sedangkan jumlah petani dan peternak lokal yang masuk dalam rantai pasok masih relatif sedikit.
Dokumen monitoring tersebut menjadi gambaran bahwa pada tahap pertama pelaksanaan MBG di Kabupaten Sampang, sistem penyediaan bahan pangan masih bertumpu pada supplier besar.
Sementara itu, koperasi desa, petani, dan peternak lokal belum berperan sebagai penopang utama rantai pasok program strategis nasional tersebut. (ali/nda)













