MADURA || KLIKMADURA — Di pesisir utara Madura, suara mesin kapal nelayan berpadu dengan dengung anjungan pengeboran lepas pantai yang berjarak puluhan kilometer dari pantai.
Di bawah permukaan laut biru itu, pipa-pipa baja mengalirkan gas dan minyak bumi, sumber energi yang menyala di dapur, pabrik, dan pembangkit listrik di Jawa Timur.
Madura, pulau kecil yang kerap diidentikkan dengan garam dan tembakau, kini menjadi salah satu benteng ketahanan energi nasional.
Selama beberapa tahun terakhir, industri hulu migas di Madura menunjukkan peran yang semakin strategis. Berdasarkan Statistik Migas Semester I Tahun 2024 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, wilayah kerja (WK) Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) dan Husky-CNOOC Madura Ltd. (HCML) menjadi dua penggerak utama produksi minyak dan gas bumi di kawasan timur Jawa.
Kedua operator itu mencatat produksi gabungan mencapai lebih dari 12 ribu barel minyak per hari (BOPD) dan sekitar 150 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Angka tersebut menjadikan Madura bukan hanya sebagai titik eksplorasi, tetapi juga simpul penting distribusi energi nasional, terutama gas yang disalurkan ke industri dan pembangkit listrik di Jawa Timur.
Penopang Energi dari Laut Utara
Di lepas pantai utara Bangkalan hingga Sampang, PHE West Madura Offshore mengelola blok dengan sejarah panjang produksi sejak era 1980-an. Hingga pertengahan 2024, lapangan ini tetap stabil dengan produksi 8.000 barel minyak per hari dan sekitar 40 MMSCFD gas.
Di sisi lain, HCML yang beroperasi di selatan Madura mengelola proyek lapangan gas BD, MDA, dan MBH menyumbang lebih dari 110 MMSCFD gas per hari, menjadikannya salah satu proyek gas lepas pantai paling produktif di kawasan timur Indonesia.
Gas dari Madura disalurkan melalui pipa bawah laut menuju daratan Gresik dan Pasuruan, menopang kebutuhan industri petrokimia, pupuk, dan pembangkit listrik PLN. Dengan kontribusi tersebut, Madura secara nyata menjadi bagian vital dari rantai pasokan energi nasional.
Madura dalam Peta Ketahanan Energi
Guru Besar Ekonomi Energi Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Makhfud Effendy, menyebut bahwa posisi Madura dalam sistem energi nasional sering kali tak terlihat di permukaan. Padahal, katanya, energi dari Madura telah menjadi penopang utama stabilitas listrik dan industri di Jawa bagian timur.
“Madura sering dilihat dari sisi sosial ekonomi tradisional. Tapi kalau kita lihat dari sisi energi, pulau ini punya posisi strategis,” ujar Prof. Makhfud saat ditemui di ruang kerjanya di Universitas Trunojoyo, Bangkalan.
Menurutnya, cadangan gas di sekitar perairan Madura adalah aset vital dalam menjaga ketahanan energi Indonesia, terutama ketika pasokan dari luar negeri terganggu oleh krisis global. Ia menilai bahwa keberadaan blok migas di Madura bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal keamanan pasokan energi domestik.
“Ketika terjadi guncangan harga minyak dunia, atau pasokan impor terganggu, gas dari Madura-lah yang memastikan sistem tetap berjalan. Inilah bentuk nyata ketahanan energi nasional yang berbasis daerah,” katanya menegaskan.
Energi Ada, Tapi Belum Sepenuhnya Dinikmati Daerah
Namun, di tengah capaian itu, masih tersisa paradoks. Masyarakat Madura belum sepenuhnya menikmati manfaat langsung dari aktivitas migas di wilayahnya. Sebagian besar kegiatan eksplorasi dan produksi masih bersifat offshore (lepas pantai), dengan rantai ekonomi yang banyak dikelola perusahaan besar dan kontraktor nasional.
Pemerintah daerah berupaya memperkuat peran pelaku lokal dalam rantai pasok migas, mulai dari logistik, transportasi laut, hingga penyediaan bahan pendukung operasi. Prof. Makhfud menilai langkah ini penting agar Madura tidak hanya menjadi penghasil energi, tetapi juga pusat ekonomi energi.
“Ketahanan energi nasional akan lebih kokoh jika daerah penghasil juga mandiri secara ekonomi. Madura berpotensi menjadi energy hub di Jawa Timur jika pengelolaan dan infrastruktur diperkuat,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya membangun pusat-pusat industri turunan energi di kawasan pesisir agar terjadi transformasi ekonomi. “Gas dari laut jangan berhenti di pipa. Harus jadi energi untuk industri lokal, supaya nilai tambahnya tinggal di Madura,” tambahnya.
Madura dan Arah Energi Masa Depan
Pemerintah pusat tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperluas pemanfaatan gas bumi di Madura. Rencana pengembangan jaringan gas domestik dan terminal mini-LNG di kawasan timur Jawa diharapkan menjadi pintu masuk percepatan pemanfaatan gas untuk industri kecil dan rumah tangga.
Dengan tren produksi yang stabil dan permintaan energi domestik yang terus meningkat, Madura berada di posisi strategis dalam peta energi nasional. Ia bukan sekadar penghasil sumber daya, melainkan simpul yang menjembatani transisi energi antara masa lalu berbasis minyak dan masa depan berbasis gas bersih.
“Madura memberi contoh bahwa energi nasional tidak hanya dijaga dari pusat, tetapi juga dari daerah. Hulu migas di Madura adalah saksi bahwa kedaulatan energi itu dibangun dari laut dan tanah sendiri,” ujar Prof. Makhfud Effendy.
Energi dari Timur untuk Indonesia
Ketika dunia terus berburu energi baru dan terbarukan, Madura justru menunjukkan kekuatan lamanya: laut, gas, dan keteguhan manusia di dalamnya. Di anjungan lepas pantai, di mana langit bertemu dengan horizon laut Jawa, Indonesia menjaga nyala energinya.
Dan di sanalah, Madura berdiri, bukan hanya sebagai pulau penghasil garam dan budaya. Tetapi juga sebagai penopang ketahanan energi negeri. (nda)














