PAMEKASAN || KLIKMADURA – Visi pembangunan Madura sudah saatnya bergeser dari sekadar pembangunan fisik menuju penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Abdur Rozaki, saat hadir dalam program Catatan Pena di studio Klik Madura.
Dalam diskusi tersebut, diaspora asal Madura ini menyoroti perlunya keberanian bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) untuk memberikan ruang seluas-luasnya bagi kreativitas anak muda.
Menurutnya, masa depan Madura sangat bergantung pada bagaimana potensi kreatif generasi muda diwadahi, bukan justru dihambat oleh birokrasi atau kepentingan elit.
Prof. Rozaki menekankan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak bisa hanya diukur dari infrastruktur. Ia mengkritik pola tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di sektor migas yang selama ini cenderung bersifat giving elite.
Yakni, sekadar memberikan bantuan kepada elit lokal demi kondusivitas daripada melakukan pemberdayaan nyata.
“Kita butuh ahli metalurgi dan geologi asli Madura, bukan hanya ahli agama. Perusahaan migas harus berinvestasi pada beasiswa pendidikan tinggi bagi putra daerah agar kita tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri,” tegasnya.
Terkait wacana Madura menjadi provinsi, Prof. Rozaki melihat hal tersebut sebagai sebuah ijtihad politik yang rasional. Ia menilai kesejahteraan masyarakat sulit tercapai jika otoritas pengelolaan sumber daya alam masih terbatas.
Namun, ia mengingatkan bahwa aspirasi menjadi provinsi tidak boleh hanya menjadi isu musiman atau komoditas politik elit. Perjuangan tersebut harus berbasis data ekonomi yang kuat dan memiliki blueprint kebudayaan yang jelas.
“Kesejahteraan itu berkelindan dengan otoritas. Tanpa kekuatan politik untuk menegosiasikan wilayahnya sendiri, kekayaan alam Madura tidak akan berdampak signifikan bagi rakyat kecil,” tambahnya.
Di sisi lain, ia mengajak masyarakat untuk berhenti fokus pada stigma negatif yang sering disematkan pihak luar. Ia mencontohkan militansi “Warung Madura” sebagai bukti nyata etos kerja dan kemandirian ekonomi yang luar biasa.
“Marketing Madura harus diubah. Kita punya sejarah besar, punya peran dalam lahirnya bahasa Indonesia, dan punya etos wirausaha yang ditakuti ritel modern. Inilah modal untuk membangun Madura Baru,” pungkas Prof. Rozaki.
Melalui narasi ini, kaum muda diharapkan tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi subjek yang memimpin perubahan dengan cara-cara yang kreatif dan visioner. (nda)













