Soekarno Inspirator Kelestarian Lingkungan

- Jurnalis

Senin, 16 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abd Wafi, Kader GMNI.

 “Aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan.” –Soekarno kepada Cindy Adam-

——

IAPA yang tak mengenal sosok Soekarno, tokoh kharismatik yang selalu menjadi sumber inspirasi para generasi muda. Namun dari semua catatan yang beredar, hanya sedikit narasi yang membahas kepedulian beliau terhadap lingkungan.

Kendati demikian kalau kita lebih dalam mempelajari Soekarno pastilah akan menemukan catatan-catatan yang bisa menunjukkan kalau ia sangat peduli terhadap lingkungan.

Marilah perlahan kita masuk pada catatan-catan yang menunjukkan kalau ia menaruh perhatian terhadap kelestarian ligkungan.

Baca juga :  KOHATI Sebagai Role Model Gerakan Perempuan?

Pada kongres buruh kehutanan tapatnya pada tanggal 27 september 1946 di Malang. Menurutnya, ‘350 tahun kita tak bernegara. Kita ingin hidup bernegara. Kita berjuang menumpahkan darah untuk hidup. Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber, tidak ada air.”

Selanjutnya di tahun 1955 pada saat berkunjung ke Arab Saudi, Soekarno membawa pohon mimba untuk ditanam di Padang Arafah. Pohon itu bertumbuh subur dan berkembang pesat. Saat ini, padang Arafah dipenuhi pohon  mimba, yang kini berganti nama menjadi Pohon Soekarno.

Bahkan Soekarno juga menanam pohon beringin di Istana Negara dan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pohon beringin di Universitas Sanata Dharma itu hingga kini masih kokoh berdiri tegak. Hal yang sama juga terjadi ketika Sukarno berada di Istana Tampaksiring, Bali.

Baca juga :  Genjot Literasi, UTM Gandeng Andi Publisher Gelar Bazar Buku Murah

“Sukarno senang bekerja di kebun pagi hari dan menanam banyak pohon dan menghabiskan waktu di Istana dengan tangannya sendiri,” tulis Horst Henry Geerken dalam A Magic Gecko, dan masih banyak sekali potret yang menunjukkan kepedulian beliau terhadap kelestarian lingkungan.

Dari potret sejarah tersebut, menunjukkan Soekarno menawarkan paradigma ekosentris dalam relasi antara manusia dan alam. Artinya, relasi antara manusia dan lingkungan hidup bersifat setara, tidak subordinatif, dan tidak eksploitatif.

Teladan nyata yang ditunjukkan oleh panglima besar revolusi tersebut hanya menjadi catatan sejarah yang tak pernah dijadikan rujukan nyata oleh generasi selanjutnya dalam menjaga lingkungan.

Sebab hari ini, penebangan pohon, pencemaran sungai-laut, polusi, pengerukan kekayaan alam yang berlebihan dan pembuangan sampah sembarangan telah menyebabkan banjir, perubahan iklim, kematian ekosistem darat-laut, dan masih banyak lagi bencana yang melanda bumi kita.

Baca juga :  Darurat Militer Atau Darurat Nurani

Terbaru, beranda sosial media kita dipenuhi dengan isu-isu perusakan. Misalnya, di Raja Ampat, Wawoni, Halmahera, Kalimantan, dan Papua. Dari eksploitasi tersebut, bukan kesejahteraan yang hadir, tapi penderitaan. Perusakan lingkungan hari ini menunjukkan gagalnya generasi hari ini dalam menjaga kelestarian.

Juni yang banyak kalangan menyebut sebagai bulan Bung Karno, sudah sepantasnya melakukan refleksi diri bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga hal-hal yang tak diinginkan tidak terjadi.

Melalui beberapa potret sejarah kepedulian Soekarno terhadap kelestarian lingkungan harusnya menjadi inspirasi bagi kita hari ini, untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan. (*)

Berita Terkait

Buku dan Tantangan Membaca di Era Banjir Informasi
Tak Ada Herder di Bibir Penguasa
Teks, Konteks, dan Antiklimaks
Peringatan World Press Freedom 2026, Momentum Menjadikan Jurnalis Adaptif dan Independen 
MH Said Abdullah Sang Mentor Sejati
Membaca Arah, Mengeja Sejarah
May Day 2026: Mengakhiri Ketidakadilan Bagi Buruh Perempuan
Mono Nakoda, Multi ABK

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:29 WIB

Buku dan Tantangan Membaca di Era Banjir Informasi

Jumat, 15 Mei 2026 - 04:12 WIB

Tak Ada Herder di Bibir Penguasa

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:37 WIB

Teks, Konteks, dan Antiklimaks

Minggu, 3 Mei 2026 - 00:36 WIB

Peringatan World Press Freedom 2026, Momentum Menjadikan Jurnalis Adaptif dan Independen 

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:35 WIB

MH Said Abdullah Sang Mentor Sejati

Berita Terbaru

Catatan Pena

Urgensi PLTMG Saronggi

Selasa, 19 Mei 2026 - 02:00 WIB