SUMENEP || KLIKMADURA – Kepedulian Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo terhadap warga terdampak kekeringan diwujudkan melalui penyaluran 1,2 juta liter air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami krisis air.
Salah satu sasaran bantuan tersebut adalah warga Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, yang telah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama sekitar empat bulan akibat kemarau panjang.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo turut turun langsung dalam pendistribusian bantuan air bersih kepada masyarakat Langsar, Senin (5/10/2026).
Penyaluran dilakukan bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Timur, Baznas Kabupaten Sumenep, Kodim 0827 Sumenep, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Sosial Kabupaten Sumenep.
Achmad Fauzi mengatakan, pemerintah daerah tidak ingin masyarakat menghadapi persoalan kekurangan air bersih seorang diri. Karena itu, penanganan kekeringan dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
“Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Ketika ada warga yang kesulitan mendapatkan air akibat kemarau, pemerintah harus hadir dan memastikan kebutuhan tersebut bisa terpenuhi,” kata Achmad Fauzi.
Menurutnya, distribusi air bersih menjadi salah satu langkah cepat yang dilakukan pemerintah untuk membantu masyarakat di tengah kemarau panjang. Bantuan akan diarahkan kepada wilayah yang berdasarkan pemetaan mengalami dampak kekeringan.
“Kami terus melakukan pemantauan terhadap daerah-daerah yang mengalami kekeringan. Bantuan air bersih ini akan terus disalurkan agar masyarakat tidak sampai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Achmad Fauzi juga mengapresiasi keterlibatan Baznas Jatim dan Baznas Sumenep serta sejumlah instansi dalam penanganan krisis air bersih tersebut.
“Ini bentuk gotong royong. Pemerintah bersama Baznas, TNI, BPBD dan Dinas Sosial bergerak bersama untuk membantu masyarakat. Harapannya, bantuan ini benar-benar bisa meringankan beban warga,” ungkapnya.
Kondisi kekurangan air bersih salah satunya dirasakan warga Desa Langsar. Ketua RT 13 Desa Langsar, Masdarun, mengatakan masyarakat mulai mengalami kesulitan memperoleh air sejak Juli 2026.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa membeli air dengan harga sekitar Rp80 ribu untuk satu pikap. Pengeluaran tersebut menjadi beban tambahan bagi masyarakat karena air dibutuhkan untuk berbagai keperluan rumah tangga.
“Warga mulai mengalami kekurangan air bersih sejak bulan tujuh lalu. Untuk memenuhi kebutuhan air, warga terpaksa membeli. Satu pikap air harganya sekitar Rp80 ribu,” ujar Masdarun.
Air yang dibeli warga, lanjut dia, digunakan tidak hanya untuk minum dan memasak, tetapi juga mandi serta kebutuhan rumah tangga lainnya.
Sementara itu, Ketua Baznas Sumenep Ahmad Rahman menyampaikan, penyaluran air bersih merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Kami Baznas Sumenep bersama Baznas Jawa Timur, bersama Bupati, BPBD dan Dinas Sosial, turun langsung memberikan bantuan air bersih kepada warga Langsar,” katanya.
Ahmad Rahman memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan ke sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep yang mengalami krisis air akibat kemarau panjang.
Menurutnya, perhatian juga akan diberikan kepada masyarakat di wilayah kepulauan yang menghadapi persoalan serupa.
“Kami akan terus melakukan distribusi air bersih ke daerah-daerah yang mengalami krisis air. Termasuk wilayah kepulauan, karena di sana juga banyak masyarakat yang terdampak kekeringan,” pungkasnya. (nda)














