PAMEKASAN || KLIKMADURA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 16 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menghadirkan inovasi berupa alat ekstraksi biopestisida berbahan dasar daun tembakau yang tidak terpakai di Desa Dempo Barat.
Inovasi tersebut diharapkan mampu mengubah limbah pertanian menjadi produk ramah lingkungan sekaligus membantu petani mengendalikan hama secara lebih efisien.
Keunggulan inovasi itu terletak pada penggunaan mesin pengaduk otomatis yang dibuat dari bahan tidak terpakai. Teknologi tersebut diklaim mampu memaksimalkan proses ekstraksi nikotin dari daun tembakau tanpa merusak kualitas kimianya.
Penggagas inovasi, Akhdan Naufal Baihaqi, mengatakan mesin pemutar tersebut menjadi pembaruan dibanding penelitian sebelumnya. Menurut dia, putaran mesin dapat memecah lapisan jenuh air sehingga proses penarikan zat aktif dari tembakau berlangsung lebih maksimal.

“Mesin pemutar ini merupakan inovasi terbaru yang kami bentuk, kalau diputar itu mesinnya dapat memecah lapisan jenuh pada air sesuai dengan hukum Difusi Fick sehingga penarikan racun nikotin pada tembakau itu bisa maksimal tanpa merusak kualitas kimiannya,” ujarnya.
Akhdan menjelaskan, ide tersebut lahir dari banyaknya limbah daun tembakau yang tidak dapat dijual dan belum dimanfaatkan masyarakat. Padahal, limbah tersebut masih memiliki potensi diolah menjadi biopestisida yang lebih aman dibanding pestisida kimia.
Selain memperkenalkan alat, mahasiswa KKN juga memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai proses pembuatan hingga penggunaan biopestisida ekstrak tembakau. Pelatihan itu diharapkan dapat diterapkan secara mandiri oleh petani untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Kepala Desa Dempo Barat, Joko Pranoto mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, bahan baku biopestisida mudah diperoleh di sekitar desa sehingga biaya produksinya rendah dan berpotensi mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.
“Saya sangat mengapresiasi temuan-temuan itu. Bahannya mudah didapat di sekitar kita dan biaya pembuatannya rendah. Harapan saya, pestisida ini benar-benar ampuh sehingga bisa membantu para petani,” katanya.
Mahasiswa KKN Kelompok 16 berharap inovasi tersebut dapat mendorong pemanfaatan limbah tembakau menjadi produk bernilai tambah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pertanian yang ramah lingkungan. (nda)













