Kembalilah Nurani

- Jurnalis

Kamis, 19 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: M. Rozien Abqoriy, Penulis Berasal dari Kabupaten Sumenep, Salah Satu Penggerak Gerakan Literasi dan Alumni IAIN Madura).

‎*****

‎DALAM menjalani kehidupan, setiap manusia punya cara sendiri untuk bertahan, bersikap, dan merespons berbagai peristiwa yang datang silih berganti.

‎Tidak ada yang benar-benar sama, karena pengalaman dan latar belakang membentuk cara kita melihat dunia.

‎Selain dibekali akal pikiran dan perasaan, manusia juga memiliki sesuatu yang sering kali lebih halus namun seringkali terlibat dari segala aspek kehidupan.

‎‎Ia tidak selalu terlihat, tetapi kehadirannya terasa dalam setiap keputusan yang kita ambil, sekecil apa pun itu.

‎‎Lalu, apa itu nurani? Nurani adalah suara hati yang paling dalam, tenang, tidak memaksa, tetapi  jujur.

Baca juga :  Refleksi Diri dan Apresiasi: Menoleh Kembali untuk Maju Lebih Tangguh

‎Ia seperti pengingat diam yang muncul di saat kita berada di persimpangan, memberi isyarat tentang mana yang baik dan mana yang seharusnya kita hindari.

‎Kamu pasti pernah merasakannya. Saat pikiranmu lelah menghadapi rumitnya keadaan dan memilih untuk diam, justru ada dorongan kecil dari dalam yang berkata, “coba lagi,” atau “lakukan yang lebih baik.”

‎Misalnya, ketika kamu ingin membalas ucapan seseorang dengan emosi, tapi ada suara kecil yang menahanmu untuk tetap tenang, itulah nurani.

‎‎Nurani pada dasarnya selalu mengarah pada kebaikan. Ia mengajak kita untuk bersikap lebih jujur, lebih adil, dan lebih peduli, meskipun terkadang jalan itu terasa tidak mudah.

Baca juga :  Tak Ada Herder di Bibir Penguasa

‎Lalu bagaimana dengan hari ini? Apakah nurani masih ada di tengah banyaknya sikap manusia yang terlihat keras, egois, atau acuh? Jawabannya, masih.

‎‎Nurani tidak hilang, hanya saja kadang tertutup oleh kepentingan, emosi, atau keputusan yang lebih didorong oleh logika sesaat.

‎Kita mungkin sering bertanya, mengapa ada orang yang tampak begitu angkuh atau tidak peduli pada orang lain. Bukan berarti mereka tidak punya nurani, melainkan bisa jadi mereka sedang tidak mendengarkannya.

‎Pada akhirnya, kita bisa memahami bahwa nurani tetap ada dalam diri setiap manusia. Hanya saja, tidak selalu ia ditampilkan. Kadang ia tertahan, tersimpan, atau bahkan “dikalahkan” oleh pertimbangan lain yang lebih cepat diambil oleh pikiran.

Baca juga :  Tuhan Terlipat di Lakon Goro-goro

‎Dan di situlah letak tantangannya, bukan tentang ada atau tidaknya nurani, tetapi tentang seberapa sering kita mau berhenti sejenak, mendengarkan, lalu memberi ruang baginya untuk berbicara.

‎‎Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar refleksi tentang manusia dan nuraninya, tetapi juga menjadi cermin kecil bagi diri penulis sendiri.

‎‎Sebuah pengingat sederhana bahwa di tengah segala keputusan, emosi, dan kepentingan yang datang silih berganti, masih ada suara yang layak didengar, meski terasa pelan, tapi jujur.

Dan mungkin, catatan ini ada bukan untuk mengubah orang lain, melainkan untuk sesekali menegur diri sendiri. (*)

Berita Terkait

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Prabowo dan Komisi 1 DPRD Sumenep
Sangkakala Demokrasi dan Absurditas Kekuasaan
Intelektual Tradisional itu Akademisi Yang Membeo
Dari Politik Kekuasaan Menuju Politik Perubahan
Menata Hati, Meniti Hari-hari
Bulan Bung Karno dan Penguatan Wawasan Kebangsaan
Digdaya NU: Ikhtiar Besar Menghadapi Era Digital
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 03:02 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Senin, 22 Juni 2026 - 00:13 WIB

Prabowo dan Komisi 1 DPRD Sumenep

Jumat, 19 Juni 2026 - 01:12 WIB

Sangkakala Demokrasi dan Absurditas Kekuasaan

Selasa, 16 Juni 2026 - 07:19 WIB

Intelektual Tradisional itu Akademisi Yang Membeo

Minggu, 14 Juni 2026 - 03:37 WIB

Dari Politik Kekuasaan Menuju Politik Perubahan

Berita Terbaru