Cukup Engkau Saja

- Jurnalis

Jumat, 13 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Cinta Negeri Tak Sebercanda itu)

Oleh : Abrari Alzael, Budayawan, Jurnalis Senior

*****

SEORANG WNI, Dwi Sasetyaningtyas, penerima beasiswa LPDP (Lembaga Dana Pengelola Pendidikan), tiba-tiba populer. Terutama, saat Tyas (sapaannya), begitu bangga mempertontonkan sebuah video. Ia sangat senang memperlihatkan dokumen yang mengukuhkan putranya sebagai warga negara asing (Inggris).

Lalu berucap, “Cukup aku saja yang menjadi WNI, anakku jangan.”
Tayangan itu viral di jagat maya. Banyak yang memberi komentar. Dari narasi yang diucapkan netizen, rata-rata, menyayangkan.

Pertama, ia belajar di luar negeri sebagai WNI. Namun, dengan ucapannya seperti menegasikan peran negaranya dan memberi kesan pembangkakan terhadap latar belakang.

Kedua, ia memberi kesan tidak cinta terhadap tanah airnya, yang telah memberikan ruang baginya untuk belajar dan di kemudian hari kembali ke negara asalnya, untuk mengabdi, membangun, dan berkeadaban.

Di luar itu, terbongkar pula, suami Tyas, Arya Iwantoro, juga sebagai WNI yang mendapat kesempatan untuk belajar dibiayai LPDP juga. Tetapi dalam perjalanannya, keluarga ini tidak kembali ke Indonesia.

Lebih dari itu, ekspresi yang divisualisasikan, terlihat secara psikologi aura, menampilkan wajah yang menggembirakannya karena kehendak untuk tidak menjadi WNI bagi anaknya terkonfirmasi dengan baik oleh Pemerintah Inggris.

Sebelum peristiwa ini, tahun lalu, muncul tagar kabur saja dulu. Tagar ini muncul dari anak bangsa yang nyaris frustasi tinggal di negeri ini karena sulit mendapatkan pekerjaan. Itu sebabnya, ia merasa perlu untuk hengkang ke negara lain untuk mencari penghidupan yang dianggapnya lebih layak, bagi dirinya.

Dari luar negeri juga, melalui video yang diunggahnya, muncul nama Salsa Erwina yang mengacak-acak salah satu anggota DPR RI, Sahroni, di jagat maya. Nama ini sempat populer tetapi kemudian lenyap begitu saja.

Baca juga :  Nasib Ibu Rumah Tangga dan Efek Domino Kenaikan PPN 12 Persen

Dalam kasus Tyas, cibiran datang bertubi dengan nilai nasionalisme yang dianggapnya rapuh. Sejumlah pihak baik dari penanggungjawab pengelolaan LPDP, Sudarto, hingga Menteri Keuangan Purbaya, memberikan statement bahkan meminta dana LPDP yang dikeluarkan pemerintah untuknya, dikembalikan.

Begitu juga dalam peristiwa tagar kabursajadulu, ditanggapi beragam termasuk Wamenaker Imanuel Ebenezer yang memberi sindiran agar terus saja kabur dan tidak usah kembali lagi ke tanah kelahirannya.

Sementara pada peristiwa Salsa Erwina, banyak yang support dan menilainya sebagai sosok yang care terhadap bangsanya meski ia menetap di luar negeri.

Sekitar tahun 1995 di Jogjakarta, dalam sebuah acara diklat jurnalistik di Jogjakarta, budayawan dan kolumnis senior Goenawan Mohamad, menjadi nara sumber di diklat ini. Disebutkan, ada berita di balik berita. Mungkin juga, ada cerita di balik cerita. Bahkan, diuraikan, ada kemungkinan ada derita di balik berita.

Maka, pada saat terjadi sesuatu, kemungkinannya, sesuatu itu berdiri sendiri, atau sesuatu itu menjadi sesuatu, karena ada sesuatu lainnya yang ikut menggerakkan, sebagaimana hukum Newton I.

Itu sebabnya, ada beberapa tafsir terhadap peristiwa Tyas yang membuat istilah, cukup aku saja dalam kasus WNI-WNA. Pertanyaannya, benarkah ia bergerak sendiri atau ada yang menggerakkannya untuk bersikap seperti itu karena di negeri ini sedang ramai sesuatu yang lain?

Apakah viralitas itu by design untuk mengalihkan isu tertentu semisal pernyataan Ketua DPD RI Sultan B Najamuddin yang meminta sumbangan rakyat untuk keberpihakan terhadap MBG?

Apakah viralitas itu juga karena Menteri Agama Nazaruddin Umar memiliki rencana agar dana MBG juga diambilkan dari baznas? Apakah viralitas Tyas ini juga berkait dengan rencana pemerintah yang hendak impor 105.000 unit pick up dari India yang setarikan nafas dengan kunjungan Jokowi ke India belum lama ini?

Baca juga :  Kabar Gembira Bagi Para Petani, Harga Pupuk Turun 20 Persen

Tafsir-tafsir itu muncul di tengah masyarakat secara sporadis. Sebagai interpretasi, tentu saja ini wajar. Meskipun, secara epistemologi-empirik memang perlu diuji realibilitas dan validitasnya.

Apakah misalnya, ada hubungan atau tidak ada hubungan yang signifikan antara X dan Y? Lalu bagaimana dengan teori dalam hukum Newton I, bahwa sebuah benda bergerak karena ada benda lain yang menggerakkannya?

Gergasi Teknologi

Informasi dan teknologi mutakhir, seringkali menjerembabkan publik dan melahirkan stress. Begitu banyak sajian informasi yang belum teruji tetapi itu dianggap sebagai kebenaran karena tersaji secara berulang-ulang.

Satu informasi hadir dan belum sempat ditelaah, lalu muncul informasi lain dan juga belum diasah, sehingga algoritma otak mengalami over load. Sebagian publik malas mikir namun muncul sikap ambigu dimana kebenaran dibuat dari posisinya sendiri.

Tyas, terlepas dari kemungkinan tafsir-tafsir itu, memunculkan statement yang menghentak publik, menyayangkan, dan mempertanyakannya, kok bisa kacang lupa pada kulitnya?

Tetapi jangan salah, ini republik, sesuatu yang tidak dimungkinkan terjadi bisa saja terlaksana karena ketidaksanggupan mencerna yang dihadapi.

Sebagian besar publik seringkali mengutuk tanpa memperluas cakrawala bertanya, mengapa sikap itu diambil, apa latar belakangnya, apa tujuan dan sebagainya Pangkal dari hampir semua peristiwa berikut sikap yang dipilih oleh siapapun, seringkali lahir dari investigasi yang tidak lengkap.

Disadari atau tidak, ada tradisi yang hilang dari religiusitas hari-hari anak bangsa, yakni budaya literasi. Akibatnya, seseorang berpikir atau menyesal kemudian setelah prilaku ditampilkan.

Baca juga :  Dua Ton Sabu, Rakyat Ribut Soal Jaksa

Tyas, mungkin saja kecewa karena menjadi bagian anak bangsa dari negeri ini yang dinilainya seperti materi dalam pelajaran Bahasa Indonesia dulu, kata benda tak beraturan. Sementara di tempat yang lain, banyak anak bangsa yang juga kecewa terhadap bangsa ini namun tidak memilih prilaku yang ditonilkan Tyas.

Contoh anak muda lainnya, Tiyo Ardiyanto, Ketua BEM UGM, memilih gaya yang berbeda dalam bernarasi untuk kebaikan bangsa ini, menurut keyakinannya dan karena itu, ia kritis terhadap pemerintah. Banyak pihak yang setuju dengan pendapatnya dan terdapat pihak lain juga yang tidak sependapat dengan nalar Tiyo.

Sementara Tyas, mungkin saja selesai membaca cerita John Lenon dan memposisikan dirinya sebagai Mark David Chapman, penggemar fanatik yang terobsesi dengan sang musisi.

Tetapi, Chapman yang penggemar Lenon itu kemudian menembaknya di Dakota, New York City saat jam menunjuk pukul 22.50 pada 8 Desember 1980. Padahal, beberapa jam sebelum kejadian, Chapman sempat bertemu Lenon untuk meminta tanda tangan di album Double Fantasy.

Ketika ditanya, apa motif penembakan, Chapman hanya ingin populer dan menjadikan peristiwa yang dilakukannya itu sebagai sarana penunjang untuk menjadikan dirinya tenar, sesimpel itu.

Lalu bagaimana dengan Tyas, yang sebegitu mudah dan bangganya mengatakan, “Cukup aku saja yang menjadi WNI dan tidak pada anakku.” Apakah ia sebegitu cintanya kepada negeri ini dan melakukan antiklimaks yang divisualisasikan dan dipertontonkan kepada dunia?

Jika ini yang dimaksud dan bukan karena ada berita lain dibalik berita, maka cukup engkau saja, dan tidak pada yang lain. Ngono yo ngono, neng ojo ngono, sebab mencintai (Indonesia), tidak sebercanda itu. (*)

Berita Terkait

Sahur Kebijakan Publik
Uncle Sam, Cobalah Mengerti
Puasa Bukan Tekanan: Seni Mengajarkan Ramadhan Pada Anak
Menahan Lapar Kekuasaan
Control Freak dan Harakiri Kebudayaan
Ramadhan: Dari Ritual Menuju Transformasi Otentik
Antrean Digital Amburadul, Ironi “War” Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran
Perlukah Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau Madura?

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 04:16 WIB

Cukup Engkau Saja

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:32 WIB

Sahur Kebijakan Publik

Jumat, 6 Maret 2026 - 01:28 WIB

Uncle Sam, Cobalah Mengerti

Senin, 2 Maret 2026 - 03:31 WIB

Puasa Bukan Tekanan: Seni Mengajarkan Ramadhan Pada Anak

Jumat, 27 Februari 2026 - 07:12 WIB

Menahan Lapar Kekuasaan

Berita Terbaru

Opini

Cukup Engkau Saja

Jumat, 13 Mar 2026 - 04:16 WIB