Intelektual Tradisional itu Akademisi Yang Membeo

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abd wafi, Alumni GMNI.

—

“Kekuasaan yang langgeng membutuhkan dua perangkat kerja, yang pertama berupa tindakan kekerasan yang bersifat memaksa. Yang kedua bersifat lunak, yakni dengan membujuk. Perangkat keras yang memaksa itu dilaksanakan oleh lembaga-lembaga hukum, militer, polisi dan penjara. Sementara yang lunak bersifat membujuk, dilancarkan dalam pranata kehidupan swasta, seperti dalam kebidupan agama, pendidikan, budaya dan keluarga.” -Antonio Gramsci, pemikir Marxis asal Italia.-

*****

PEMERINTAHAN sekarang (Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka) tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah produk dari sebuah orkestrasi budaya yang sangat rapi. Dari awal rezim ini sadar, jika dominasi kekuasaan yang paling absolut justru terjadi ketika negara tidak perlu lagi mengeluarkan satu butir peluru pun.

Baca juga :  Perginya Jurnalis Bermazhab Masdawian

Kekuasaan tertinggi tercapai ketika ia berhasil merayap masuk ke dalam pikiran, mengontrol selera, dan mendikte apa yang kita sebut sebagai “kewajaran.”

Setelah perangkat kerja pertama (represif) gagal dalam membuat kepatuhan. Langkah kedua-pun diambil yaitu menarik para cendikiawan dan mantan aktivis 98 masuk dalam pemerintahan.

Berharap merekalah yang nantinya melakukan hegemoni dalam rangka membujuk dan melahirkan sebuah kepatuhan diruang-ruang sipil. Gramsci menyebutnya sebagai intelektual tradisional.

Intelektual tradisional adalah mereka yang menjadi kepanjangan tangan dari penguasa dalam lembaga pemerintahan yang sedang berlangsung. Mereka memiliki tugas untuk membentuk prespektif masyarakat supaya sejalan dengan kehendak penguasa serta memanfaatkan pengetahuannya untuk mendukung penguasa.

Baca juga :  Peran Sarjana di Era Disrupsi: Tantangan dan Peluang

Mereka sesungguhnya akademisi yang membeo, memberikan legitimasi kepada kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak dan merugikan rakyat yang dilakukan oleh para penguasa dan oligarki yang memiliki kepentingan materil.

Mereka sendiri diuntungkan dengan jabatan, gaji yang tinggi, tunjangan, hibah proyek, dan keuntungan materil lainnya. buktinya yang dilakukan Budiman Sudjatmiko, Nusron wahid dan lain-lain.

Sekali lagi saya sebut mereka Membeo, sebab pembenaran yang mereka utara terhadap kebijakan-kebijakan elitis yang merugikan rakyat, hanya untuk menjaga posisi aman dan kepentingan material mereka.

Mereka yang membeo sebenarnya sudah kehilangan independensinya sebagai manusia yang arif. “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” ungkap Pramodya Ananta Toer.

Baca juga :  Antrean Digital Amburadul, Ironi “War” Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran

Jika negara ini di asuh oleh mereka yang membeo tidak mungkin akan lahir suatu kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil, sebab kalkulasi mereka adalah kepentingan pribadi.

“politik dalam bentuk yang paling buruk adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri ( politics at its worst is aselfish grab for power, glory and riches).”-peter merkl- (*)

Berita Terkait

Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Tumbuh Generasi Muda
Sumpah Pemuda: Sumpah Generasi Muda Mutatis Mutandis
Imajinasi Pemekaran Kabupaten Kepulauan Kangean
Menggugat Stigma Dangkal: Membebaskan Sosialisme Indonesia dan GMNI dari  Sesat Fikir “Bahaya Laten Komunisme”
Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?
Aracok Budhaja: Sebuah Catatan Merapal Ingatan, Masyarakat Blega Menjaga Kebudayaan
Berpikir Ala Lebah: Inspirasi Al-Qur’an Membangun Ilmu, Akhlak, dan Peradaban
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:59 WIB

Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Tumbuh Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Sumpah Pemuda: Sumpah Generasi Muda Mutatis Mutandis

Sabtu, 19 September 2026 - 09:55 WIB

Imajinasi Pemekaran Kabupaten Kepulauan Kangean

Kamis, 17 September 2026 - 06:35 WIB

Menggugat Stigma Dangkal: Membebaskan Sosialisme Indonesia dan GMNI dari  Sesat Fikir “Bahaya Laten Komunisme”

Kamis, 27 Agustus 2026 - 02:33 WIB

Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?

Berita Terbaru