Hari Kebangkitan Nasional: Momentum Kebangkitan Masyarakat Sipil

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Moh. Sobir, Pengurus LAKPESDAM PCNU Sumenep.

*****

HARI Kebangkitan Nasional tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi pidato dan slogan patriotisme. Lebih dari itu, momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama tentang arah bangsa, terutama terkait posisi dan peran masyarakat sipil dalam menjaga demokrasi dan cita-cita reformasi.

Reformasi 1998 lahir dari semangat perlawanan terhadap praktik kekuasaan yang sentralistik, represif, dan menempatkan kontrol negara di atas kebebasan warga.

Spirit reformasi menegaskan bahwa demokrasi hanya dapat tumbuh sehat apabila masyarakat sipil diberi ruang hidup yang luas, kritis, dan independen.

Baca juga :  Menahan Lapar Kekuasaan

Kampus, media, organisasi masyarakat, aktivis, hingga komunitas akar rumput menjadi fondasi penting dalam mengawal negara agar tetap berada di jalur konstitusi dan kepentingan rakyat.

Namun hari ini, publik mulai menyaksikan adanya gejala pergeseran ruang sipil. Keterlibatan kelompok militer dalam berbagai sektor sipil semakin meluas, baik dalam ranah birokrasi, kebijakan publik, hingga urusan-urusan yang sejatinya dapat diselesaikan melalui pendekatan sipil dan demokratis.

Situasi ini patut menjadi perhatian bersama, bukan karena anti terhadap institusi militer, melainkan demi menjaga batas dan keseimbangan antara otoritas sipil dan kekuatan negara.

Baca juga :  Kembalilah Nurani

Indonesia dibangun di atas prinsip supremasi sipil. Dalam negara demokrasi, militer memiliki posisi terhormat sebagai penjaga pertahanan negara, sementara ruang sipil harus tetap menjadi arena kebebasan berpikir, partisipasi publik, dan kritik terhadap kekuasaan. Ketika ruang sipil mulai menyempit, maka demokrasi perlahan kehilangan ruhnya.

Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi alarm moral bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali meneguhkan spirit reformasi: memperkuat partisipasi rakyat, melindungi kebebasan berpendapat, serta memastikan negara tidak berjalan dengan pendekatan kekuasaan semata.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kuat secara militer, tetapi bangsa yang mampu merawat kebebasan, keadilan, dan keberanian rakyatnya untuk bersuara.

Baca juga :  Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis

Sudah saatnya masyarakat sipil kembali bangkit. Organisasi kemasyarakatan, kaum muda, akademisi, pesantren, dan seluruh elemen rakyat harus mengambil peran aktif dalam menjaga demokrasi agar tidak kehilangan arah.

Kebangkitan sejati bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi tentang keberanian menjaga masa depan Indonesia yang tetap demokratis, humanis, dan berpihak kepada rakyat. (*)

Berita Terkait

Berpikir Ala Lebah: Inspirasi Al-Qur’an Membangun Ilmu, Akhlak, dan Peradaban
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Prabowo dan Komisi 1 DPRD Sumenep
Sangkakala Demokrasi dan Absurditas Kekuasaan
Intelektual Tradisional itu Akademisi Yang Membeo
Dari Politik Kekuasaan Menuju Politik Perubahan
Menata Hati, Meniti Hari-hari
Bulan Bung Karno dan Penguatan Wawasan Kebangsaan

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 04:43 WIB

Berpikir Ala Lebah: Inspirasi Al-Qur’an Membangun Ilmu, Akhlak, dan Peradaban

Sabtu, 18 Juli 2026 - 03:02 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Senin, 22 Juni 2026 - 00:13 WIB

Prabowo dan Komisi 1 DPRD Sumenep

Jumat, 19 Juni 2026 - 01:12 WIB

Sangkakala Demokrasi dan Absurditas Kekuasaan

Selasa, 16 Juni 2026 - 07:19 WIB

Intelektual Tradisional itu Akademisi Yang Membeo

Berita Terbaru

DPRD Sampang menerima audiensi dari DKR dan RSUD dr. Moh. Zyn terkait pasien PAPS. (KLIKMADURA)

Sampang

DPRD Sampang Kawal Hak Pasien PAPS

Kamis, 20 Agu 2026 - 02:04 WIB