SAMPANG || KLIKMADURA – Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah pusat belum sepenuhnya mendapat sambutan positif di Kabupaten Sampang. Buktinya, kuota jenjang Sekolah Dasar (SD) sebanyak 90 kursi baru terisi 53 calon siswa.
Rendahnya minat pada jenjang SD berbeda dengan kondisi di tingkat SMP dan SMA yang justru mencatat jumlah pendaftar melebihi kuota. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya keraguan masyarakat terhadap konsep pendidikan berasrama bagi anak usia dini.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sampang, Yuliadi Setiawan, mengakui banyak orang tua belum siap melepas anak-anak mereka yang masih berusia SD untuk tinggal di asrama. Menurutnya, kekhawatiran itu menjadi faktor utama belum terpenuhinya kuota penerimaan.
Meski demikian, pemerintah menilai Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan formal. Program tersebut juga dirancang untuk membentuk karakter, memperkuat pendidikan agama, serta mengembangkan minat dan bakat peserta didik.
Di sisi lain, keraguan masih dirasakan sebagian masyarakat. Seorang warga Kecamatan Camplong yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menilai anak usia SD masih membutuhkan pendampingan langsung dari orang tua.
“Anak seusia SD masih sangat membutuhkan pendampingan orang tua. Kami bukan menolak sekolahnya, tetapi belum yakin anak sekecil itu siap tinggal di asrama. Orang tua juga pasti khawatir kalau tidak bisa mengawasi perkembangan anak setiap hari,” ujarnya.
Pendapat serupa juga disampaikan warga lainnya yang enggan disebutkan namanya. Menurut dia, pemerintah perlu lebih dahulu membangun kepercayaan masyarakat sebelum berharap kuota peserta didik dapat terpenuhi.
“Program ini mungkin niatnya baik, tetapi pemerintah harus memahami cara pandang masyarakat. Banyak orang tua masih merasa pendidikan terbaik untuk anak SD adalah tetap dekat dengan keluarga. Sosialisasi saja belum cukup kalau kekhawatiran masyarakat belum benar-benar dijawab,” katanya.
Seluruh calon peserta didik yang telah mendaftar nantinya akan mengikuti seleksi elektronik yang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial.
Seleksi tersebut diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga desil satu atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
Pemerintah Kabupaten Sampang berharap masyarakat yang memenuhi persyaratan dapat memanfaatkan program tersebut.
Namun, belum terpenuhinya kuota jenjang SD menjadi catatan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga kemampuan pemerintah membangun kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan berasrama. (ali/nda)













