Basmi Rokok Ilegal: Satir untuk Nur Faizin

- Jurnalis

Jumat, 22 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fauzi As, Pengamat Kebijakan Publik.

—–

BEBERAPA hari terakhir, publik dibuat geleng-geleng kepala membaca komentar Nur Faizin.

Katanya, rokok ilegal semakin marak di Madura dan merugikan negara. Ia bicara soal “wibawa negara” dengan lantang, seakan-akan problem Madura hanya sebatas batang rokok tanpa pita cukai.

Tapi mari kita balikkan pertanyaan sederhana: Tahukah Nur Faizin berapa jumlah petani tembakau di Madura?

Apakah ia hafal berapa ton tembakau yang diproduksi setiap musim panen di Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan?

Atau ia hanya sibuk membaca laporan Bea Cukai yang lebih sering menyita ketengan rakyat daripada menyapa penderitaan petani?

Baca juga :  Resolusi Sederhana 2025: Berani Hidup!

Bea Cukai merasa sudah bekerja hanya dengan menangkap lalu membakar rokok lintingan yang dihasilkan dari tangan ibu-ibu?

Lalu pejabat menganggap itu sebagai kinerja. Bagi saya, itu penghinaan terhadap petani tembakau.

Tahukah pula ia berapa harga yang bisa membuat petani sejahtera? Atau jangan-jangan baginya sejahtera itu hanya istilah makroekonomi yang berhenti di bibir pejabat, bukan di dapur-dapur rakyat yang setiap hari harus merebus singkong sebagai lauk utama.

Kalau Nur Faizin memang mengaku sebagai wakil rakyat Madura di DPRD Provinsi Jawa Timur, publik berhak bertanya: apa yang sudah ia perjuangkan selama duduk di kursi empuk itu?

Baca juga :  Kegaduhan di Kangean Bukan Tanpa Sebab, PT KEI Harus Bertanggung Jawab!

Pernahkah ia menantang Kementerian Keuangan agar tarif cukai tidak mencekik industri kecil Madura?

Pernahkah ia bersuara agar petani tembakau mendapatkan akses pupuk yang layak, modal yang murah, dan harga yang stabil?

Atau jangan-jangan, suara lantangnya hanya gema dari ruang rapat korporasi besar yang ingin menyapu bersih industri rokok kecil Madura, lalu menyisakan puing-puing kemiskinan di desa?

Satir ini lahir karena publik mulai muak dengan politisi yang lebih sibuk menjadi juru bicara korporasi ketimbang juru bicara rakyat.

Mereka bicara tentang “wibawa negara”, tapi menutup mata pada wibawa petani yang dipermalukan setiap musim panen oleh permainan harga.

Baca juga :  Demokrasi Junub

Mereka teriak soal “kehilangan pendapatan negara”, tapi diam seribu bahasa soal kehilangan masa depan rakyat yang anaknya tidak bisa sekolah karena tembakau dihargai semurah debu.

Jangan sampai Nur Faizin menorehkan namanya dalam sejarah Madura sebagai politisi yang lahir dari rahim tanah tembakau, tapi tumbuh menjadi alat penggilas tembakau itu sendiri.

Sebab di Madura, kami tidak butuh pejabat yang hobi mengutip definisi “ilegal” dari buku hukum. Kami butuh wakil rakyat yang berani berteriak soal legalitas kesejahteraan petani. (*)

Berita Terkait

Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak
Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis
Mutasi Membantah Matahari Kembar
Meneguhkan Arah Baru NU Sumenep: Dari Khidmah Kultural Menuju Kemandirian Sosial
Metamorfosa Kata
Pemikiran Filsafat Islam Modern Tentang Self Direction untuk Menjawab Tantangan Modernitas
Valen, Media, dan Atribusi
Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 02:15 WIB

Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak

Jumat, 16 Januari 2026 - 05:51 WIB

Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis

Kamis, 15 Januari 2026 - 03:17 WIB

Mutasi Membantah Matahari Kembar

Selasa, 13 Januari 2026 - 08:31 WIB

Meneguhkan Arah Baru NU Sumenep: Dari Khidmah Kultural Menuju Kemandirian Sosial

Sabtu, 10 Januari 2026 - 01:20 WIB

Metamorfosa Kata

Berita Terbaru