SAMPANG || KLIKMADURA – Musim kemarau yang seharusnya menjadi masa paling produktif bagi petani garam di Kabupaten Sampang justru membawa persoalan baru. Ketika produksi meningkat, harga garam di tingkat petani malah terus merosot hingga membuat keuntungan semakin tergerus.
Petani garam di Kecamatan Sampang, Mat Hasan, mengatakan harga garam yang kini diterima dari tengkulak hanya sekitar Rp40 ribu per sak. Padahal, setiap sak berisi lebih dari 50 kilogram garam.
“Satu sak itu isinya 50 kilogram lebih, tapi harganya sudah anjlok sekali,” jelas Mat Hasan, Senin (31/8/2026).
Menurut dia, harga tersebut mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi itu membuat pendapatan petani semakin tertekan, meski produksi garam justru meningkat selama musim kemarau.
Mat Hasan berharap tingginya produksi saat kemarau dapat diikuti dengan harga jual yang lebih baik. Namun, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik.
“Tapi faktanya malah sebaliknya. Harganya turun drastis. Dulu itu bisa mencapai Rp80 ribu ke atas harganya untuk satu sak,” ucapnya.
Keluhan mengenai anjloknya harga juga disampaikan petani garam lainnya, Hari. Dia menduga persoalan harga tidak semata-mata disebabkan melimpahnya produksi, tetapi juga berkaitan dengan posisi petani yang lemah ketika berhadapan dengan pemodal besar dan tengkulak.
Menurut Hari, kebutuhan biaya hidup dan modal produksi membuat sebagian petani tidak memiliki banyak pilihan. Ketika membutuhkan uang, garam hasil panen akhirnya terpaksa dilepas meski harga sedang rendah.
“Petani yang terdesak akhirnya mau tidak mau harus jual garamnya supaya bisa mendapatkan uang,” ucapnya.
Hari meminta pemerintah turun tangan mencari solusi untuk mengatasi anjloknya harga garam. Salah satu yang diharapkan petani adalah adanya peningkatan Harga Pokok Penjualan (HPP) sehingga harga di tingkat petani memiliki batas yang lebih layak.
Dia menyebut harga ideal yang diharapkan petani berada di kisaran Rp1.700 hingga Rp2.000 per kilogram. Angka tersebut dinilai lebih mampu memberikan ruang keuntungan bagi petani setelah memperhitungkan biaya produksi.
“Sementara ini sudah Rp1.000 ke bawah per kilonya. Sebelumnya masih Rp1.300 sampai Rp1.500 per kilo, sebelum anjlok seperti sekarang,” terangnya.
Tekanan harga juga dirasakan Mahsun, salah seorang pemilik lahan tambak garam. Dia mengatakan harga garam dari lahan miliknya sebelumnya masih berada di kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta per ton.
Namun, harga tersebut terus mengalami penurunan. Pada awal musim panen, garam masih dapat dijual sekitar Rp1,6 juta per ton, tetapi kini kembali merosot hingga sekitar Rp1 juta per ton.
“Awal panen masih Rp1,6 juta per ton, kalau sekarang sudah merosot jauh. Ini harganya sudah turun lagi Rp1 juta per ton dan untuk KW 2-nya di harga Rp800 ribu per ton,” ucap Mahsun.
Menurut Mahsun, penurunan harga tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Kendati harga tidak menguntungkan, hasil panen tetap harus dijual kepada tengkulak.
Petani tidak berani terlalu lama menyimpan garam karena khawatir harga kembali turun. Selain itu, uang hasil penjualan juga dibutuhkan untuk membiayai produksi di lahan lainnya.
“Selain itu, kita juga harus putar uang untuk produksi garam di lahan lain,” jelasnya.
Mahsun menduga peningkatan produksi akibat musim kemarau menjadi salah satu faktor yang menekan harga garam. Ketika stok melimpah, posisi tawar petani semakin lemah karena tidak semua hasil produksi terserap dengan harga yang diharapkan.
Persoalan serapan juga menjadi perhatian. Menurut dia, masuknya garam impor turut memengaruhi penyerapan hasil produksi garam lokal sehingga petani semakin kesulitan mendapatkan harga yang layak.
“Kalau nanti musim hujan atau minim produksi, harganya akan naik lagi. Tapi ya begitu, kalau hujan juga sulit kita produksi karena garam ini mengandalkan panas matahari,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menempatkan petani pada situasi serba sulit. Saat kemarau tiba, produksi memang meningkat, tetapi harga justru tertekan akibat melimpahnya pasokan.
Sebaliknya, ketika musim hujan datang, produksi garam menjadi terbatas karena proses pengolahannya sangat bergantung pada panas matahari. Siklus tersebut membuat petani membutuhkan kepastian pasar sekaligus perlindungan harga.
Para petani berharap pemerintah hadir untuk menjaga kestabilan harga garam, mulai dari tingkat petani hingga rantai perdagangan berikutnya. Mereka juga meminta penyerapan garam produksi lokal diperkuat agar hasil panen tidak terus tertekan oleh rendahnya harga.
Bagi petani, persoalan garam bukan sekadar tentang seberapa banyak produksi yang dihasilkan. Ketika harga jual terus jatuh, panen melimpah yang semestinya menjadi keuntungan justru tidak mampu memberikan pendapatan yang sepadan dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan. (ali/nda)














