Oleh: Abrari Alzael, Budayawan & Jurnalis Senior
*****
DI AWAL bulan tahun 2022, republik ini dipenuhi lakon goro-goro. Alam tak ramah, sebentuk erupsi, lahar, banjir, dan sedikit gempa. Sesama manusia berakrobat di jalan raya, gedung perkantoran, dan di sudut-sudut yang tidak terindra. Tuhan disebut beberapa kali, dan diminta hadir, atau dipaksa datang.
Mereka, mungkin saja lupa, bahwa sejatinya Tuhan tidak terlalu teknis. Sebab, hakikatnya, manusia lah sebagai wakil Tuhan di bumi. Maka urusan ketuhanan, sebenarnya sudah bisa diaplikasikan umat, makhluk semesta alam.
Fenomena ini layak memunculkan tanda tanya, mengapa umat terberai? Mengapa kredo sana-sini berkumandang untuk dan atas nama keadilan semesta? Memang, keterberaian ini sama panjang umurnya dengan keteruraian.
Tetapi dalam konteks hidup, sebagian besar kredois menjauhkan diri dari tatanan kebangsaan dan tuhan itu sendiri. Ada kepentingan tersembunyi yang gagal semburat menjadi aib di ranah kepentingan individu atau komunal.
Ada kelompok yang patut diduga bekerja pada kelompok lain dengan dalih kemanusiaan dan keadilan (buat siapa?). Padahal, mereka bekerja pada satu kepentingan.
Nah, kepentingan itulah yang bertabrakan dengan kepentingan lain yang berbeda, yang dalam bahasa wayang disebut dengan lakon goro-goro. Sekedar menyebut contoh, dua kelompok habib bertabrakan wacana keduniaan dan bahkan keakhiratan.
Tuhan, kembali diseret dalam pusaran pertikaian mereka dimana kedua belah pihak sama-sama mengatasnamakan kebaikan, untuk dan atas nama Tuhan (yang mana?). Diskursus tentang Tuhan tidak selesai, walau di meja kelompok yang dalam pemahaman umat, segaris dengan para rasul.
Gagasan tentang bertuhan itu sejatinya sangat sederhana, simpel. Diantaranya, mengerjakan titah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Saat kitab suci meminta umat tidak saling membenci, seharusnya mereka saling menyayangi.
Ketika kitab suci mendedahkan kebaikan, maka logika inversifnya, maka segala bentuk keburukan ditanggalkan, ditinggalkan. Tetapi secara de facto, kejadian di semesta raya tidak selalu linear. Menghapus keburukan tentu saja tidak proporsional apabila menghapusnya dengan cara yang lebih buruk, yang lebih busuk.
Ketika seorang nabi dibenci umat yang tidak tunduk kepadanya saat itu, nabi bersikap fine saja. Itu karena nabi meyakini, orang yang membencinya tidak memiliki niat untuk mencaci, melainkan karena ketidaktahuannya pada substansi kebaikan.
Namun lihatlah, kondisi mutakhir di republik ini. Medsos menampilkan para pihak yang bertikai, entah bertikai sejujurnya atau bertengkar seperlunya supaya ada yang memperhatikan. Ujaran kebencian seperti srengdor di malam hari raya. Pertanyaannya, inikah Indonesia atau Syria?
Dalam sebuah dialog di televisi, Salim Said (akademisi Indonesia, 1943) menilai bangsa ini mengalami kemunduran yang luar biasa dari berbagai aspek. Hukum dan peradaban adalah tamsil dari ketidakmajuan republik. Ini terjadi bukan karena warga republiken tidak takut terhadap pelanggaran hukum.
Tetapi, menurut Salim Said, warga negara sudah memiliki kekebalan dari rasa takut. Bahkan terhadap Tuhan pun, warga negara berani. Padahal, ketidaktakutan pada apapun, menjadi indikator sebagai bangsa yang akan memasuki pembusukan. Indonesia, memiliki tanda ini.
Warga negara, memiliki kealpaan kolektif tentang kemajuan bangsa. Bahwa salah satu kemajuan bisa dicapai apabila sebagian besar penduduknya bersatu (dalam kebaikan). Di era pujangga Ronggowarsito (Bagus Burham), muncul lakon goro-goro dimana kondisi bumi mengalami gonjang-ganjing dan melahirkan zaman edan.
Kondisi ini terjadi karena peredaran manusia tidak berporos pada orbitnya. Mereka bergeser dari lintang-bujur, lalu lahirlah kiamat yang oleh Samuel Huntington sebagai tabrakan. Situasi mutakhir ini, jelas menampilkan tabrakan yang tidak saja terjadi pada konteks wacana, tetapi sudah melampaui teks itu sendiri.
Dialektika kemanusiaan sesungguhnya bisa berlangsung sederhana, jika kuasadiri tidak didominasi nafsu. Urusan syahwat inilah yang memicu terjadinya clash, saling melaporkan, saling menuding, dan lebih parah dari itu klaim sebagai diri yang paling benar.
Suasana kebatinan individu yang sedang clash inilah, yang memicu keterlibatan pihak lain untuk masuk sebagai penunggang, sebagai penumpang gelap guna membuat situasi semakin kacau. Ada kemungkinan (possibility theory), terdapat banyak agen yang berkepentingan balaunya negeri ini, dan ini ngeri.
Wajah negeri khatulistiwa ini terlalu seksi untuk tidak ditaksir para pihak yang ingin suasana ini berantakan dan sulit terurai. Ketika Belanda hadir di Indonesia saat itu dan berdiam di Indonesia sebagai penjajah, populasinya tidak sebanyak warga republik.
Tetapi mengapa negeri ini tak berdaya ketika itu, justru karena ketidaksadaran sebagian warga republik yang bermental sebagai penjajah. Mereka bekerja kepada Belanda, untuk kepentingan Belanda, dengan cara menindas kaum pribumi sendiri.
Belanda sebagai aktor utama waktu itu, merasa senang dengan fragmentasi ini dan semakin jaya hingga tiga setengah abad lamanya.
Di era kontemporer dimana bangsa ini tidak lagi bodoh dalam kecerdasannya, mengajak anak bangsa berpikir bahwa sejatinya sebagian pihak pantas diduga menjadi agen tertentu, yang sudah tidak peduli lagi pada negara, abai terhadap Pancasila, dan bahkan berani berseberangan dengan Tuhan.
Kehadiran Tuhan seolah-olah terlipat diantara teks dan konteks, tidak terlihat. Warga seakan berlomba-lomba dalam melakukan onani, asyik dengan dirinya sendiri, baik sebagai individu maupun sebagai agen.
Pembiaran kondisi ini, mumungkinkan terjadinya kolonialisme baru, walaupun, situasi subyek, predikat dan pelengkap penderitanya, berbeda dibanding saat Belanda menjadi tuan rumah di tanah ini.
Tidak bisa dipungkiri, realitas saat ini menampilkan situasi yang aneh. Perbedaan cara pandang dan narasi yang dibangun para elit, seakan menjadi tanda bahwa perang antar-agen terjadi.
Siapa yang melindungi siapa, siapa yang bekerja untuk untuk siapa, pelan tapi pasti bisa dieja warga. Padahal, seluruh teks yang dibangun oleh para pihak itu berpijak dari kalimat atas nama bangsa; keadilan, kebajikan, kebaikan, dan bahkan atas nama Tuhan.
Namun sebagai istilah simbolik yang nisbi substansi, rasanya tetap menepi pada sepi dan sunyi. Sebagai sesuatu yang sunyi dan sepi, perihnya (bagi warga lainnya) teriris dan menjejak pedih, lebih perih daripada tertikam belati. Itulah yang terjadi saat ini, rasa sakit karena tertikam sunyi, mengepidemi di tengah masyarakat.
Sebelum perih bangsa ini semakin terasa sunyi bagi anak negeri, maka untuk dan atas nama pihak yang berkeyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kiranya perlu bertanya, di manakah selama ini Tuhan diselipkan anak bangsa? Bila diperhatikan, Tuhan dibentak-bentak dengan suara yang mempolusi semesta.
Tuhan dihardik, dijadikan tameng untuk melegitimasi gerakan kelompok tertentu, yang belum tentu segaris dengan Tuhan. Bukankah Tuhan sangat dekat, bahkan selekat tulang dan kulit dalam gaya bahasa personifikatik?
Jika cara memperlakukan Tuhan dalam rubaiat yang tidak sebenarnya, bila Tuhan dipekerjakan sebagai alasan pembenar prilaku yang tidak mencerminkan pribadi yang bertuhan, lalu bagaimana mereka memperlakukan wakil Tuhan di bumi yang bukan bagian dari mereka? Bila Tuhan saja di lupakan, bagamana mungkin akan mengingat makhluk Tuhan yang tidak serumpun dengan dirinya?
Itulah persoalan besar tanah ini dimana banyak pihak atau kelompok tertentu yang melakukan onani, asyik dengan dirinya sendiri. Mereka merasa senang pada kerajaan yang dibangun untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Disintegrasi hari-hari, gagal menjadikan kesadaran kolektif bahwa inilah pangkal persoalan selain tiadanya integrasi dengan Tuhan.
Pada gugusan bima sakti dan benda-benda antariksa, siapapun bisa belajar. Matahari, bumi, dan planet, berpendar, berputar, pada garis orbitnya masing-masing. Benda-benda itu mengelilingi dirinya, bertawaf di porosnya, menampilkan keteraturan pergerakan sesama gugusan bima sakti.
Apabila lalu lintas itu diganggu, tabrakan tak bisa dihindari sebagaimana manusia hari ini yang belum bisa membuat lalu lintas kehidupan bertatakrama. Padahal, hidup serupa tangga nada yang ketika nada itu disuarakan dalam bentuk ritmis, maka bunyi yang dihasilkan membentuk komposisi yang apik, merdu.
Sebaliknya, manakala tangga nada itu disuarakan tanpa mozaik yang tidak berirama, lahirlah kegaduhan bunyi, mengganggu dan tidak bisa dinikmati sebagai satu keindahan.
Sebelum Tuhan diseret lebih jauh, sebelum situasinya lebih buruk, ada baiknya Nelson Mandela dihadirkan, dijadikan sebagai model pembelajaran.
Saat Mandela dipenjara (selama 27 tahun) kelompok rivalitasnya, ia mengajarkan salah satu makna. Ketika di penjara, ia disiksa, bahkan digantung dengan posisi kepala di bawah.
Tatkala Mandela haus, ia meminta air kepada sipir yang menjaganya. Sipir itu mendekat, dan maaf, mengencingi Mandela yang tergantung dengan posisi kepala di bawah.
Ketika Mandela keluar dari penjara, takdir (Tuhan) menjadikannya Presiden Afrika Selatan. Ia meminta para pembantunya di lingkaran presiden untuk mencari sipir yang pernah mengencinginya.
Sipir itu amat sangat takut (dan pasrah atas azab dunia yang akan diterimanya dari mantan napi yang kini menjadi presiden). Namun, Mandela melakukan sesuatu yang tidak disangka. Dikatakan, pihaknya memanggil sipir (kejam) tersebut dengan satu hal; “Agenda pertama, saya (Mandela) hanya ingin memaafkanmu (sipir).”
Mandela orang biasa. Sama seperti manusia pada umumnya. Tidak harus seperti Mandela, tetapi sebagai gembala dan wakil Tuhan di muka bumi nusantara, tidak perlu merasa paling benar, paling berkuasa, dan paling beragama.
Tuhan tidak perlu dibela (Gus Dur) karena begitu Tuhan dibela, Tuhan bisa dianggap tak berdaya. Biasa saja, sesuai garis orbit sebagaimana gugusan bima sakti dan benda antariksa tertib berlalu lintas di angkasa. (*)














