SAMPANG || KLIKMADURA – Minimnya hasil tangkapan ikan mulai berdampak pada aktivitas Pelabuhan Tanglok, Kabupaten Sampang. Sejumlah nelayan asal Pulau Mandangin memilih tidak melaut karena biaya operasional dinilai tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang diperoleh.
Kondisi tersebut membuat sejumlah perahu memilih tambat dan tidak beroperasi seperti biasanya. Dampaknya, aktivitas di Pelabuhan Tanglok yang menjadi salah satu akses transportasi masyarakat Pulau Mandangin turut terlihat lebih lengang.
Berkurangnya perahu yang berangkat menuju Pulau Mandangin juga berpengaruh terhadap mobilitas warga yang mengandalkan transportasi laut untuk keluar maupun masuk pulau.
Sejumlah warga, termasuk para guru, ikut merasakan dampak berkurangnya jadwal keberangkatan perahu. Kondisi tersebut membuat perjalanan menuju Pulau Mandangin maupun sebaliknya menjadi lebih sulit.
Salah seorang guru asal Mandangin, Solah, mengatakan transportasi laut yang tidak rutin menjadi kendala bagi guru yang harus melakukan perjalanan dari maupun menuju Pulau Mandangin.
“kapal yang jarang keluar mengakibatkan transportasi juga sulit. Para guru, baik yang dari Pulau Mandangin keluar atau dari luar ke Pulau Mandangin, juga mengalami kendala,” kata Solah, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, keberadaan perahu penyeberangan sangat penting bagi aktivitas masyarakat Mandangin. Selain menjadi sarana mobilitas warga, transportasi laut juga menjadi bagian dari rutinitas para guru yang harus menempuh perjalanan menuju tempat tugas.
Sepinya aktivitas di Pelabuhan Tanglok tidak terlepas dari kondisi perikanan yang sedang lesu. Pemilik perahu, Iyus, mengatakan banyak nelayan memilih menambatkan perahunya karena hasil tangkapan saat ini minim.
“Banyak warga tidak melaut karena hasil tangkapan minim. Kalau tidak musim ikan seperti sekarang, tidak nutut di operasional. Jadi warga banyak yang memilih untuk tidak melaut,” ujar Iyus.
Ia menjelaskan, nelayan harus memperhitungkan biaya yang dikeluarkan setiap kali pergi melaut. Ketika hasil tangkapan tidak mencukupi untuk menutup kebutuhan bahan bakar dan biaya operasional lainnya, aktivitas melaut justru berpotensi menambah beban pengeluaran.
Situasi tersebut kemudian berdampak pada aktivitas transportasi laut. Nelayan yang tidak melaut membuat jumlah perahu yang beroperasi berkurang. Di sisi lain, masyarakat yang membutuhkan jasa penyeberangan harus menyesuaikan diri dengan ketersediaan perahu.
Bagi warga Pulau Mandangin, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan pelabuhan yang terlihat sepi. Transportasi laut menjadi penghubung utama berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pekerjaan, pendidikan, perdagangan hingga mobilitas sehari-hari.
Jika minimnya hasil tangkapan terus berlangsung, aktivitas di Pelabuhan Tanglok diperkirakan tetap bergantung pada nelayan yang masih bersedia beroperasi.
Di tengah hasil laut yang belum mampu menutup biaya operasional, pilihan sebagian nelayan untuk menambatkan perahu akhirnya ikut memperlambat denyut transportasi laut menuju Pulau Mandangin. (ali/nda)














