Oleh: Abd wafi, Alumni GMNI.
****
“Sosialisme Islam dapat menyampaikan maksudnya, oleh karena tiap-tiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, telah menjadi cakap oleh sikap dan semangat untuk menerima asas-asas sosialis. Dasar sosialisme Islam adalah agama.”
–H.O.S Tjokroaminoto-
ADA kebiasaan buruk yang tampaknya masih terus dipelihara dalam ruang publik Indonesia: ketika sebuah gagasan sulit dijawab secara intelektual, ia sering kali tidak dibantah dengan argumentasi, melainkan ditempeli stigma.
Sosialis disebut komunis, gerakan kerakyatan dicurigai sebagai PKI, Marhaenisme disamakan dengan komunisme serta Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dituduh underbow PKI hanya karena memiliki tradisi pemikiran yang berpihak kepada rakyat kecil, anti-eksploitasi, pentingnya kedaulatan dan keadilan sosial. Sungguh cara berfikir semacam ini bukan hanya problematis secara historis, tetapi juga dangkal secara pengetahuan.
Ditengah arus informasi yang luar biasa, sebenarnya saya tidak terlalu tertarik membahas perihal semacam ini. Jika ada seseorang berkeinginan memperdalam atau mencari refrensi mengenai sosialisme, PKI dan GMNI silahkan akses sendiri melalui smartphone masing-masing. Sedikit bercerita kenapa akhirnya saya memberanikan menulis perihal ini.
Rabu jam tiga sore tiba –tiba ada pesan di watshap, pesan berisakan file pdf tersebut ternyata sebuah tulisan dengan judul “Awas! Bahaya laten komunisme.” Saya tidak kaget dengan isi tulisan-nya, sebab kebanyakan masyarakat kita terjebak pada vonis tanpa bersusah payah mencari kebenaranya. Nalar kritis yang seharusnya menjadi benteng pertahanan berfikir justru kerap diabaikan dan ditaruh diurutan terakhir.
Ditambah bulan ini sudah masuk September, di mana ia (September) telah menjadi ruang ingatan yang sarat trauma, kekerasan, ketakutan sekaligus pertarungan atas tafsir sejarah. Bagi orang yang mau mencari keuntungan biasanya ini dijadikan momentum.
Mari kita lanjutkan lagi, sosialisme bukan sinonim dari komunisme. Marhaeisme tidak seharusnya identik dengan komunisme. Serta keberpihakan terhadap rakyat kecil tidak otomatis menjadikan seseorang atau sebuah organisasi sebagai bagian dari PKI.
Menaruh sosialisme dan komunisme dalam satu meja, lalu menarik kesimpulan bahwa setiap orang atau organisasi yang berbicara mengenai sosialisme adalah bahaya laten komunisme, merupakan lompatan logika yang mengabaikan keragaman sejarah percaturan pemikiran di Indonesia.
Sosialisme Bukan Milik Satu Tradisi
Sosialisme bukanlah satu gagasan tunggal yang hanya memiliki satu bentuk. Dalam sejarah pemikiran dunia terdapat berbagai tradisi sosialisme: sosialisme demokratik, sosialisme kerakyatan, sosialisme religius dan berbagai bentu lainya.
Di Indonesia sendiri memiliki sejarah yang lumayan panjang, Sosialisme berkembang dari pengalaman kolonial, persoalan agrarian, hubungan antara modal dan rakyat serta cita-cita membangun masyarakat yang adil.
Salah satu rujukan penting untuk memahami perdebatan tersebut adalah “islam dan sosialisme” buah fikiran dari H.O.S Tjokro Aminoto. Melalui gagasan Raja Tanpa Mahkota tersebut, kita tahu bahwasanya sosialisme pernah dibahas dalam konteks nilai keislaman, keadilan sosial, persamaan dan kritik terhadap penindasan.
Artinya, hubungan antara sosialisme dan masyarakat Indonesia jauh lembih kompleks daripada terjebak pada formula: sosialisme=komunisme=PKI. Semisal kita masih terjebak pada formula tadi maka sama halnya kita menghilangkan intelektual bangsa sendiri.
“cita-cita sosialisme di dalam islam itu tidak kurang dari tiga belas abad umurnya dan tidak bisa dikatakan muncul dari pengaruh bangsa eropa. Saya tidak bermaksud mengatakan, bahwa pada ketika itu sudah ada sesuatu propaganda sosialisme yang teratur seperti sekarang.
Akan tetapi di dalam pergaulan hidup islam bersama dengan zaman nabi Muhammad SAW dan asas asas itu dilakukan lebih banyak dan lebih gampang dari pada eropa pada zaman manapun sesudahnya nabi kita.” (H.O.S Tjokro Aminoto, Islam dan Sosialisme. Hal 23).
GMNI Bukan Underbow PKI
Secara histois GMNI lahir bukan sebagai organisasi mahasiswa PKI. Jose Eliseo rocamora Di dalam bukunya “Nasionalisme mencari ideologi.” Mengungkapkan GMNI terbentuk dari peleburan tiga organisasi mahasiswa yang ber-asaz Marhaenisme: Gerakan Mahasiswa Marhaenisme di Yogyakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka di Surabaya dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia di Jakarta. Kongres pertama GMNI berlangsung di Surabaya pada 23 Maret 1954. Serta menetapkan Marhaenisme ajaran Soekarno sebagai asaz.
Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sendiri menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa di Indonesia memiliki posisi politik yang beragam. Oganisasi kemahasiswaan sendiri memiliki latar ideologis dan hubungan politik yang berbeda-beda.
Maka kalau mau mengatakan GMNI sebagai underbow PKI, pertanyaan yang harus diajukan adalah: apa dokumen yang menunjukkan GMNI berada di bawah PKI? Di mana struktur organisasinya? Dan bagaimana mekanisme pertanggung jawabanya?
Tanpa bisa menjawab pertanyaan di atas label “underbow” dan stigma sebagai bahaya laten komunisme tersebut gugur. Bahkan stigma tersebut lebih dekat pada tuduhan politik daripada kesimpulan sejarah. dan yang melakukan tuduhan tersebut sungguh tidak menunjukkan kearifanya sebagai intelektual. Bukankah “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” –Pramodya Ananta Toer-
Tulisan ini bukan sebuah pembelaan terhdap PKI, tidak pula ada keinginan menyudutkan personal tertentu. Saya menulis ini sebagai upaya duduk bersama meluruskan sejarah dan mendudukkan sesuatu atas dasar pengetahuan serta fakta sejarah.“be a free and don’t accept everything you hear as truth. Be critical and evaluatewhat you believe in.” (Aristoteles). bangsa yang dewasa itu berani menguji sejarah dengan bukti, membaca perbedaan dengan jernih dan menolak stigma sebagai pengganti argumentasi.
Sebagai seorang terpelajar sudah sepantasnya menunjukkan bahwa kajian keilmuan tidak seharusnya dibangun atas dasar prasangka, melainkan di atas disiplin ilmiah, ketekunan membaca dan memahami yang yang lain secara adil.
Di tengah dunia yang sering terbelah oleh streotip, seharusnya kita menjadi jembatan. Bukan malah sebaliknya, sejarah dijadikan ruang untuk melempar stigma, menakut-nakuti generasi hari ini dengan tragedi masa lalu. (*)














