Susah Dapat BBM, Nelayan Pamekasan Duga Ada Permainan Mafia

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah nelayan berada di atas kapal yang sandar di Pelabuhan Branta, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH / KLIKMADURA)

Sejumlah nelayan berada di atas kapal yang sandar di Pelabuhan Branta, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH / KLIKMADURA)

PAMEKASAN || KLIKMADURA – Nelayan di Pamekasan mengeluh. Pasalnya, mereka kerap tidak bisa melaut lantaran susah mendapat bahan bakar minyak (BBM).

Ketua Asosiasi Nelayan Indonesia (ANI) Madura, Wardan, Kebutuhan BBM untuk nelayan di wilayah Pantai Branta saja mencapai 350 kilo liter (KL).

Namun, yang terealisasi hanya 190 KL. Akibatnya, banyak nelayan terpaksa tidak melaut karena kehabisan solar.

Menurut Wardan, kondisi tersebut sebagai bentuk ketidakberesan tata kelola BBM nelayan. Sebab, selama ini tidak ada keterbukaan pemerintah terkait pembagian kuota BBM antara sektor darat dan laut.

Baca juga :  Pemkab Pamekasan Wujudkan Cita-cita Anak Keluarga Tidak Mampu Bisa Sekolah di Luar Negeri hingga Jadi Dokter

“Tidak pernah ada keterbukaan soal pembagian BBM. Nelayan hanya menerima sisa. Kebutuhan sudah diajukan sejak awal, tapi realisasinya sangat sedikit,” kata Wardan dengan nada geram.

Menurutnya, dampak paling terasa adalah kosongnya stok BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN). Padahal, SPBN seharusnya menjadi tumpuan utama nelayan untuk mendapatkan solar bersubsidi.

“Mestinya nelayan dilayani di SPBN. Faktanya, SPBN sering kosong. Nelayan akhirnya beli ke SPBU, tentu biayanya lebih mahal. Ini sangat memberatkan,” ujarnya.

Wardan menyebut, setiap tahun pemerintah kabupaten sebenarnya mendapat tambahan kuota BBM. Namun, tambahan itu nyaris tidak pernah dirasakan oleh nelayan.

Baca juga :  SIWO PWI Pamekasan Resmi Ditunjuk Sebagai Operator Kompetisi Futsal 2024

“Setiap tahun kabupaten dapat tambahan kuota BBM. Tapi anehnya, jatah nelayan tidak pernah bertambah. Pertanyaannya, BBM itu ke mana? Wajar kalau kami mengira ada permainan mafia,” tegasnya.

Wardan merasa yakin ada permainan dalam distribusi BBM bersubsidi. Sebab, ketimpangan antara kebutuhan dan realisasi dinilai terlalu jauh untuk dianggap sebagai kesalahan teknis semata.

“Kalau kebutuhan 350 KL tapi yang turun hanya 190 KL, sementara nelayan tidak bisa melaut, wajar kalau kami berasumsi bahwa ada permainan,” tandas Wardan. (nda)

Berita Terkait

Ribuan E-Ijazah SMP di Pamekasan Belum Terbit, Disdikbud Sebut Banyak Dokumen Sekolah Belum Lengkap
Serapan Baru 46,31 Persen, DPRD Pamekasan Soroti Lambannya Progres Tambal Sulam Jalan
Ketua Pansus SOTK DPRD Pamekasan: Kekosongan 100 Kepsek dan 12 Kapus Tak Terkait Raperda SOTK
Curanmor di Ruko Teja Terekam CCTV, Polisi Kantongi Ciri-Ciri dan Buru Pelaku
Polres Pamekasan Segera Gelar Perkara Kasus Dugaan Perusakan Mangrove Ambat 
DBHCHT Anjlok, Ribuan Buruh Tani Tembakau di Pamekasan Tak Lagi Terima BLT
Meski Sekolah Masih Disegel, SPMB SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan Tetap Dibuka
Imigrasi Pamekasan Jadi Tuan Rumah BERSAPDA 2026, Perkuat Sinergi Forkopimda dan Kepedulian Sosial

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:34 WIB

Ribuan E-Ijazah SMP di Pamekasan Belum Terbit, Disdikbud Sebut Banyak Dokumen Sekolah Belum Lengkap

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:30 WIB

Serapan Baru 46,31 Persen, DPRD Pamekasan Soroti Lambannya Progres Tambal Sulam Jalan

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:08 WIB

Ketua Pansus SOTK DPRD Pamekasan: Kekosongan 100 Kepsek dan 12 Kapus Tak Terkait Raperda SOTK

Jumat, 19 Juni 2026 - 01:09 WIB

Curanmor di Ruko Teja Terekam CCTV, Polisi Kantongi Ciri-Ciri dan Buru Pelaku

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:43 WIB

DBHCHT Anjlok, Ribuan Buruh Tani Tembakau di Pamekasan Tak Lagi Terima BLT

Berita Terbaru

Opini

Sangkakala Demokrasi dan Absurditas Kekuasaan

Jumat, 19 Jun 2026 - 01:12 WIB