PPI Dunia Kritik Keras Diplomasi RI, Dinilai Mulai Tunduk pada Agenda Imperialisme AS

- Jurnalis

Selasa, 10 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator PPI Dunia 2025–2026, Andika Ibrahim Nasution (pegang mik) saat mengisi salah satu acara. (ISTIMEWA)

Koordinator PPI Dunia 2025–2026, Andika Ibrahim Nasution (pegang mik) saat mengisi salah satu acara. (ISTIMEWA)

JAKARTA || KLIKMADURA – Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan luar negeri Indonesia. Organisasi mahasiswa Indonesia di berbagai negara itu menilai diplomasi Indonesia saat ini mulai menyimpang dan berpotensi menyeret negara ke dalam kepentingan imperialisme global.

Sikap tersebut dituangkan dalam Surat Pernyataan Sikap Nomor B.405/SPS/PPID-DITLITKA/III/2026 yang dirilis pada 8 Maret 2026. Pernyataan itu disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral intelektual terhadap arah politik luar negeri Indonesia yang dinilai semakin problematis.

PPI Dunia menilai pengambilan keputusan pemerintah dalam kebijakan luar negeri belakangan ini cenderung serampangan, minim deliberasi institusional, dan berpotensi tunduk pada agenda geopolitik negara besar, khususnya Amerika Serikat.

Baca juga :  UIM Ekspansi Dakwah ke Negeri Sakura, Mahasiswa Siap Jalankan Misi Pengabdian Global

Organisasi tersebut juga menyoroti fenomena “personalisasi diplomasi”, yakni ketika kebijakan luar negeri dianggap terlalu bergantung pada insting presiden tanpa melalui proses pertimbangan para ahli, publik, maupun mekanisme kelembagaan seperti di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Menurut PPI Dunia, situasi ini berbahaya karena berpotensi mengabaikan prinsip politik luar negeri bebas-aktif yang selama ini menjadi dasar diplomasi Indonesia.

Salah satu kebijakan yang disorot adalah keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) serta menyepakati perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART).

PPI Dunia menilai dua langkah tersebut berpotensi merugikan kedaulatan ekonomi dan menempatkan Indonesia dalam pusaran konflik geopolitik global.

Selain itu, kedekatan politik dengan Washington dan Tel Aviv juga dinilai dapat memicu kekecewaan publik Indonesia yang selama ini dikenal konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.

Baca juga :  CEO Silicon Valley Bridge Bank Meminta Pelanggan untuk menyetor ulang dana Mereka

Koordinator PPI Dunia 2025–2026, Andika Ibrahim Nasution menegaskan, kritik tersebut disampaikan demi menjaga martabat Indonesia di panggung internasional.

“Indonesia adalah negara yang lahir dari perjuangan melawan kolonialisme. Karena itu kita tidak boleh diam terhadap agresi militer yang melanggar hukum internasional hanya demi menjaga hubungan politik personal,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa kebijakan luar negeri seharusnya melibatkan partisipasi publik yang lebih luas, termasuk akademisi dan mahasiswa Indonesia di luar negeri.

Menurut Andika, diskusi politik luar negeri secara berkala penting dilakukan agar setiap keputusan strategis benar-benar mencerminkan kepentingan nasional.

Baca juga :  UIM Go Internasional, Gandeng PCINU Jepang untuk Perkuat Jaringan Global

“Keputusan politik luar negeri RI harus sepenuhnya mencerminkan kepentingan bangsa, bukan subordinasi terhadap kepentingan geopolitik Amerika Serikat yang justru bisa menjerumuskan kita ke dalam orbit imperialis global,” tambahnya.

Melalui pernyataan tersebut, PPI Dunia mendesak pemerintah menunda status keanggotaan dalam BoP serta membuka ruang diskusi nasional yang lebih luas. Organisasi itu juga meminta pemerintah mempertimbangkan untuk keluar dari BoP dan membatalkan perjanjian ART.

Selain itu, PPI Dunia juga menuntut Menteri Luar Negeri Sugiono agar meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam diplomasi Indonesia.

PPI Dunia berharap kebijakan luar negeri Indonesia kembali berpijak pada prinsip bebas-aktif dan tidak terseret dalam kepentingan geopolitik kekuatan global. (nda)

Berita Terkait

300 Jemaah PT Menara Internusa Dibuat Takjub, Difasilitasi Umrah 7 Kali, Cium Hajar Aswad hingga Masuk Hijr Ismail
Dirjen Imigrasi Paparkan Tiga Pilar Penguatan Perbatasan Indonesia di Forum DGICM 2026
Harumkan Nama Madura di Yaman, 14 Mahasiswa Tuntaskan Studi di Universitas Al-Ahgaff
Di Tengah Dingin Kamp Pengungsian, Kehangatan dari Mahasiswa Indonesia Menyapa Pengungsi Palestina-Suriah
UIM Ekspansi Dakwah ke Negeri Sakura, Mahasiswa Siap Jalankan Misi Pengabdian Global
Tim Riset UIM Jajaki Kolaborasi dengan Lembaga Riset Pertanian Terbesar Jepang
UIM Go Internasional, Gandeng PCINU Jepang untuk Perkuat Jaringan Global
Warga Kangean di Malaysia Gelar Pertemuan Akbar, Tegaskan Tolak Eksplorasi Migas

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:06 WIB

300 Jemaah PT Menara Internusa Dibuat Takjub, Difasilitasi Umrah 7 Kali, Cium Hajar Aswad hingga Masuk Hijr Ismail

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:39 WIB

Dirjen Imigrasi Paparkan Tiga Pilar Penguatan Perbatasan Indonesia di Forum DGICM 2026

Sabtu, 18 April 2026 - 03:25 WIB

Harumkan Nama Madura di Yaman, 14 Mahasiswa Tuntaskan Studi di Universitas Al-Ahgaff

Minggu, 22 Maret 2026 - 03:23 WIB

Di Tengah Dingin Kamp Pengungsian, Kehangatan dari Mahasiswa Indonesia Menyapa Pengungsi Palestina-Suriah

Selasa, 10 Maret 2026 - 11:52 WIB

PPI Dunia Kritik Keras Diplomasi RI, Dinilai Mulai Tunduk pada Agenda Imperialisme AS

Berita Terbaru