Murid Menjemput Sejarah, Cara Dindik Jatim Hidupkan Karakter dan Nasionalisme

- Jurnalis

Minggu, 16 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai. (DOK. KLIKMADURA)

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai. (DOK. KLIKMADURA)

Anjangsana ke Veteran, Kadindik: Pelajar Harus Lanjutkan Perjuangan Lewat Pendidikan

SURABAYA || KLIKMADURA – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur menginisiasi gerakan inovatif bertajuk “Murid Menjemput Sejarah: 81 Tahun Indonesia Merdeka”.

Gerakan yang berlangsung pada 12–16 Agustus 2026 tersebut mengajak para murid belajar tentang perjuangan dan makna kemerdekaan secara langsung dari para veteran maupun keluarga pejuang di wilayah masing-masing.

Program tersebut melibatkan sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Para murid bersama guru mendatangi rumah veteran maupun keluarga pejuang untuk mendengarkan langsung kisah perjuangan sekaligus menggali pesan bagi generasi muda.

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, gerakan tersebut sengaja dirancang agar pelajar tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan pelaku maupun keluarga yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal kemerdekaan dari buku pelajaran, upacara, atau cerita di ruang kelas. Kami ingin mereka datang langsung, duduk bersama para veteran dan keluarga pejuang, mendengar kisahnya, melihat keteladanannya, dan memahami bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa,” ujar Aries, Sabtu (15/8).

Konsep gerakan tersebut dibuat sederhana. Setiap sekolah diarahkan mengunjungi sedikitnya satu veteran atau pejuang kemerdekaan, sekaligus membawa bingkisan sebagai bentuk perhatian dan penghormatan kepada para pejuang.

Baca juga :  Turun Jalan, Gabungan Aktivis Desak Menteri ATR/BPN Cabut 7 SHM Lahan yang Dikelola PT. Budiono

Namun, menurut Aries, bingkisan bukan tujuan utama kegiatan. Hal terpenting ialah menghadirkan kepedulian sekaligus mempertemukan generasi muda dengan sejarah secara langsung.

“Sembako, selimut maupun tali asih yang dibawa murid sebenarnya bukan tujuan utamanya. Yang paling penting adalah menghadirkan rasa hormat, kepedulian dan terima kasih generasi hari ini kepada para pejuang,” katanya.

Kadindik kelahiran Makassar tersebut menegaskan, semangat perjuangan harus diterjemahkan sesuai tantangan generasi saat ini. Mengisi kemerdekaan tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, tetapi melalui pendidikan, prestasi, kepedulian sosial, dan kontribusi positif bagi bangsa.

“Kami ingin menanamkan kepada murid bahwa mengisi kemerdekaan sekarang tidak lagi dengan mengangkat senjata, tetapi dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, menjaga persatuan, memiliki kepedulian sosial, serta memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Menurut Aries, setiap kunjungan juga menghasilkan dokumentasi berupa pesan kemerdekaan dari veteran untuk generasi muda. Pesan tersebut dapat dituangkan dalam video berdurasi satu hingga dua menit maupun tulisan tangan.

“Yang membuat gerakan ini berbeda adalah setiap kunjungan menghasilkan pesan kemerdekaan bagi murid di Jawa Timur. Pesan tersebut kemudian tertuang dalam sebuah video berdurasi satu sampai dua menit ataupun tulisan tangan dari para veteran,” jelasnya.

Ia menilai gerakan tersebut berpotensi berkembang menjadi model pendidikan karakter khas Jawa Timur karena memadukan literasi sejarah, kepedulian sosial, penghormatan terhadap pejuang, dan dokumentasi sejarah lokal.

“Jika buku mengajarkan sejarah, maka para veteran mengajarkan kepada anak-anak kita tentang harga kemerdekaan,” tutur Aries.

Baca juga :  Rayakan HUT ke-81 RI, SDI Al-Munawwarah Pamekasan Latih Disiplin dan Kepemimpinan Siswa

Antusiasme juga datang dari para veteran. Menurut Aries, sejumlah veteran mengaku terharu karena masih ada generasi muda yang datang secara langsung untuk mendengarkan kisah perjuangan mereka.

“Para veteran mengapresiasi yang dilakukan murid-murid dan guru karena mereka terharu masih ada yang peduli dengan sejarah secara langsung, bukan hanya di buku. Mereka bisa mendengarkan langsung dari pelaku sejarah,” katanya.

Dari kegiatan tersebut, para pelajar juga menemukan beragam kondisi kehidupan veteran. Sebagian hidup cukup mapan, tetapi ada pula yang tinggal di rumah sederhana, rumah kontrakan, hingga tempat tinggal yang membutuhkan perbaikan.

Temuan tersebut sekaligus menjadi pembelajaran sosial bagi para murid bahwa penghormatan kepada pejuang tidak berhenti pada seremoni, tetapi dapat diwujudkan melalui kepedulian nyata.

Sejumlah sekolah bahkan memilih lokasi dan tokoh sejarah yang memiliki keterkaitan kuat dengan daerahnya. Murid SMAN 1 Ngrambe, misalnya, melakukan ziarah ke makam Ki Ronggo Lelono.

Melalui doa dan tabur bunga, para murid diajak mengenang nilai perjuangan, kepemimpinan, dan pengabdian tokoh yang dihormati sebagai salah satu leluhur Ngawi tersebut.

Ki Ronggo Lelono sendiri merupakan tokoh leluhur dan mantan patih dalam legenda Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang dihormati sebagai salah satu cikal bakal pemimpin di daerah tersebut.

Sementara itu, murid SMAN 1 Widodaren menjemput sejarah melalui kunjungan ke rumah peninggalan pahlawan nasional dr. Radjiman Wedyodiningrat di Desa Ndirgo. Kisah perjuangan tokoh yang pernah memimpin BPUPKI tersebut disampaikan Sagimin, penjaga makam dr. Radjiman.

Baca juga :  Di TMP Kusuma Negara, Bupati Sampang Bersama Forkopimda Kenang Pengorbanan Para Pahlawan

Pesan yang dibawa dari kunjungan itu sederhana tetapi kuat, yakni kemerdekaan bukan akhir perjuangan, melainkan awal untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa. Para pelajar juga diajak meneladani dr. Radjiman sebagai sosok yang berilmu, berani, dan berbakti kepada negeri.

Di wilayah lain, SMAN 1 Sukodadi menyambangi veteran perang Bandiyo. Sedangkan murid SMAN 1 Wonoayu berkesempatan bertemu pejuang Dwikora, Trikora, dan Sejora, Liem, serta istri pejuang Trikora, Sumiyatun.

Keduanya masih tampak terharu ketika kembali menceritakan pengalaman perjuangan masa lalu kepada para pelajar. Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk melihat sejarah bukan sekadar sebagai materi pembelajaran, tetapi sebagai pengalaman hidup yang diwariskan langsung oleh para pejuang.

Aries berharap pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang lebih mendalam dibandingkan sekadar pembelajaran sejarah di ruang kelas.

“Harapan kami, sepulang dari rumah veteran, anak-anak membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang mereka berikan, yaitu cerita perjuangan, keteladanan, semangat pantang menyerah, dan kesadaran bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan melalui pendidikan,” pungkasnya.

Gerakan “Murid Menjemput Sejarah: 81 Tahun Indonesia Merdeka” sekaligus menjadi bagian dari visi Dindik Jatim menghadirkan “Jatim Cerdas, Pendidikan Berdampak”.

Pendidikan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan pengalaman dan nilai yang mampu membentuk karakter serta kepedulian peserta didik terhadap lingkungan dan bangsanya. (nda)

Berita Terkait

NIHONGO Partners Gelombang 24 Perkuat Pertukaran Bahasa Jepang-Indonesia, Madura Jadi Perhatian
PBNU Rilis Daftar Peserta Sementara Muktamar ke-35 NU, 501 PWNU, PCNU, dan PCINU Masuk Tahap I
Imigrasi Pamekasan Deportasi WNA Malaysia, Langgar Aturan Keimigrasian hingga Dicekal Masuk Indonesia
Taklukkan Dua Master Internasional, Taufiqurrahman MP Persembahkan Emas untuk Pamekasan di Kejuaraan Catur Internasional FIDE
SMSI Sumenep Hadiri Rakerda Jatim 2026, Dorong Penguatan Sinergi Media Siber 
GPI Gagas Seminar Nasional Peradaban Lintas Agama, Kampus se-Jatim Siap Jadi Episentrum Peradaban
Berani Tolak Menu MBG Lele Mentah, Wagub Jatim Puji SMAN 2 Pamekasan
Satu Yayasan Diduga Kuasai Puluhan SPPG, Kerugian Negara Ditaksir Tembus Ratusan Miliar

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 01:48 WIB

Murid Menjemput Sejarah, Cara Dindik Jatim Hidupkan Karakter dan Nasionalisme

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:54 WIB

NIHONGO Partners Gelombang 24 Perkuat Pertukaran Bahasa Jepang-Indonesia, Madura Jadi Perhatian

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:05 WIB

PBNU Rilis Daftar Peserta Sementara Muktamar ke-35 NU, 501 PWNU, PCNU, dan PCINU Masuk Tahap I

Jumat, 3 Juli 2026 - 05:25 WIB

Imigrasi Pamekasan Deportasi WNA Malaysia, Langgar Aturan Keimigrasian hingga Dicekal Masuk Indonesia

Senin, 29 Juni 2026 - 04:30 WIB

Taklukkan Dua Master Internasional, Taufiqurrahman MP Persembahkan Emas untuk Pamekasan di Kejuaraan Catur Internasional FIDE

Berita Terbaru