Merit System dalam Penguatan Struktur PCNU Sumenep

- Jurnalis

Sabtu, 21 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Imam Hidayat. Akademisi sekaligus Pengurus Lakpesdam NU Sumenep.

***

PENERAPAN merit system dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Sumenep merupakan langkah strategis untuk membangun tata kelola organiasi yang profesional, kompeten, dan berkelanjutan.

Sistem berbasis kompetensi dan integritas sangat dibutuhkan agar kepengurusan berdasarkan pada kapasitas dan rekam jejak kader, hal ini sejalan dengan pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada acara muktamar NU ke – 28 (Krapyak, 1989).

Gus Dur menekankan profesionalisme struktur dan penguatan kelembagaan NU agar tidak hanya sebagai simbolik, tetapi berfokus pada manajemen fungsional organisasi.

Baca juga :  PBNU Rilis Daftar Peserta Sementara Muktamar ke-35 NU, 501 PWNU, PCNU, dan PCINU Masuk Tahap I

Struktur organisasi yang kuat bukan hanya soal kelengkapan bidang atau lembaga, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Woodrow Wilson (1887) dengan merit system setiap pengurus ditempatkan sesuai kompetensi (the right person in the right place). 

Merit system menekankan pada prinsip kompetensi, kinerja, dan integritas dalam penempatan tiap masing masing bidang di struktur PCNU Sumenep, hal ini penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan organisasi kepada warga nahdliyin dan memperkuat kepercayaan publik terhadap tata kelola organisasi.

Penerapan merit system sering berbenturan dengan budaya patronase atau senioritas. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen kolektif dari para senior, tokoh, dan kader muda untuk membangun budaya organisasi yang lebih objektif tanpa meninggalkan nilai adab dan tradisi khas NU.

Baca juga :  Perjalanan Karir: Tentang Proses, Perjuangan, dan Orang-Orang di Sekitar Kita

Sebagai daerah dengan basis pesantren yang kuat, NU Sumenep memiliki potensi besar dalam melahirkan kader-kader unggul. Dengan merit system, potensi tersebut dapat dikelola secara lebih sistematis sehingga NU tidak hanya menjadi penjaga tradisi.

Tetapi, juga organisasi yang adaptif, responsif terhadap perkembangan zaman serta konsisten terlibat dalam berbagai isu sosial seperti penanggulangan radikalisme, penguatan moderasi beragama, isu lingkungan, hingga advokasi kemanusiaan. (*)

Berita Terkait

Imajinasi Pemekaran Kabupaten Kepulauan Kangean
Menggugat Stigma Dangkal: Membebaskan Sosialisme Indonesia dan GMNI dari  Sesat Fikir “Bahaya Laten Komunisme”
Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?
Aracok Budhaja: Sebuah Catatan Merapal Ingatan, Masyarakat Blega Menjaga Kebudayaan
Berpikir Ala Lebah: Inspirasi Al-Qur’an Membangun Ilmu, Akhlak, dan Peradaban
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Prabowo dan Komisi 1 DPRD Sumenep
Sangkakala Demokrasi dan Absurditas Kekuasaan

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 09:55 WIB

Imajinasi Pemekaran Kabupaten Kepulauan Kangean

Kamis, 17 September 2026 - 06:35 WIB

Menggugat Stigma Dangkal: Membebaskan Sosialisme Indonesia dan GMNI dari  Sesat Fikir “Bahaya Laten Komunisme”

Kamis, 27 Agustus 2026 - 02:33 WIB

Tradisi Maulid Nabi di Madura Apakah Masih Akan Tetap Kuat di Generasi Muda?

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:22 WIB

Aracok Budhaja: Sebuah Catatan Merapal Ingatan, Masyarakat Blega Menjaga Kebudayaan

Senin, 10 Agustus 2026 - 04:43 WIB

Berpikir Ala Lebah: Inspirasi Al-Qur’an Membangun Ilmu, Akhlak, dan Peradaban

Berita Terbaru

MANIFESTO GELORA PAMEKASAN

UHC Semesta 2027: Membenahi Data, Menjamin Hak Sehat Rakyat Pamekasan

Minggu, 11 Okt 2026 - 02:22 WIB