Puisi-puisi Sultan Musa

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MENYESAP KEMELEKATAN SECANGKIR TEH
ini bukan hanya tentang secangkir teh
tapi tempat aman berkeluh kesah
juga tentang bagaimana dirimu
terhubung dengan diri sendiri
dan mampu bercerita siapa dirimu
dengan hati terbuka
mengajak merenung: sejauh mana sanggup di jalan sunyi?
ia adalah pengingat,
menjawab dirimu dengan jujur
tanpa tekanan…
tanpa penilaian….
tanpa terburu…
tanpa menuntut….
larut dalam keheningan
serupa diri yang kadang perlu diam
secangkir teh dalam cawan sederhana
memberikan arti sejumput proses
tertuang helai daun pilihan
menyentuh air, mendidih perlahan
larut dalam kematangan rasa
tenggelam membiarkan diri
berikan waktu berwarna pekat
dan ketulusan aroma mengalun
menari hangatnya pelan
seperti doa membasuh relung
…..adalah doa terdalam
pelukan untuk diri sendiri
–2025.

Baca juga :  Bertolak Dari Arsip Sehari-hari

MERAPAH PESAN MALAIKAT TANAH HIJAU
seperti semesta kecil
hutan bukan hanya tentang jiwa itu
…..adalah dimana kau temui kedamaian
saksi bisu perjalanan waktu
seperti semesta kecil
hutan bukan hanya tentang tubuh itu
…..adalah dimana kau terbenam bebas
menyaksikan daun-daun menari di atas angin
jiwa dan tubuh tumpah ruah
menawarkan dinginnya rahasiamu
di antara ranting-ranting
cerita kuno yang tersemat
daun-daun berbisik
menyimpan namamu dalam rupa-rupa
serta peluk tawa pepohonan
saat malam merayap
di bawah langit terbuka
malaikat tanah hijau berpesan;
hutan milik yang mencintai (dan dicintai)
–2025

AIR MATA BUMI: PENCARIAN JALAN PULANG
didekap kekeringan yang pilu dan panjang
selemparan pandang hanya ada bayu yang memanggang
semua menjelma bisu dalam pelukan debu
di bawah taring matahari yang melaju tanpa rindu
hutan-hutan yang dulu rimbun kini menjadi nisan
meninggalkan jejak-jejak sunyi yang tak terlukiskan
di bilik peradaban manusia perlahan menjadi debu
lalai menjaga rahim alam hingga lidahnya kelu
kita sibuk membangun istana di atas luka semesta
lupa bahwa napas kita adalah pinjaman dari yang sisa
setelah bumi berselimut kaku dalam jubah yang gersang
terasa selaksa air mata bumi berliku, mengalir tanpa penghalang
adakah manusia tahu ke mana jalan untuk pulang?
menyeka air mata ibu bumi yang kini kian mengerang
di antara lorong waktu yang sempit dan menyesakkan
pada ujung jalan dengan dinding-dinding yang berlubang
mencintai bumi bukan lagi sekadar pilihan,
melainkan napas terakhir sebuah janji pada akar dan hulu
agar esok tak mewariskan segenggam abu puing peradaban
pada tangan mungil anak-cucu yang merindu
–2026.

Baca juga :  Makna Cinta

****
SULTAN MUSA – Samarinda, Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar di berbagai platform media online dan media cetak nasional maupun internasional. Karya-karyanya masuk dalam beberapa antologi bersama penyair nasional dan internasional. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, Spanyol, dan Argentina. Namanya juga tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, Jakarta, 2017). Instagram: @sultanmusa97.

Berita Terkait

Mengulas Buku Laut Bercerita Di Pulau Garam, Tiga Gangguan Psikologis Dialami Tokoh Novel
Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy
Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”
Daun-Daun yang Gugur dari Hati BH. Riyanto
Makna Cinta
Belajar Tulus dari Hati Suhita
Kumpulan Sajak Nuril Izza Afgarina
[CERPEN] You Can Call Me, Saaa…

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 07:14 WIB

Puisi-puisi Sultan Musa

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:51 WIB

Mengulas Buku Laut Bercerita Di Pulau Garam, Tiga Gangguan Psikologis Dialami Tokoh Novel

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:04 WIB

Kumpulan Puisi Karya Joni Efendy

Selasa, 19 Mei 2026 - 05:41 WIB

Ketika Suramadu Menjadi Horor yang Memikat dalam Film “Tumbal Proyek”

Jumat, 15 Mei 2026 - 02:22 WIB

Daun-Daun yang Gugur dari Hati BH. Riyanto

Berita Terbaru

Sastra

Puisi-puisi Sultan Musa

Sabtu, 18 Jul 2026 - 07:14 WIB

Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi As. (DOK. KLIKMADURA)

Opini

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Sabtu, 18 Jul 2026 - 03:02 WIB