PAMEKASAN || KLIKMADURA – Pernyataan anggota DPR RI dari PKS, Aboe Bakar Al-Habsyi yang menyebut ulama dan pesantren telah terlibat kasus narkotika menuai reaksi keras dari berbagai kalangan. Pernyataan tersebut dinilai melukai marwah ulama, khususnya di Madura.
Salah satu protes tegas datang dari Ketua RMI PCNU Pamekasan, KH. Taufiqurrahman Khozin. Ia menyampaikan keberatan atas pernyataan tersebut karena dinilai mengandung generalisasi yang tidak berdasar.
Menurutnya, ada beberapa poin penting yang menjadi keberatan pihaknya. Pertama, pernyataan tersebut dianggap melukai dan menyakiti para ulama serta pengasuh pesantren di Madura.
Sebab, narasi yang disampaikan seolah-olah menggambarkan mayoritas pesantren terlibat dalam praktik penyalahgunaan narkotika.
“Kami menilai ini bentuk generalisasi yang tidak adil. Pesantren di Madura memiliki kontribusi besar dalam pendidikan moral dan keagamaan, bukan seperti yang digambarkan,” ujarnya.
Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada fakta hukum yang jelas yang dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan keterlibatan ulama secara luas. Pernyataan tersebut dinilai lebih sebagai opini yang berpotensi merugikan nama baik ulama Madura secara umum.
Menurutnya, jika memang terdapat oknum yang terlibat dalam praktik ilegal tersebut, maka seharusnya ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku, bukan justru menyudutkan seluruh ulama dan pesantren.
“Kalau memang ada oknum, proses hukum saja. Jangan kemudian semua ulama Madura ikut diseret. Itu jelas tendensius,” tegasnya.
Pimpinan dan Pengasuh Ponpes Taman Bunga, Kacok, Pamekasan itu berharap, semua pihak, terutama pejabat publik, lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan ke ruang publik.
Tujuannya, agar tidak menimbulkan kegaduhan serta mencederai kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan keagamaan.
Sebelumnya, viral video pernyataan dari Anggota DPR RI Fraksi PKS, Aboe Bakar Al-Habsyi yang menyebut ulama dan pesantren sudah terlibat narkotika. Bahkan, dia secara spesifik menyebut Madura. (nda)
















