Tidak semua keterbatasan membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menjadi sempurna. Di balik sunyi yang tak bersuara, ada ketulusan yang berbicara jauh lebih dalam daripada kata-kata. Dari tangan yang bergerak dalam bahasa isyarat, Mohtar Effendi mengajarkan makna ikhlas, sabar, dan pengabdian.
LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan || Klik Madura
****
SETIAP akhir pekan, Masjid Syekh Hasyim Asy’ari di lingkungan Kantor Kemenag Pamekasan menjadi tempat syiar Islam yang berbeda dari biasanya. Tidak terdengar lantunan suara santri yang saling bersahutan membaca ayat suci. Tidak pula ramai percakapan seperti pengajian pada umumnya. Suasana justru dipenuhi ketenangan.
Di dalam masjid, seorang laki-laki berkopiah hitam dan berjubah gelap tampak menggerakkan jemarinya perlahan. Gerakan demi gerakan itu kemudian diikuti para muridnya, mulai dari remaja hingga orang dewasa. Mereka saling memahami melalui bahasa isyarat, menghadirkan kehangatan dalam kesunyian.
“Iya seperti ini kegiatannya, Mbak. Kalau hari Minggu sedikit, yang banyak itu tiap Sabtu malamnya,” ujar Mohtar Effendi sambil tersenyum.
Mohtar mengaku mulai menekuni kegiatan tersebut sejak 2021. Semua berawal dari rutinitasnya melaksanakan salat berjamaah. Saat itu, ia bertemu rombongan santri dan ustaz dari Ponpes Temboro, Karas, Magetan, Jawa Timur, yang tergabung dalam jamaah gerak.
Dari sekitar 20 orang yang hadir, tiga di antaranya merupakan penyandang disabilitas tunarungu. Seusai salat Magrib, salah satu dari mereka menyampaikan kajian menggunakan bahasa isyarat dengan bantuan penerjemah di sampingnya. Pemandangan itu membuat Mohtar penasaran.
“Saya tanya, tadi itu apa yang dilakukan? Mereka menjawab kalau itu bahasa isyarat. Setelah itu saya ingin belajar, dan alhamdulillah mereka mau mengajari saya selama tiga hari di Magetan,” ungkapnya.
Sepulang dari Magetan, Mohtar mulai menjalin komunikasi dengan komunitas penyandang disabilitas tunarungu di Pamekasan.
Tak disangka, mereka kemudian meminta dirinya menjadi guru ngaji bagi kelompok tersebut. Permintaan itu diterima Mohtar dengan penuh kesungguhan.
Sebagai seorang guru, ia merasa apa yang dimilikinya bukan sekadar kemampuan berbahasa isyarat, melainkan amanah dari Allah SWT. Baginya, ilmu yang sudah diberikan harus disampaikan kembali kepada mereka yang membutuhkan.
Melalui gerakan tangan, Mohtar mengajarkan hadis Nabi Muhammad SAW, ilmu fikih, tauhid, hingga dasar-dasar agama Islam lainnya kepada para muridnya.
“Ketika saya melihat mereka tersenyum dan tertawa bahagia dengan saya, itu tidak ternilai harganya bagi saya. Saya merasa bahagia, dan saya rasa tidak semua orang bisa merasakan itu,” tuturnya.
Bagi Mohtar, bahasa isyarat bukan sekadar rangkaian gerakan tangan. Di dalamnya ada kesabaran, ketulusan, dan kasih sayang yang harus hadir dari hati.
Ia percaya, tidak semua orang mendapat kesempatan untuk memahami dunia para penyandang disabilitas tunarungu.
Hal itu pula yang ia rasakan ketika sempat membuka lowongan pendamping guru ngaji bagi penyandang tunarungu. Banyak pendaftar justru lebih dahulu menanyakan soal honor, padahal dirinya sendiri tidak pernah menerima bayaran sepeser pun dari aktivitas mengajar tersebut.
“Bahkan dulu awal-awal yang mau ngaji hanya empat sampai lima orang di tahun 2023, dan itu numpang di salah satu rumah tunarungu yang ikut,” ujarnya.
Meski demikian, Mohtar tetap bertahan. Ia merasa justru semakin banyak belajar tentang rasa syukur sejak mendampingi para penyandang disabilitas tunarungu tersebut.
Menurutnya, kebahagiaan sederhana yang terpancar dari wajah para murid menjadi hadiah terbesar yang tidak bisa diukur dengan materi apa pun.
Pria asal Desa Kramat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, yang juga mengajar bahasa Inggris di MTs Al-Amien Palengaan itu berharap pemerintah daerah lebih peduli terhadap para penyandang disabilitas.
Ia ingin mereka memiliki ruang yang layak untuk belajar agama, berdiskusi tentang ilmu fikih, tauhid, dan memperdalam pemahaman Islam tanpa merasa terpinggirkan.
“Iya seperti pendopo bisa digunakan teman-teman untuk mengaji, membahas ilmu-ilmu fikih, tauhid, dan sebagainya. Hanya itu permintaan kami,” tandasnya. (*)













