BERBICARA tentang keris tidak semata-mata berkaitan dengan hal-hal mistis. Lebih dari itu, keris merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga eksistensinya agar generasi muda mengenal dan memahami peninggalan para leluhur.
Lailiyatun Nuriyah, Pamekasan | KLIK MADURA
***
CUACA Pamekasan siang itu tidak menentu. Sesekali panas menyengat, lalu berganti hujan, dan tak jarang hanya mendung menggantung. Namun, perubahan cuaca tersebut tidak mampu memadamkan gairah yang bergejolak. Semangat justru kian terasa, seolah tak kuasa dibendung.
Madura bukan sekadar pulau yang dapat dikunjungi wisatawan melalui Jembatan Suramadu atau kapal feri di Pelabuhan Kamal, Bangkalan.
Bergerak ke arah timur, melewati Kabupaten Sampang, terdapat Pamekasan yang tak henti-hentinya memancarkan pesona budaya. Dari proses berpikir, merenung, hingga mencipta, lahirlah pusaka yang menjadi titipan berharga bagi generasi masa depan.
Kuda besi sang jurnalis melaju menuju sebuah rumah di pusat kota, tepatnya di Jalan Nugroho, Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan.
Di tempat itu, ia berjumpa dengan seorang lelaki yang ramah sekaligus berwibawa. Rambutnya terurai, kaus hitam berpadu dengan sarung batik yang dikenakannya. Tiga cincin batu akik tampak bertengger di jari-jarinya.
“Akhirnya bisa bertemu lagi. Silakan masuk. Mohon maaf kalau berantakan. Beginilah rumah seniman,” ujar Arief Wibisono sambil tersenyum.
Keris, bagi Arief yang akrab disapa Ayek, bukan sekadar senjata. Keris merupakan bagian dari seni dan menjadi anugerah bagi mereka yang diberi kemampuan untuk memahami serta merawatnya.
Ketertarikannya bermula dari sebuah mimpi. Dalam mimpi tersebut, ia melihat Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, menunggangi kuda hitam. Mimpi itu kemudian bersambung dengan peristiwa nyata pada tahun 2006 ketika Ayek menerima undangan ke Jakarta.
Undangan tersebut berkaitan dengan pameran keris bertema Mistik dan Nalar. Seolah semesta mendukung, pada kesempatan itu Ayek bertemu dengan salah satu ajudan Soekarno, Haryono Haryoguritno.
“Saat itu saya banyak menyerap pesan yang beliau sampaikan, terutama tentang bagaimana keris seharusnya dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkap Ayek.
Sepulang dari Jakarta, pria yang kini menjadi Ketua Dewan Kesenian Pamekasan terpilih itu merasa terpanggil untuk membela dan merawat warisan berharga tersebut.
Ia semakin tersadar ketika mengetahui bahwa keris bukan hanya diwariskan kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga diakui oleh dunia. Bahkan, UNESCO telah menetapkannya sebagai warisan budaya tak benda.
“Jadi ini bukan sekadar warisan, melainkan titipan,” katanya.
Pria berambut gondrong itu kemudian mulai belajar menempa keris di Aeng Tongtong, Kabupaten Sumenep. Di wilayah tersebut terdapat enam sentra perkerisan, mulai dari pengolahan bahan dasar hingga menjadi sebilah keris yang utuh.
Ayek membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin mengenal budaya dan seni, khususnya keris, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, mempelajari keris ibarat menemukan kunci untuk menelusuri masa lalu.
“Kalau tidak menemukan arah dalam hidup, kembalilah pada kearifan lokal,” pesannya.
Di era digital saat ini, keris justru memiliki peluang besar. Pasarnya terbuka luas hingga mancanegara. Hal tersebut menegaskan bahwa keris bukanlah benda kuno yang tertinggal oleh zaman.
“Keris memiliki sistem pasar yang luar biasa. Jika mampu mengambil celah itu, hasilnya akan sangat besar,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa keris tidak seharusnya dipandang dari sisi mistis semata. Di dalamnya terkandung nilai-nilai tentang hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam, baik hewan, tumbuhan, maupun lingkungan sekitarnya.
“Itu yang seharusnya kita pahami,” pungkasnya. (*/nda)














