Oleh: Moh Hamdan Rois, Praktisi Pendidikan dan Tenaga Edukatif di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata.
****
RAMADHAN selalu datang dengan suasana tertentu: masjid lebih penuh, tilawah lebih banyak, sedekah meningkat, dan ritme kehidupan berubah. Di balik kegembiraan ritual, bagaimanapun, ada pertanyaan yang harus kita ajukan dengan jujur: apakah Ramadhan benar-benar mengubah kita, atau hanya menjadi rutinitas tahunan yang biasa?
Al-Qur’an telah menegaskan tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh; 183)
Kata kunci dari ayat ini adalah takwa. Ia bukan sekadar status spiritual, tetapi kesadaran yang hidup yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Dengan demikian, puasa bukan tujuan akhir, melainkan sarana menuju transformasi diri.
Namun, kenyataan sering menunjukkan cara yang berbeda. Beberapa orang berpuasa secara formal, tetapi mereka tetap marah, suka menyebarkan prasangka, dan tidak peduli dengan masalah sosial di sekitar mereka. Sepertinya peringatan Nabi Muhammad ﷺ sangat relevan di sini:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Sunan Ibn Majah)
Hadits ini seperti kritik tajam terhadap keberagamaan yang berhenti pada simbol. Ia mengingatkan bahwa ibadah tanpa kesadaran hanya akan melahirkan kelelahan fisik, bukan pencerahan batin.
Dalam khazanah keilmuan Islam, puasa dipahami sebagai jalan tazkiyatun nafs proses penyucian jiwa. Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din membagi puasa dalam beberapa tingkatan, dari sekadar menahan lapar hingga menjaga hati dari segala hal selain Allah. Pada level tertinggi inilah puasa menjadi transformasi otentik mengubah orientasi hidup, bukan hanya perilaku sesaat.
Lebih jauh, ulama seperti Ibn Qayyim al-Jawziyah menekankan bahwa inti ibadah adalah perubahan hati yang tercermin dalam tindakan nyata. Artinya, ukuran keberhasilan Ramadhan bukan terletak pada banyaknya ibadah, tetapi pada dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah Ramadhan menemukan dimensi sosialnya. Ibadah tidak boleh berhenti pada hubungan personal dengan Tuhan, tetapi harus menjelma menjadi kepedulian terhadap sesama. Al-Qur’an bahkan mengkritik keras orang yang rajin beribadah namun abai terhadap kaum lemah:
“Tahukah kamu (Orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)
Ayat ini menegaskan bahwa keberagamaan yang otentik selalu berpihak. Ia hadir dalam empati, dalam solidaritas, dan dalam tindakan nyata untuk mengurangi penderitaan sosial.
Nabi Muhammad ﷺ juga menegaskan bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari relasinya dengan orang lain:
“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Pesan ini menjadi sangat penting di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistik. Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk keluar dari egoisme, menuju kepedulian yang lebih luas.
Ramadhan menawarkan setidaknya tiga transformasi nyata: Pertama, transformasi spiritual dari lalai menuju sadar, dari riya’ menuju ikhlas; Kedua, transformasi moral dari reaktif menuju reflektif, dari mudah menghakimi menuju bijaksana; dan transformasi sosial dari individualistik menuju kontributif.
Ketiga, komponen ini tidak dapat dipisahkan. Tanpa moral, spiritualitas akan rapuh, kepedulian sosial akan hampa, dan kepedulian sosial akan kehilangan landasan spiritual.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang seberapa ramai kita beribadah, tetapi seberapa dalam kita berubah. Apakah kita menjadi lebih jujur, lebih sabar, dan lebih peduli? Ataukah kita kembali menjadi pribadi yang sama setelah bulan suci berlalu?
Di titik inilah Ramadhan menemukan makna sejatinya: bukan sekadar ritual, tetapi transformasi. Bukan hanya menahan, tetapi menghidupkan. Bukan hanya berulang, tetapi mengubah.
Jika Ramadhan mampu membawa perubahan itu, itu bukan hanya bulan ibadah; itu adalah momentum lahirnya manusia yang lebih tulus untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan membantu orang lain. (*)














