Oleh: Abrari Alzael, Budayawan dan Jurnalis Senior
*****
DONALD John Trump, lahir di Queens tanggal 14 Juni 1946. Queens terkenal karena keberagaman etnis dan budaya yang tinggi. Queens terletak di bagian Long Island, teritori untuk dua bandara utama, John F. Kennedy dan LaGuardia, City Field. Lingkungannya unik, sebentuk wilayah administratif terbesar di New York berdasarkan luas wilayah.
Penduduk di tempat kelahiran Trump sangat ramai dan terpadat kedua setelah Brooklyn. Nama Queens dibentuk pada tahun 1683 memiliki kaitan dengan Catherine of Braganza, permaisuri Raja Charles II (Inggris).
Sejak kecil, Trump mendapat pendidikan keras dan disiplin tinggi di tengah keluarga. Selain itu, ia diharuskan bekerja di perusahaan ayahnya sejak muda. Saat berusia13 tahun, Trump dikirim ke Akademi Militer New York karena perilakunya yang buruk di sekolah.
Tetapi akhirnya, ia meraih gelar sarjana ekonomi tahun 1968 dari di Universitas Pennsylvania, meskipun beberapa kali bolos kuliah dengan alasan membangun karirnya di dunia olahraga, golf.
Awal karir dimulai bekerja di perusahaan real estat milik ayahnya, Frederick Christ Trump (1905–1999), seorang pengembang properti real estat terkemuka di New York City saat itu. Watak keras diturunkan dari ayahnya yang sangat ketat dalam pengawasan.
Sampai akhirnya, karakter yang terbangun di kepala Trump adalah berkompetisi dan mengobsesi dirinya untuk selalu menang. Watak keras ini terus menetap di kepalanya terutama saat menjadi politisi, tokoh media, dan pengusaha.
Dalam teori psikologi, masa depan seseorang acapkali dibentuk oleh masa lalunya, determinisme. Sebagai politisi dengan karakter yang terdapat di dalam dirinya, Trump menguji hipotesanya sendiri sebagai pribadi yang keras dan harus menang dalam pilpres Amerika Serikat 8 November 2016. Ketika itu, ia (dari Pratai Republik), menantang Hillary Clinton (Partai Demokrat).
Trump memenangkan Electoral College (304 suara berbanding 227 suara untuk Clinton), meskipun Hillary Clinton memenangkan suara rakyat (popular vote). Kemenangan ini mengejutkan karena dinilai berhasil menjungkalkan istri presiden sebelumnya, Bill Clinton.
Kemenangan ini, semakin menguatkan asumsi dasar Trump sebagai pemenang. Hipotesanya sebagai pribadi yang keras dan diyakini punya kaitan erat dengan obsesinya, dinilai memiliki korelasi yang signifikan. Keyakinan yang terbukti inilah yang kian membanggakan dirinya pasca pelantikan sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-45 pada tanggal 20 Januari 2017.
Dengan bangga Presiden Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump menghadiri pengukuhan resmi yang diberi tajuk Liberty and Freedom: The Official Presidential Inaugural Balls. Trump gagah mengenakan tuksedo hitam klasik, dipadu kemeja putih berkancing, dan dasi kupu-kupu hitam.
Pada periode kepemimpinanya, Trump disorot media, terutama ketika ia dinilai melakukan banyak kebohongan. Washington Post (WP), Amerika Serikat (AS), menghitung kalibrasi kebohongannya dalam satu periode (2017 – 2021) yang mencapai 30.573 kali. Berita mengenai ini dimuat WP selama dua hari berturut-turut pada tanggal 23 dan 24 Januari 2021.
Jika jumlah kebohongan tersebut dikonversi menjadi hari-hari, rerata kebohongan Trump setara dengan 21 kebohongan per hari. Klaim kebohongan terbanyak menyangkut pernyataan yang berkait dengan topik ekonomi, imigrasi, dan hasil pemilihan umum.
Dari sisi politik, sejatinya Trump tidak benar-benar bohong, tetapi frasa yang digunakan sering menggunakan istilah truthful hyperbole (hiperbola yang jujur?) untuk menggambarkan gaya bicaranya.
Namun demikian, sejumlah lembaga pemeriksa fakta, tetap menilai sebagai pernyataan Trump tidak punya akurasi. Akibat kebohongan berantai inilah, pada pemilihan presiden tanggal 3 November 2020, Trump kalah dari Joe Biden.
Namun sebagai manusia yang berwatak keras, Trump diduga membuat kerusuhan dan menolak kekalahannya dengan cara menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.
Pada peristiwa ini, hipotesa Trump sebagai yang keras dan terobsesi harus menang tidak terbukti terutama dalam kekalahannya dari Joe Biden. Sebagai yang kalah, tanggal 20 Januari 2021, Trump harus keluar dari Gedung Putih.
Sementara, di saat yang sama, ia harus mempertanggungjawabkan dugaan atas pelanggaran hukum perdata yang menyangkut dirinya terkait dengan praktik bisnis. Ia juga menghadapi tuntutan hukum dari perempuan yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual.
Tetapi, sebagai pribadi yang berwatak keras, ia tetap menenangkan dirinya dengan semua tuduhan karena menilai dirinya masih mampu keluar dari jeratan hukum bermodal 500-an jenis usaha yang dimiliki selama kepemimpinannya.
Beberapa hari sebelum pemilu, eksekutif senior Deutsche Bank mengatakan bahwa kekalahan Trump akan membuat pemberi pinjaman tidak terlalu canggung untuk menuntut pembayaran kembali pinjaman. Tetapi, Trump masih memiliki lebih dari 500 usaha, termasuk hotel, resor, dan klub golf, yang sering dikemukakan selama masa kepresidenannya.
Meski begitu, Trump menjadi mantan presiden AS pertama yang pernah divonis bersalah dalam kasus criminal. Namun, ia tetap percaya diri, mempertahankan popularitas di basis pendukungnya. Pemakzulan atas dirinya pun, dibebaskan senat dalam kedua kasus tersebut.
Sekali lagi, Trump seperti lelaki yang menggenggam petir. Tetapi, di pilpres berikutnya tanggal 5 November 2024, ia mencalonkan diri lagi.
Ia ingin menguji keras hati dan obsesi menang yang dimilikinya sebagai sesuatu yang tetap dipertahankan. Tesis Trump kembali terbukti dengan mengalahkan Kemala Harris.
Ia berhasil melewati ambang batas minimal 270 suara elektoral yang dibutuhkan untuk menang. Terutama, Kemenangan Trump didorong oleh keunggulannya di berbagai swing states utama, termasuk Pennsylvania, Georgia, North Carolina, dan Wisconsin.
Hingga laporan terakhir pasca pemilu, ia tercatat meraih 295 hingga 312 suara elektoral dan kembali menjabat presiden pasca pelantikan di Gedung Putih tanggal 20 Januari 2025.
Di periode kedua inilah, suami Melanea Trump itu semakin melengkapi hipotesanya yang sudah diuji dengan hasil satu kali tidak terbukti dan dua kali terbukti sebagai yang keras dan obsesi kemenangannya yang terbukti.
Berbekal karakter keras hati dan obsesi mengalahkan inilah, Trump kian merasa bahwa dirinya berada di atas angin sebagai yang kuasa dan strong. Maka pada tanggal 28 Februari 2026, bersama Israel, menyerang Iran dan bum!
Dari sudut pandang Washington dan Tel Aviv, pengeboman dilakukan karena beberapa alasan. Pertama, dalil yang digunakan untuk mencegah pengembangan senjata nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi Israel. Kedua, Klaim serangan preemtif (self-defense), Trump mengeklaim memiliki firasat kuat bahwa Iran akan menyerang lebih dulu.
Karena itu serangan ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan demi melindungi pasukan Amerika dan sekutu. Ketiga, kegagalan negosiasi, serangan terjadi di tengah mandeknya negosiasi nuklir antara pemerintahan Trump dan Teheran.
Ada banyak yang meragukan dalil itu sebagai keabsahan untuk mengebom. Trump lupa diri pada karakter keras dan syahwat berkuasa terutama untuk menindas yang dianggapnya tidak patuh. Ia juga lupa bahwa Teheran memiliki karakter menolak tunduk dan menuntut tanggungjawab.
Iran juga memiliki watak yang dihadapkan pada opsi untuk memilih antara diam tertindas atau bangkit melawan. Faktanya, Teheran memilih opsi kedua, bangkit melawan. Sebab, hal ini dinilai menyangkut kelautan, dan mempertahankan wilayah, seberapa pun mampu atau tidak mampunya.
Teheran, menilai serangan bom bukan sebagai panggung game, dimana jika ada korban wafat lalu bangun dan nge-game lagi. Bom, bagi Teheran, tidak sebercanda itu.
Nah, ketika amuk-kecamuk bom Iran seperti ini adanya, Trump seperti pemain drama. Sebagai pemeran yang sudah lengkap mengenakan kostum dan asesoris di tubuhnya, ketika di panggung, Trump lupa pada perannya; sebagai apa, di mana, dan bagaimana harus berakting.
Sebagai pendekar dengan jurus cakar maut berlari, ia tetap berdiri, berbicara sekehendak yang dikatakannya, seperti kata benda sekaligus kata kerja yang tidak beraturan.
Di bawah sorot lampu, ia pemeran yang luput dari skenario yang disusunnya lalu melakukan improvisasi sebagai pribadi yang jamak diketahui seperti diberitakan Washington Post; The Real Liar.
Ia juga seperti sebuah judul film yang banyak ditonton publik pada tahun 1997, I Know What You Did Last Summer. (*)














