PAMEKASAN || KLIKMADURA – Sikap Ketua Yayasan Al-Uswah Pamekasan, Utsman Sayyaf, saat merespons jurnalis Klik Madura yang meminta hak jawab menuai sorotan. Kali ini, ahli bahasa Universitas Madura (UNIRA), Dr. Rahmad, M.Pd., turut menyayangkan respons tersebut karena dinilai tidak mencerminkan komunikasi yang baik.
Rahmad menilai, langkah jurnalis meminta klarifikasi atau hak jawab telah sesuai dengan prinsip keberimbangan dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Menurutnya, pihak yayasan semestinya menyambut upaya konfirmasi tersebut melalui komunikasi yang terbuka dan santun. Terlebih, yayasan merupakan penyelenggara pendidikan yang juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan teladan dalam perilaku, termasuk ketika berkomunikasi dengan pihak lain.
“Yang sudah dilakukan si jurnalis ini sudah benar, sudah sesuai dengan KEJ juga. Tentu kami sangat menyayangkan, alangkah baiknya mungkin kalau bisa dilakukan tabayun, atau bagaimana caranya supaya diperoleh komunikasi yang lebih baik,” ungkap Rahmad.
Ia menjelaskan, yayasan sebagai badan penyelenggara pendidikan oleh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk turut mewujudkan tujuan pendidikan nasional, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Pasal 3. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pengembangan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik.
Karena itu, menurut Rahmad, penyelenggara pendidikan semestinya menunjukkan keteladanan melalui perilaku yang menghormati dan menghargai siapa pun. Sikap tersebut dapat diwujudkan melalui komunikasi verbal maupun nonverbal agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
Wakil Rektor I UNIRA itu juga menekankan pentingnya pemilihan kata atau diksi dalam membangun komunikasi yang efektif. Sebab, penggunaan kata yang tidak tepat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga merusak hubungan antara penutur dan mitra tutur.
“Dan apabila ini dirasakan oleh jurnalis yang bersangkutan selaku mitra tutur, maka penuturan Ketua Yayasan Al-Uswah Pamekasan Utsman Sayyaf tersebut bisa dipersoalkan dari sisi efektivitas komunikasi. Bahkan bisa berujung pada persoalan hukum apabila ada unsur penghinaan, ujaran kebencian, dan lainnya. Ini pendapat saya,” tegasnya.
Rahmad menambahkan, komunikasi yang efektif ditentukan oleh kemampuan penutur memilih bahasa atau kalimat yang mampu mewakili pikiran dan perasaannya. Pilihan bahasa tersebut juga harus dapat dipahami oleh mitra tutur sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan.
Oleh sebab itu, penutur perlu mempertimbangkan struktur kalimat dan pilihan kata sebelum menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Bahasa tidak hanya digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan pesan yang harus mempertimbangkan penerimaan pihak lain.
“Jadi, kalau hanya memikirkan sepihak, iya kenapa harus disajikan kepada orang lain? Cocok untuk dirinya maka iya harus cocok dengan orang lain, karena bahasa itu sajian yang bukan hanya digunakan kepada diri sendiri namun juga kepada orang lain,” pungkasnya.
Klik Madura berupa meminta tanggapan kepada Ketua Yayasan Al-Uswah Pamekasan, Utsman Sayyaf. Namun, dia tidak merespons.
Sebelumnya, Klik Madura meminta tanggapan terhadap Usman berkaitan dengan pemecatan dua karyawan di SDIT Al-Uswah Pamekasan. Namun, responsnya justru mendiskreditkan jurnalis dengan melontarkan kalimat wartawan “bodrex”. (enk/nda)














