PAMEKASAN || KLIKMADURA – Penanganan kasus penyegelan SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan terus bergulir. Setelah memeriksa sejumlah pihak yang terlibat, penyidik Satreskrim Polres Pamekasan dijadwalkan memanggil beberapa guru untuk dimintai keterangan sebagai saksi pada pekan depan.
Kasi Humas Polres Pamekasan, Yoni Evan Pratama, mengatakan bahwa proses penyelidikan masih terus berjalan guna mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa penyegelan lembaga pendidikan tersebut.
Menurutnya, penyidik telah mengumpulkan berbagai informasi dan memeriksa sejumlah saksi, baik dari pihak pelapor maupun terlapor.
“Dan untuk selanjutnya minggu depan kami akan memeriksa guru-guru dari SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan,” terangnya.
IPDA Evan menjelaskan, pihak pelapor dan terlapor juga telah dimintai keterangan. Namun, kepolisian belum dapat menyampaikan secara rinci hasil pemeriksaan yang telah dilakukan karena masih menjadi bagian dari proses penyelidikan.
Meski demikian, ia memastikan Polres Pamekasan akan menangani perkara tersebut secara profesional dan sesuai prosedur hukum yang berlaku.
“Terkait penyelesaian ini untuk perkembangannya nanti kami informasikan kembali,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan, Ahmad Mahfud, menyatakan seluruh guru yang akan dipanggil penyidik siap memberikan keterangan.
Ia menyebut, sedikitnya empat orang guru diperkirakan akan memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi dalam perkara tersebut.
“Mereka sudah siap apabila dibutuhkan Polres Pamekasan. Juga sudah saya sampaikan bahwasanya yang melakukan penyegelan itu mantan bendahara yayasan dan mantan ketua yayasan Kunci Ilmu,” ungkapnya.
Mahfud menambahkan, dirinya juga telah lebih dahulu menjalani pemeriksaan oleh penyidik. Dalam pemeriksaan tersebut, ia dimintai keterangan selama kurang lebih dua jam terkait kronologi dan berbagai hal yang berkaitan dengan penyegelan sekolah.
Ia berharap proses hukum dapat segera menemukan titik terang sehingga aktivitas pendidikan di sekolah tersebut dapat kembali berjalan normal.
Menurutnya, pihak yang paling dirugikan akibat persoalan ini adalah para siswa yang hingga kini masih terdampak oleh terhentinya kegiatan belajar tatap muka.
“Semoga permasalahan ini bisa segera selesai, kami kasihan kepada para murid karena mereka yang terkena imbasnya,” tandasnya. (enk/nda)













