Penyesalan Masa Tua

- Jurnalis

Jumat, 27 Desember 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar animasi orang tua duduk santai di dekat pohon. (FOTO: AI)

Gambar animasi orang tua duduk santai di dekat pohon. (FOTO: AI)

Oleh: Faqih Ali, Mahasiswa Universitas Madura.

—————–

PSIKOLOGI sastra merupajan kajian yang menghubungkan antara psikologi dan sastra, di mana psikologi sastra berfungsi untuk memahami karakter, perilaku, dan motivasi tokoh dalam karya sastra.

Haslinda (2019) menekankan, psikologi sastra dapat membantu pembaca untuk lebih memahami pengalaman emosional dan psikologis yang dihadapi oleh tokoh-tokoh dalam cerita.

Dalam puisi berjudul “menyesal”, saya akan menganalisa menggunakan pendekatan psikologis karya. Psikologi karya merupakan pendekatan yang berfokus pada aspek-aspek psikologis yang tercermin dalam karya sastra, termasuk karakter, alur, tema, dan konflik.

Pendekatan ini bertujuan untuk memahami bagaimana pengalaman, emosi, pikiran, dan motivasi yang kompleks dalam karya sastra mencerminkan atau memengaruhi kondisi psikologis manusia.

Menurut J. P. Guilford (1950) menyebutkan, psikologi karya sebagai studi tentang proses mental yang terlibat dalam penciptaan karya seni. Ia menekankan pentingnya memahami bagaimana individu berinteraksi dengan ide-ide kreatif dan bagaimana faktor psikologis mempengaruhi proses kreatif.

Baca juga :  Kartu Kesempatan di Tahun 2025: Waktunya Beraksi

Menyesal

(Karya Ali Hasjmy)

Pagiku hilang sudah melayang,

Hari mudaku sudah pergi

Kini petang datang membayang

Batang usiaku sudah pergi

Aku lalai di hari pagi

Beta lengah di masaa muda

Kini hidup meracun hati

Miskin ilmu, miskin harta

Ah, apa guna kusesalkan

Menyesal tua tiada berguna

Hanya menanbah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan

Atur barisan di hari pagi

Menuju arah padang bakti

Analisis menggunakan pendekatan psikologi karya:

Dalam bait pertama menggambarkan tentang psikologi yang berupa penyesalan atas penyianyiaan masa muda. Kata /pagiku/ dan /petang/ menunjukkan peralihan dari masa muda (pagi) ke masa tua (petang).

Dalam psikologi, perasaan kehilangan ini dapat dihubungkan dengan konsep nostalgia, di mana pembaca merenungkan masa lalu dengan campuran rasa rindu dan penyesalan. Bait ke 2 ini menggambarkan tentang penyesalan atas kelalaian dan kecerobohan di masa muda, yang mengarah pada perbuatan negatif.

Baca juga :  Aroma Kemerdekaan

Pada gabungan kata /hidup meracun hati/ menunjukkan dampak psikologis yang dalam, di mana penyesalan dan rasa bersalah dapat menyebabkan penderitaan emosional. Bait tersebut menggambarkan rasa menyesal  yang mendalam atas kelalaian yang mengakibatkan kemiskinan baik dalam pengetahuan maupun materi, yang mencerminkan rasa ketidakpuasan.

Bait ke 3 menyatakan bahwa penyesalan tidak akan mengubah masa lalu. Kata /ah/ disini menyatakan rasa keputusasaan. Psikologi positif menunjukkan bahwa menerima kenyataan dapat menjadi langkah penting untuk penyembuhan, tetapi dalam konteks ini, penyesalan tetap menambah /luka sukma/.

Ini menunjukkan bahwa meskipun ada penerimaan, rasa sakit emosional masih ada. Bait terakhir ini menggambarkan tentang harapan untuk anak muda, agar mereka tidak mengulangi kesalahan dan lebih pandai dalam memanfaatkan waktu pada masa mudanya sehingga tidak ada penyesalan dikemudian hari.

Baca juga :  Optimistis Akan Lebih Baik, Akhmad Ma'ruf Serukan Terbentuknya Provinsi Madura

Dalam konteks psikologi karya, kutipan ini mencerminkan pembelajaran bahwa anak muda harus belajar dengan kesalahan orang lain.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, jika dianalisis dengan pendekatan psikologi karya, puisi ini menggambarkan tentang psikologi yang meliputi: penyesalan, penerimaan, dan harapan.

Melalui pendekatan psikologi karya, kita dapat melihat psikologi seperti apa yang ada dalam karya tersebut dan bagaimana pengalaman masa lalu mempengaruhi keadaan mental.

Kita harus berusaha memberikan gambaran melalui puisi dengan tema “menyesal” (Karya Ali Hasjim) pada generasi muda. Puisi ini menunjukkan bahwa meskipun penyesalan adalah bagian dari kehidupan, ada harapan untuk perbaikan di masa depan. (*)

Berita Terkait

[CERPEN] You Can Call Me, Saaa…
Antara Komitmen dan Setia
Kumpulan Puisi Fardan,d 
Sepucuk Harapan M. Yamin
Aroma Kemerdekaan
Hidup Menjadi Anak Garam
Yasir Batlimus Jelajah Nusantara dengan Jalan Kaki: Susuri Keindahan Alam Indonesia, Temukan Makna Hidup yang Sesungguhnya
Bertolak Dari Arsip Sehari-hari

Berita Terkait

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 10:05 WIB

[CERPEN] You Can Call Me, Saaa…

Selasa, 12 Agustus 2025 - 07:35 WIB

Antara Komitmen dan Setia

Senin, 14 Juli 2025 - 19:18 WIB

Kumpulan Puisi Fardan,d 

Selasa, 31 Desember 2024 - 03:06 WIB

Sepucuk Harapan M. Yamin

Jumat, 27 Desember 2024 - 02:39 WIB

Aroma Kemerdekaan

Berita Terbaru