Oleh: Hermansyah Kahir, Penulis buku Santri 4.0
****
TENTU kita sepakat bahwa buku menjadi tolok ukur kemajuan sebuah bangsa. Milan Kundera, seorang novelis terkenal asal Prancis berkata, “jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya. Maka pastilah bangsa itu akan musnah.”
Buku memiliki peran krusial dalam sejarah dan kemajuan bangsa. Buku menjadi media penyimpanan kolektif yang mencatat sejarah, ilmu pengetahuan, seni, dan ajaran moral. Itu artinya, tanpa buku, generasi mendatang akan kehilangan arah karena buku sebagai motor penggerak perubahan sudah ditinggalkan.
Soekarno dan Mohammad Hatta, dua proklamator kemerdekaan Indonesia adalah pecinta buku sejati. Kecintaan mereka pada buku menjadi fondasi kekuatan intelektualnya. Mereka membangun bangsa ini bukan hanya melalui perjuangan fisik semata, tetapi juga melalui buku.
Hari ini, 17 Mei, kita memperingati Hari Buku Nasional. Tentu ini menjadi hari istimewa bagi masyarakat Indonesia, wabilkhusus para pecinta buku. Momen ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia bahwa kemajuan bangsa sulit terwujud tanpa budaya membaca. Kebiasaan membaca perlu terus ditumbuhkan di tengah derasnya arus informasi digital.
Di era kemajuan teknologi saat ini, kita lebih sering menghabiskan waktu berselancar di media sosial. Dalam banyak temuan, membaca buku dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Kemampuan ini sangat dibutuhkan supaya kita tidak mudah termakan informasi palsu dan fitnah yang hampir dalam hitungan detik berseliweran di pelbagai platform digital.
Kalau mau jujur, literasi kita memang tidak baik-baik saja terutama berkaitan dengan kebiasaan membaca. Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) di Indonesia pada 2025 diproyeksikan masih berada di kategori rendah, dengan data BPS menunjukkan angka 54,8 poin.
Meskipun laporan lain menyebutkan variasi angka, tren menunjukkan rendahnya minat baca yang didorong oleh terbatasnya akses buku, serta rendahnya literasi akibat pengaruh media sosial (Katadata.co.id, 8/5/2026).
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi. Di era kemajuan digital, masyarakat lebih akrab dengan scroll, informasi instan, dan konten singkat. Celakanya, berbagai informasi itu diterima begitu saja tanpa verifikasi (tabayyun).
Sebenarnya banyak faktor yang memengaruhi minat baca masyarakat kita salah satunya aksesibilitas. Terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber literasi seperti perpustakaan, buku, dan media lainnya merupakan salah satu faktor utama. Di daerah pedesaan dan di kalangan masyarakat kurang mampu, sumber literasi seringkali sulit dijangkau.
Penggunaan teknologi digital berlebihan juga memengaruhi minat membaca. Meskipun perkembangan teknologi telah meningkatkan aksesibilitas informasi, penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan terhadap media sosial dan hiburan digital justru dapat mengurangi minat membaca buku dan sumber literasi lainnya.
Ikhtiar Berjamaah
Hari Buku Nasional bukan hanya rutinitas tahunan semata, tetapi ini harus menjadi aksi konkret untuk membangun kembali budaya membaca. Upaya ini penting supaya bangsa ini bisa naik level, dari negara berkembang menjadi negara maju.
Membangun masyarakat yang cinta membaca memang bukan perkara mudah, tapi bukan mustahil jika diikhtiarkan bersama.
Pertama yang dapat dilakukan adalah mengubah cara pandang (mindset). Tidak sedikit para pelajar yang menganggap aktivitas membaca hanya berkaitan dengan tugas sekolah atau kampus. Membaca menjadi aktivitas yang penuh tekanan dan membosankan. Padahal membaca adalah sarana penting untuk membuka wawasan, memahami dunia, dan menguasai ilmu pengetahuan.
Bahkan, Nuruddin (2021) menegaskan, tanpa membaca seseorang tidak dapat mengenal Tuhannya. Hidup ini akan terhanyut dalam kegelapan dan segala bentuk ibadah tidak akan diterima. Menyembah Tuhan itu harus dengan ilmu, dan ilmu tidak dapat diraih tanpa membaca.
Dalam konteks ini, perlu ditanamkan dalam diri generasi muda bahwa membaca merupakan perintah agama dan kebiasaan para ulama. Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka hingga Abdurrahman Wahid adalah tokoh-tokoh yang gila membaca karena mereka memahami bahwa buku adalah jalan tercepat untuk belajar dari sejarah dan pengalaman orang lain.
Membaca bagi mereka bukan sekadar hobi, tetapi kebutuhan yang mesti terpenuhi. Ketika membaca dipahami sebagai kebutuhan, maka minat membaca akan tumbuh secara alami.
Keluarga menjadi fondasi penting dalam membangun kebiasaan membaca sejak dini, di mana orang tua khususnya ibu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya (al-ummu madrasatul ula). Budaya diskusi dan membaca perlu dihidupkan dalam lingkungan keluarga.
Orang tua perlu membiasakan diri membaca buku dan membatasi penggunaan gadget saat bersama anak-anak. Ini penting dilakukan karena anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Orang tua juga perlu menyediakan perpustakaan mini di rumah, mendiskusikan buku, dan sesekali mengajak anak pergi ke toko buku.
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah dan perguruan tinggi juga harus berani melakukan perubahan besar dalam upaya membangun budaya membaca. Banyak lembaga pendidikan masih menjadikan aktivitas membaca sebagai kewajiban administratif semata yang justru menyebabkan siswa melakukannya karena terpaksa.
Karenanya, guru dan dosen perlu menghubungkan membaca dengan kehidupan nyata yang relate dengan kehidupan generasi muda. Jika langkah ini dapat dilakukan, maka minat membaca akan tumbuh lebih kuat dalam diri mereka.
Terakhir, dukungan pemerintah. Pemerintah bisa berperan aktif merancang kebijakan yang mampu mendorong peningkatan minat baca. Dukungan pemerintah melalui kebijakan ini sangat penting mengingat masih banyak daerah yang minim akses buku, perpustakaan, dan fasilitas pendidikan berkualitas.
Ke depan, pemerintah perlu memperluas akses bahan bacaan yang mudah dijangkau masyarakat, meningkatkan pemerataan infrastruktur digital, membangun budaya literasi melalui kebijakan pendidikan, aktif mengadakan kampanye nasional budaya membaca, serta memberikan dukungan kepada industri perbukuan dan penerbitan.
Untuk poin terkahir, pemerintah dapat membantu melalui subsidi buku pendidikan, bantuan penerbit dalam negeri, pengurangan pajak buku, dan program distribusi buku murah ke berbagai daerah.
Pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membangun ekosistem literasi nasional yang sehat. Harga buku yang relatif mahal juga menjadi hambatan bagi sebagian masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu memperluas akses buku murah, mendukung perpustakaan modern, serta memperkuat program literasi berbasis komunitas.
Gerakan membaca tidak cukup hanya dilakukan saat peringatan tertentu, tetapi harus menjadi program jangka panjang yang terus hidup di tengah masyarakat.
Budaya membaca tidak akan tumbuh melalui ceramah atau slogan semata, tetapi melalui lingkungan yang mendukung, pendekatan yang relevan, dan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi informasi cepat dan dangkal, kemampuan membaca mendalam menjadi salah satu kekuatan paling berharga.
Generasi muda yang gemar membaca akan memiliki wawasan luas, kemampuan berpikir kritis, mental yang lebih kuat, dan kesiapan lebih baik menghadapi masa depan.
Karena itu, membangun budaya membaca sejatinya bukan hanya tentang buku, tetapi tentang membangun kualitas manusia dan masa depan bangsa. (*)













