Dewan Pendidikan Pamekasan Kritik Sikap Ketua Yayasan Al-Uswah, Sebutan Wartawan “Bodrex” Dinilai Cederai Marwah Pendidikan

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Dr. Mohammad Subhan. (DOK. KLIKMADURA)

Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Dr. Mohammad Subhan. (DOK. KLIKMADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Sikap Ketua Yayasan Al-Uswah Pamekasan, Utsman Sayyaf, yang menyebut jurnalis Klik Madura dengan istilah “bodrex” terus menuai sorotan.

Kali ini, Dewan Pendidikan Kabupaten Pamekasan menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan etika dan keteladanan yang semestinya dijunjung tinggi oleh penyelenggara lembaga pendidikan.

Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Dr. Mohammad Subhan, mengatakan bahwa sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

Lembaga pendidikan juga merupakan pusat layanan publik yang memiliki tanggung jawab moral dalam membangun karakter dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menurutnya, seluruh elemen penyelenggara pendidikan, khususnya jajaran pengelola dan pendidik, harus menjunjung tinggi kesantunan, sikap saling menghargai, serta profesionalisme dalam berinteraksi dengan siapa pun. Prinsip tersebut juga harus diterapkan ketika berkomunikasi dengan insan pers yang menjalankan tugas jurnalistik.

Baca juga :  Penanganan 917 Bal Rokok Marbol KW Tak Jelas, Aktivis Hadiahi Bea Cukai Madura "Tolak Angin"

“Dalam hal ini, wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik dan menguji kebenaran informasi melalui upaya konfirmasi (cover both sides) sepatutnya diterima secara bijak sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial. Mengeluarkan penyebutan yang berpotensi merendahkan profesi pers tentu tidak mencerminkan marwah lembaga pendidikan,” tegasnya.

Subhan menambahkan, keterbukaan informasi dan komunikasi yang konstruktif merupakan kunci penting dalam pengelolaan lembaga pendidikan.

Pihak sekolah maupun yayasan semestinya membuka ruang dialog yang sehat dan transparan kepada seluruh pemangku kepentingan, mulai dari orang tua atau wali murid, masyarakat, hingga insan pers.

Ia menjelaskan, dalam perspektif manajemen pendidikan, transparansi dan komunikasi yang santun merupakan bagian penting dari penerapan School-Based Management (SBM) serta prinsip akuntabilitas publik.

Baca juga :  Mas Kiai Fikri: Masyarakat Sumenep Sudah Muak dengan Janji Manis

Sekolah sebagai institusi layanan publik harus menjaga kepercayaan masyarakat melalui tata kelola yang terbuka dan bertanggung jawab.

Menurut Subhan, sikap defensif, otoriter, maupun tindakan yang merendahkan pihak luar, termasuk pers yang menjalankan fungsi konfirmasi, dapat menunjukkan lemahnya penerapan nilai-nilai pendidikan dalam kepemimpinan lembaga.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan hubungan eksternal, tetapi juga berpotensi memengaruhi budaya organisasi di lingkungan sekolah.

Ia menegaskan, pandangannya tersebut bukan dimaksudkan untuk mencampuri urusan internal lembaga pendidikan lain. Namun, hal itu disampaikan sebagai kajian dari perspektif keilmuan dan praktik pengelolaan pendidikan.

“Lembaga pendidikan tidak sekadar mengelola aspek akademik, melainkan berfungsi sebagai ruang kultural yang berlandaskan moralitas, etika, dan keteladanan. Ketika kepemimpinan tertinggi yayasan melontarkan sebutan merendahkan seperti ‘bodrex’ serta menolak transparansi, hal itu mencerminkan krisis tata kelola (governance crisis) yang merusak iklim edukatif,” tegasnya.

Baca juga :  Terjunkan Ratusan Personel, Polres Pamekasan Sukses Amankan Pemberangakatan CJH

Subhan juga mengingatkan bahwa pola komunikasi pimpinan dapat memengaruhi budaya organisasi sekolah. Jika komunikasi yang mengabaikan etika dibiarkan, kondisi tersebut berpotensi menumbuhkan budaya anti-kritik serta mengurangi kepercayaan wali murid dan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.

Karena itu, ia mengimbau seluruh penyelenggara pendidikan di Kabupaten Pamekasan agar senantiasa mengedepankan etika, keteladanan, dan transparansi.

Prinsip tersebut perlu menjadi pegangan, baik dalam menyelesaikan persoalan internal maupun ketika membangun kemitraan dengan media massa.

“Dengan itu, kami mengimbau seluruh penyelenggara pendidikan di Kabupaten Pamekasan senantiasa mengedepankan etika, keteladanan, dan transparansi dalam menyelesaikan setiap permasalahan internal maupun saat menjalin kemitraan dengan media massa,” pungkasnya. (enk/nda)

Berita Terkait

SIPEDAL SAKERA Antar SDI Al-Munawwarah Raih Penghargaan Inovasi Literasi Digital dari Bupati Pamekasan
Dekatkan Layanan Kesehatan kepada Masyarakat, Puskesmas Pademawu Hadirkan CKG dan Detektif TB di Kemilau Madura
Lima Pejabat Inspektorat Dilantik, Bupati Pamekasan Minta Pengawasan Lebih Tajam
Empat Abad Jejak Dakwah Syekh Bilfaqih, LPI ABFA Rawat Warisan Ulama Lewat Pawai Budaya
Lontarkan Kalimat Tak Pantas pada Jurnalis, Ahli Bahasa UNIRA Soroti Etika Komunikasi Ketua Yayasan Al-Uswah
Injak Al-Qur’an Saat Live TikTok, Pensiunan Guru di Pamekasan Resmi Jadi Tersangka
Puskesmas Tampojung Pregi Ingatkan Ancaman Hipertensi dan Diabetes, PHBS Harus Dimulai dari Rumah
Influenza Tipe A Mulai Diwaspadai di Pamekasan, Kapus Batumarmar Tekankan Vaksinasi dan Etika Batuk

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 04:28 WIB

SIPEDAL SAKERA Antar SDI Al-Munawwarah Raih Penghargaan Inovasi Literasi Digital dari Bupati Pamekasan

Selasa, 3 November 2026 - 03:31 WIB

Dewan Pendidikan Pamekasan Kritik Sikap Ketua Yayasan Al-Uswah, Sebutan Wartawan “Bodrex” Dinilai Cederai Marwah Pendidikan

Senin, 2 November 2026 - 22:34 WIB

Dekatkan Layanan Kesehatan kepada Masyarakat, Puskesmas Pademawu Hadirkan CKG dan Detektif TB di Kemilau Madura

Senin, 2 November 2026 - 06:53 WIB

Lima Pejabat Inspektorat Dilantik, Bupati Pamekasan Minta Pengawasan Lebih Tajam

Minggu, 1 November 2026 - 13:44 WIB

Empat Abad Jejak Dakwah Syekh Bilfaqih, LPI ABFA Rawat Warisan Ulama Lewat Pawai Budaya

Berita Terbaru