PAMEKASAN || KLIKMADURA – Sengketa lahan yang berujung pada penyegelan SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan hingga kini belum menemukan penyelesaian. Tepat satu bulan sejak peristiwa penyegelan terjadi, aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut belum kembali normal.
Dampak paling besar dirasakan para siswa. Selama sebulan terakhir, mereka terpaksa mengikuti pembelajaran secara daring sambil menunggu kepastian nasib sekolah tempat mereka menuntut ilmu.
Tidak hanya proses belajar yang terganggu, sejumlah siswa juga masih menyimpan trauma atas peristiwa penyegelan yang terjadi pada Senin malam (11/5/2026).
Salah satunya dialami IS (17), siswi kelas X Keperawatan. Ia mengaku mengalami ketakutan dan kepanikan saat penyegelan berlangsung karena ketika itu hanya ada empat siswi yang berada di asrama sekolah.
“Karena waktu itu sudah malam, jadi para guru sudah pulang. Hanya kami empat orang siswi yang di asrama sekolah, tentu kami takut waktu itu,” ujarnya.
IS menceritakan, sebelum penyegelan terjadi, dirinya bersama teman-temannya sedang berada di musala sekolah. Tak lama kemudian, datang seorang laki-laki dan seorang perempuan dewasa ke lokasi.
Menurutnya, perempuan tersebut sempat menanyakan jumlah siswa yang belajar di SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan. Setelah itu, mereka diminta meninggalkan area sekolah pada malam itu juga.
Tak berselang lama, proses penyegelan dilakukan sehingga membuat para siswi kebingungan dan ketakutan.
“Kami tanya kenapa kok disegel? Lalu si perempuan itu menjawab kalau tanah itu milik Nisa’. Kami takut waktu itu karena kami tidak tahu duduk perkaranya apa. Tiba-tiba disegel, lalu kami telepon semua guru untuk ke sekolah,” jelasnya.
Peristiwa tersebut masih membekas di ingatan para siswa. Selain kehilangan ruang belajar, mereka juga harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring yang dinilai kurang efektif dibandingkan belajar langsung di kelas.
IS mengaku berharap sekolahnya dapat kembali dibuka sehingga seluruh siswa bisa kembali belajar secara normal.
Terlebih, banyak siswa yang berasal dari luar daerah dan telah memilih sekolah tersebut untuk menempuh pendidikan di bidang kesehatan.
“Iya kami berharap agar bisa dibuka lagi, kami pengen kembali lagi ke sekolah itu. Saya dari jauh ke sini, perjalanannya selama dua jam,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan, Ahmad Mahfud mengatakan, pihaknya terus berupaya mencari jalan keluar agar aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan seperti biasa.
Menurutnya, berbagai langkah telah dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak siswa maupun tenaga pendidik yang terdampak akibat persoalan tersebut.
Ia berharap seluruh proses yang sedang berjalan dapat segera membuahkan hasil sehingga sekolah kembali dibuka dan para siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman.
“Iya pas satu bulan. Kasihan anak-anak kalau seperti ini terus. Kami tidak meminta apa pun, cukup sekolah dibuka kembali itu kami sudah sangat senang. Semoga ada hasil dari segala upaya yang sudah kami lakukan,” tandasnya. (enk/nda)













