PAMEKASAN || KLIKMADURA – Penyakit asam lambung kembali menjadi sorotan publik setelah meninggalnya selebgram Lula Lahfah yang diduga mengidap asam lambung akut.
Fenomena tersebut memunculkan kesadaran bahwa penyakit asam lambung bukan persoalan sepele, terutama bagi perempuan yang dinilai lebih rentan mengalaminya.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo Pamekasan, dr. Alfan Fathoni, SpPD, menjelaskan bahwa kerentanan perempuan terhadap penyakit asam lambung dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya faktor hormonal.
“Pada perempuan, hormon progesteron cenderung lebih tinggi. Hormon ini dapat melemahkan katup lambung sehingga asam lambung lebih mudah naik,” jelas dr. Alfan.
Selain faktor hormonal, perempuan juga dinilai lebih sensitif terhadap rasa nyeri sehingga lebih sering merasakan keluhan dan memeriksakan diri ke dokter. Faktor lainnya adalah pola makan dan pola hidup yang kurang teratur.
“Perempuan lebih banyak mencoba pola diet baru, seperti minum teh pelangsing atau metode diet tertentu tanpa pengawasan medis. Ditambah pola tidur yang buruk, ini membuat risiko asam lambung semakin tinggi,” ujarnya.
Dr. Alfan mengungkapkan, penyakit asam lambung memiliki beberapa jenis dengan tingkat keparahan yang berbeda, di antaranya Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), gastritis, dan tukak lambung.
“Yang tergolong cukup berat itu gastritis, karena sudah terjadi peradangan pada dinding lambung. Sedangkan GERD keluhannya sering mirip dengan penyakit jantung karena letak organ yang berdekatan,” terangnya.
Menurutnya, penyebab asam lambung saat ini banyak dipicu oleh pola konsumsi yang kurang tepat. Di antaranya, sering mengonsumsi makanan instan, makanan pedas dan asam, serta minuman yang terlalu dingin atau terlalu panas. Faktor psikologis seperti kecemasan dan stres berlebih juga turut berperan.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk mulai mengatur pola makan dengan mengurangi makanan pedas dan asam, serta memperbaiki pola hidup. Selain itu, pengelolaan stres juga dinilai sangat penting.
“Lakukan aktivitas yang disukai, seperti mendengarkan musik, membaca buku, atau berkumpul dengan teman. Kalau stres mudah terpicu atau ada masalah psikis, sebaiknya konsultasi ke psikiater agar manajemen stresnya tepat dan tidak selalu bergantung pada obat,” pungkasnya. (enk/nda)














