UPI Sumenep dan Estafet Peradaban

- Jurnalis

Minggu, 18 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura.

***

HARI ini langkah kaki saya kembali menjejak halaman kampus yang puluhan tahun lalu kerap saya datangi sebagai tamu. Dulu namanya STKIP PGRI Sumenep, kini ia tumbuh dan bertransformasi menjadi Universitas PGRI (UPI) Sumenep.

Saya bukan bagian dari mahasiswa kampus ini. Tetapi tempat ini pernah menjadi ruang penting dalam proses pembentukan diri saya sebagai pelajar yang memiliki niat kuat menempa batin, disiplin, dan kesadaran melalui dunia seni.

Kedatangan saya kali ini terasa berbeda. Saya hadir sebagai orang tua yang mengantarkan anak mengikuti Kompetisi Sains, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris (KOSAMBI). Sebuah ajang akademik yang bagi saya melambangkan kesinambungan antargenerasi.

Dari ruang-ruang belajar yang dulu saya masuki dengan kegelisahan kreatif, kini saya menyaksikan anak-anak muda menguji nalar dan pengetahuan mereka dengan penuh harap.

Sejumlah orang tua menunggu anaknya di antara dua gedung megah kampus Universitas PGRI Sumenep. (PRENGKI WIRANANDA / KLIKMADURA)

Puluhan tahun lalu, kampus ini saya kenal sebagai tempat persinggahan intelektual dan kultural. Di sinilah saya belajar membaca dan menulis naskah teater, memahami tubuh sebagai medium ekspresi, serta memaknai seni sebagai latihan kejujuran dan kepekaan sosial.

Baca juga :  Katarsis Resolusi

Proses itu tidak selalu berlangsung di ruang kelas formal. Melainkan, di panggung sederhana, diskusi panjang, dan pertemuan-pertemuan lintas latar belakang yang memperkaya cara pandang.

STKIP PGRI Sumenep lahir dari kesadaran kolektif para pendidik Madura bahwa pendidikan adalah fondasi pembebasan dan kemajuan. Sejak awal, institusi ini dirancang sebagai pusat pencetak tenaga pendidik dan intelektual yang berpijak pada nilai lokal tetapi berpandangan luas.

Perubahan status menjadi Universitas PGRI Sumenep menandai fase kematangan kelembagaan serta perluasan mandat akademik dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tumbuh di Madura dengan segala keterbatasannya, UPI Sumenep justru menunjukkan daya tahan akademik yang patut diapresiasi. Kampus ini menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh letak geografis, melainkan oleh komitmen intelektual dan etos kerja sivitas akademikanya.

Berbagai capaian akademik dan kegiatan ilmiah menjadi bukti bahwa perguruan tinggi daerah mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Baca juga :  Komplotan Pencopet Ulung

Penyelenggaraan KOSAMBI merupakan salah satu manifestasi peran tersebut. Kompetisi ini bukan semata ajang adu kecakapan kognitif, melainkan ruang pembelajaran nilai. Ia melatih keberanian berpikir, ketekunan belajar, serta penghargaan terhadap proses.

Di tengah kecenderungan zaman yang mengedepankan kecepatan dan hasil instan, ruang-ruang kompetisi akademik seperti ini menjadi penting untuk menjaga kualitas nalar generasi emas.

Di luar ranah akademik formal, UPI Sumenep juga dikenal memiliki kehidupan ekstrakurikuler yang dinamis. Salah satu yang memberi jejak mendalam dalam ingatan saya adalah Teater Lentera. Terutama Fauzi. Tokoh utama yang sekarang jadi wakil rektor di kampus ini.

Teater Lentera bukan sekadar unit kegiatan mahasiswa, tetapi ruang pembentukan karakter dan kesadaran kultural. Dari proses teater, banyak individu belajar membaca realitas sosial, mengolah empati, dan menyuarakan kegelisahan zaman melalui ekspresi artistik yang bertanggung jawab.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan yang kian masif, seni dan budaya justru menemukan relevansi barunya. Teknologi dapat mereplikasi bentuk, tetapi tidak mampu menggantikan pengalaman batin, kepekaan rasa, dan ingatan kolektif manusia.

Baca juga :  Pemkab Pamekasan Apresiasi Gebyar Pendidikan, Miliki Peran Strategis dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045

Dalam konteks ini, kegiatan seni seperti teater berfungsi sebagai benteng kebudayaan yang menjaga nilai kemanusiaan agar tidak tereduksi menjadi sekadar data dan algoritma.

Melihat para peserta KOSAMBI hari ini, saya seperti melihat potret generasi yang sedang dipersiapkan menghadapi masa depan dengan tantangan yang jauh lebih kompleks.

UPI Sumenep, sebagaimana dulu STKIP PGRI Sumenep, memikul tanggung jawab historis untuk terus menjadi ruang aman bagi tumbuhnya generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan berakar kuat pada nilai budaya.

Kampus ini bukan hanya tempat belajar, melainkan simpul peradaban di Sumenep. Di sinilah sains bertemu etika, rasio bertemu rasa, dan masa depan dirancang dengan kesadaran sejarah.

Hari ini saya meninggalkan kampus ini dengan keyakinan bahwa selama Universitas PGRI Sumenep setia pada misi pendidikan dan kebudayaan, ia akan terus melahirkan generasi yang mampu menjaga akal sehat dan martabat kemanusiaan di tengah perubahan zaman yang semakin artifisial. Maaf. (*)

Berita Terkait

Memaknai Posisi Penyeimbang PDI Perjuangan
Saat Si Moncong Putih Berkata Tidak!
Filosofi Patah Hati
Kongres AJP: Habis Gaduh Terbitlah Teduh
Valen dan Pertaruhan Harga Diri
Menghidupkan Kembali Asa UNU Madura
Satu Fikrah, Satu Harakah: Momentum Meneguhkan Arah Perjuangan NU Sumenep
Ketika Kades Tak Lagi PERKASA

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 03:57 WIB

UPI Sumenep dan Estafet Peradaban

Selasa, 13 Januari 2026 - 22:44 WIB

Memaknai Posisi Penyeimbang PDI Perjuangan

Senin, 12 Januari 2026 - 03:24 WIB

Saat Si Moncong Putih Berkata Tidak!

Sabtu, 3 Januari 2026 - 04:22 WIB

Filosofi Patah Hati

Sabtu, 20 Desember 2025 - 13:22 WIB

Kongres AJP: Habis Gaduh Terbitlah Teduh

Berita Terbaru