SAMPANG || KLIKMADURA – Arus lalu lintas di perbatasan Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang dengan Kecamatan Bandaran, Kabupaten Pamekasan, lumpuh pada Kamis malam (9/4/2026) sekitar pukul 19.40 WIB. Penyebabnya, iring-iringan manten yang berjalan kaki memadati badan jalan utama.
Jalur yang selama ini dikenal sebagai penghubung vital antarwilayah di Madura itu mendadak berubah menjadi lautan kendaraan. Antrean mengular panjang dari dua arah, membuat pengendara tak bisa bergerak bebas.
Sejumlah pengguna jalan mengaku terjebak cukup lama di tengah kemacetan. Mereka menilai aktivitas tersebut tidak mempertimbangkan kondisi lalu lintas yang memang sudah padat, terutama pada malam hari.
“Ini jalur utama, dari sore saja sudah ramai. Kalau dipakai iring-iringan seperti ini ya pasti macet total,” ujar salah satu pengendara yang melintas.
Pantauan di lokasi, rombongan manten berjalan kaki di sepanjang badan jalan dengan diiringi keluarga dan warga.
Aktivitas itu praktis menyita hampir seluruh ruang jalan, sehingga kendaraan hanya bisa melaju tersendat, bahkan berhenti total di beberapa titik.
Tradisi iring-iringan manten sendiri masih kerap dijumpai di sejumlah wilayah Madura. Selain sebagai bentuk budaya, kegiatan tersebut juga menjadi simbol kebersamaan dan kebahagiaan keluarga mempelai.
Namun, pelaksanaannya di jalan umum, terlebih pada jalur utama dengan intensitas kendaraan tinggi dinilai perlu pengaturan lebih matang. Tanpa pengelolaan yang baik, kegiatan tersebut berpotensi mengganggu kepentingan publik.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penggunaan fasilitas umum, khususnya jalan raya, harus memperhatikan hak pengguna lainnya. Diperlukan kesadaran kolektif masyarakat agar tradisi tetap berjalan tanpa menimbulkan dampak luas.
Di sisi lain, peran pemerintah dan aparat terkait juga dinilai penting. Mulai dari sosialisasi hingga pengaturan teknis di lapangan, termasuk pengawalan atau rekayasa lalu lintas, perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.
Dengan koordinasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah, tradisi tetap bisa lestari tanpa mengorbankan kenyamanan dan kelancaran aktivitas publik. (hid/nda)
















