Bukan Lagi Soal Sanksi, Ini Soal Budaya Politik

- Jurnalis

Minggu, 31 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Misbahul Munir Ali, Direktur Visi Politik Indonesia.

—-

TRAGEDI Affan Kurniawan adalah alarm keras. Seorang pengemudi ojek online tewas, bukan karena kecelakaan biasa, tapi dalam demonstrasi yang seharusnya menjadi ruang demokrasi. Ia meninggal di jalanan, saat menyuarakan suara yang mestinya sampai ke telinga para wakil rakyat.

Demokrasi yang kita banggakan ternyata masih menyisakan wajah bengis. Negara yang seharusnya melindungi justru menampilkan kekuatan represif. Kita jadi bertanya: demokrasi ini untuk siapa?

Lalu, apa respons elite politik? Ada yang bereaksi cepat. Partai NasDem dan PAN misalnya, menonaktifkan kader mereka yang tersorot publik. Langkah yang patut diapresiasi. Tapi apakah cukup? Jelas tidak. Itu baru pemadam kebakaran.

Baca juga :  Bangkalan Darurat Narkoba

Mengapa kita hanya sibuk menghukum individu, bukan memperbaiki sistem? Karena politik kita masih berada dalam jebakan yang disebut state capture—kondisi ketika institusi negara dikuasai oleh kepentingan sempit kelompok tertentu. Dalam situasi seperti ini, hukum dan kebijakan sering kali berpihak pada penguasa, bukan rakyat.

Krisis komunikasi elite politik dengan rakyat butuh perombakan kurikulum politik yang lebih substantif dan wise, sehingga mereka senantiasa peka terhadap kesulitan yang dialami rakyat.

Kurikulum politik? Ya, karena elite kita dididik untuk berebut kekuasaan, bukan membangun empati. Mereka pandai bicara soal angka elektabilitas, tapi gagap ketika bicara tentang rasa keadilan.

Baca juga :  Perempuan - Perempuan Digital

Padahal teori representasi Hannah Pitkin sudah mengajarkan sejak 1967: wakil rakyat itu bukan hanya hadir secara fisik, tapi juga menghadirkan suara rakyat dalam kebijakan. Faktanya, jarak elite dan rakyat semakin lebar.

Di sinilah pentingnya civil society. Masyarakat sipil harus kuat untuk mengontrol negara. Tapi apa yang terjadi? Ruang gerak masyarakat sipil justru dipersempit. Setiap kali rakyat bersuara, mereka dibalas dengan barikade aparat. Apalagi kalau suaranya mengganggu kenyamanan kekuasaan.

Tragedi Affan bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah cermin rapuhnya demokrasi kita. Demokrasi yang masih procedural, bukan substansial. Demokrasi yang masih menjadikan rakyat hanya angka dalam kotak suara.

Baca juga :  Perginya Jurnalis Bermazhab Masdawian

Kalau kita tidak segera berubah, demokrasi akan tetap jalan—tapi pincang. Dan setiap kali ada yang terinjak, itu selalu rakyat kecil.

Publik sudah lelah dengan pernyataan manis. Yang mereka tunggu adalah langkah konkret: reformasi budaya politik, transparansi DPR, dan keberpihakan partai terhadap rakyat, bukan terhadap kekuasaan.

Affan mungkin sudah tiada. Tapi namanya akan jadi pengingat, bahwa demokrasi tanpa empati hanyalah topeng yang menakutkan. (*)

Berita Terkait

Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak
Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis
Mutasi Membantah Matahari Kembar
Meneguhkan Arah Baru NU Sumenep: Dari Khidmah Kultural Menuju Kemandirian Sosial
Metamorfosa Kata
Pemikiran Filsafat Islam Modern Tentang Self Direction untuk Menjawab Tantangan Modernitas
Valen, Media, dan Atribusi
Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 02:15 WIB

Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak

Jumat, 16 Januari 2026 - 05:51 WIB

Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis

Kamis, 15 Januari 2026 - 03:17 WIB

Mutasi Membantah Matahari Kembar

Selasa, 13 Januari 2026 - 08:31 WIB

Meneguhkan Arah Baru NU Sumenep: Dari Khidmah Kultural Menuju Kemandirian Sosial

Sabtu, 10 Januari 2026 - 01:20 WIB

Metamorfosa Kata

Berita Terbaru