SURABAYA || KLIKMADURA – Perempuan dan anak menjadi kelompok yang rentan menghadapi berbagai risiko di ruang digital. Kondisi tersebut mendorong Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PKC PMII Jawa Timur mendesak penguatan literasi, edukasi, dan kolaborasi untuk mewujudkan ruang digital yang aman, ramah, dan inklusif.
Dorongan tersebut disampaikan KOPRI Jatim saat melakukan audiensi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur di Aula Argopuro Diskominfo Jatim, Rabu (23/9/2026).
Audiensi tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas berbagai tantangan di tengah semakin luasnya penggunaan teknologi digital. Persoalan yang menjadi perhatian di antaranya perundungan digital, kekerasan berbasis gender online, penyalahgunaan data pribadi, hingga paparan informasi yang tidak ramah bagi anak.
Kegiatan tersebut dihadiri Kholisatul Hasanah bersama sejumlah pengurus KOPRI PKC PMII Jawa Timur. Rombongan diterima jajaran Diskominfo Jawa Timur yang diwakili Nofian Adi Prasetyawan, S.Kom., M.I., selaku Ketua Tim Kerja Pusat Data, serta Drs. Satriyo Wahyudi, M.Si., selaku Ketua Tim Kerja Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan Penyelenggaraan Statistik.
Dalam pertemuan tersebut, KOPRI Jatim mendorong Diskominfo Jatim memperkuat kampanye digitalisasi yang ramah terhadap kelompok rentan. Selain itu, diperlukan ruang komunikasi dan informasi yang mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam beraktivitas di dunia digital.
“Kami ingin ruang digital tidak hanya menjadi ruang untuk mendapatkan informasi, tetapi juga menjadi ruang yang aman bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan. Karena itu, kami mendorong adanya kolaborasi untuk memperkuat kampanye digitalisasi yang ramah dan inklusif serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan ruang digital secara aman dan bertanggung jawab,” tutur Kholisatul Hasanah.
KOPRI Jatim menilai penguatan literasi digital tidak bisa dibebankan kepada satu pihak. Kolaborasi diperlukan agar masyarakat tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami keamanan, etika, serta cara melindungi diri ketika beraktivitas di ruang digital.
Menanggapi dorongan tersebut, Nofian Adi Prasetyawan menyampaikan bahwa terciptanya ruang digital yang aman merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, keterlibatan organisasi mahasiswa dan masyarakat dinilai penting dalam memperluas edukasi serta literasi digital.
“Ruang digital yang aman merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi dengan organisasi mahasiswa dan masyarakat menjadi penting untuk memperluas edukasi serta literasi digital sehingga pemanfaatan teknologi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ungkap Nofian Adi Prasetyawan.
Sementara itu, Drs. Satriyo Wahyudi, M.Si., menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam memahami serta menggunakan informasi secara tepat seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Perkembangan teknologi harus diiringi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menggunakan informasi secara tepat. Karena itu, edukasi dan literasi digital menjadi bagian penting dalam membangun ruang komunikasi yang sehat, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Satriyo Wahyudi.
Melalui audiensi tersebut, KOPRI Jatim berharap terbangun sinergi berkelanjutan bersama Diskominfo Jatim. Kolaborasi tersebut diarahkan pada penguatan literasi digital, edukasi publik, serta kampanye yang mendorong terciptanya ruang digital yang aman, inklusif, dan ramah bagi perempuan serta anak. (nda)














