SAMPANG || KLIKMADURA – Program Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sampang resmi memasuki tahap awal penyelenggaraan dengan dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Jumat (31/7/2026).
Sebanyak 335 siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem mulai mengikuti pendidikan berasrama yang seluruh kebutuhannya ditanggung pemerintah.
Berlokasi di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, program tersebut tidak hanya memberikan layanan pendidikan tanpa biaya. Para peserta juga memperoleh fasilitas asrama, konsumsi, sarana ibadah, fasilitas olahraga, serta pembinaan karakter dan kemandirian dalam satu lingkungan pendidikan.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sampang, Mohammad Anwari Abdullah, mengatakan MPLS menjadi tahap awal agar seluruh siswa mengenal lingkungan sekolah, tata tertib, hingga pola kehidupan di asrama sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
“Kegiatan ini bertujuan membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan kehidupan berasrama sehingga mereka siap mengikuti proses pendidikan,” ujarnya.
Peluncuran Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sampang dihadiri Bupati Sampang H. Slamet Junaidi, perwakilan Kementerian Sosial RI, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dari empat kabupaten di Madura.
Dalam sambutannya, Bupati Slamet Junaidi menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Menurutnya, Sampang menjadi kabupaten dengan jumlah peserta terbanyak di Madura.
Dari total peserta yang mengikuti program tersebut, sebanyak 24 siswa berasal dari jenjang sekolah dasar, 104 siswa jenjang sekolah menengah pertama, dan 85 siswa jenjang sekolah menengah atas dari Kabupaten Sampang. Sementara peserta lainnya berasal dari Kabupaten Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, Pemerintah Kabupaten Sampang juga telah menyiapkan lahan untuk pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat layanan pendidikan bagi masyarakat kurang mampu pada tahun-tahun mendatang.
Perwakilan Kementerian Sosial RI, Fajar Wahyu Hermawan, menjelaskan bahwa sistem pendidikan berasrama dirancang untuk menggabungkan pembelajaran akademik dengan pembinaan karakter, kedisiplinan, serta kemandirian peserta didik.
Menurutnya, keberhasilan program akan ditopang kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta tenaga pendidik. Sinergi tersebut diperlukan agar layanan pendidikan sekaligus pengasuhan berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.
Melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi, pemerintah berupaya menghadirkan akses pendidikan yang setara bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Tidak hanya bebas biaya, program ini juga memberikan dukungan fasilitas dan pembinaan secara menyeluruh agar peserta didik memiliki bekal akademik maupun karakter untuk masa depan. (ali/nda)













