Oleh: Imdad Faiha Ila Sabila, Reporter Klik Madura
*****
FILM horor Indonesia kembali menunjukkan geliatnya lewat hadirnya Tumbal Proyek, sebuah film yang bukan hanya ramai dibicarakan pecinta horor, tetapi juga masyarakat Madura. Ada satu hal yang membuat film ini terasa berbeda: kedekatan emosional dengan latar yang diangkat.
Kemunculan Jembatan Suramadu sejak poster hingga trailer sukses membangkitkan rasa penasaran publik. Jembatan yang selama ini menjadi simbol penghubung Surabaya dan Madura itu bukan sekadar latar visual, tetapi menjadi bagian penting yang membangun atmosfer cerita.
Banyak penonton merasa familiar dengan lokasi-lokasi yang ditampilkan. Nuansa khas Madura yang terselip dalam beberapa adegan membuat film ini terasa lebih dekat dan membumi.
Kedekatan budaya seperti inilah yang diam-diam menjadi kekuatan besar sebuah karya. Penonton tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga merasakan keterikatan dengan ruang dan suasana yang mereka kenal.
Tumbal Proyek sendiri berkisah tentang Yuda dan adiknya, Aca, yang berusaha mencari kebenaran di balik kematian sang ayah. Ayah mereka diketahui bekerja di sebuah proyek besar, namun meninggal dunia tanpa jasad yang pernah ditemukan.
Dari titik itulah misteri mulai berkembang. Kasus pekerja hilang, kecelakaan proyek, hingga rahasia-rahasia yang seolah sengaja ditutupi perlahan terungkap satu demi satu.
Menariknya, kekuatan film ini bukan hanya terletak pada jumpscare semata. Detail cerita menjadi senjata utama. Hampir setiap dialog, ekspresi pemain, hingga perpindahan adegan menyimpan petunjuk penting.
Penonton dipaksa fokus sejak awal karena clue kecil yang tampak sepele justru menjadi jawaban dari teka-teki besar di penghujung cerita.
Secara visual, film berdurasi 106 menit itu tampil cukup memikat. Salah satu adegan paling membekas adalah ritual adat di kawasan Suramadu menjelang ending film.
Pengambilan gambar yang gelap, megah, dan penuh ketegangan berhasil membangun suasana mencekam yang terasa kuat. Nuansa lokal yang dipadukan dengan elemen horor membuat adegan tersebut meninggalkan kesan mendalam.
Meski ending film masih terasa menggantung, justru di situlah letak daya tariknya. Ekspresi terakhir Aca memunculkan banyak spekulasi bahwa cerita belum benar-benar selesai. Penonton dibuat penasaran sekaligus membuka ruang diskusi setelah film berakhir.
Di luar alur ceritanya, Tumbal Proyek juga menjadi contoh bagaimana industri kreatif mampu mengangkat identitas daerah ke perhatian publik yang lebih luas. Ketika sebuah karya menghadirkan unsur budaya dan lokasi yang dekat dengan masyarakat, antusiasme tumbuh secara alami.
Representasi daerah bukan hanya menjadi pelengkap visual, melainkan bisa menjadi kekuatan utama yang membuat sebuah film lebih hidup dan mudah diingat.
Film ini membuktikan bahwa Madura memiliki daya tarik besar untuk dunia perfilman Indonesia. Dengan kombinasi misteri, nuansa lokal, dan plot twist yang menarik, Tumbal Proyek layak mendapat apresiasi tinggi.
Nilai 8 dari 10 terasa pantas untuk film ini. Sementara dua poin sisanya seakan menjadi pertanyaan terbuka: daerah mana lagi di Madura yang nantinya akan mencuri perhatian para produser film?
Semoga semakin banyak kolaborasi dan dukungan untuk memperkenalkan Madura lewat karya-karya kreatif yang mampu menembus perhatian publik lebih luas. (*)













