Valen, Media, dan Atribusi

- Jurnalis

Jumat, 2 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abrari Alzael, Budayawan, Jurnalis Senior

****

ACHMAD Valen Akbar, sebuah nama. Tanggal 16 Januari mendatang, akan merayakan ulang tahun ke 19. Ia, dikenal sebagai Valen Pamekasan dan pemenang DA7 2025. Media, membesarkan namanya dalam running news.

Warga Jatim, terutama Madura, menilainya sebagai bintang baru. Di awal tahun 2026, pemenang runner up itu terbang dari Jakarta, menuju Surabaya. Gubernur Khofifah Indar Parawansa, menyambutnya di Gedung Grahadi.

Prestasi sebagai the winner dalam helat DA7, Gubernur Jatim menyebutnya sebagai berlian. Valen, bukan hanya menyanyi, lebih dari itu terampil memainkan alat musik, terutama keyboard.

Begitu tiba di Pamekasan, ribuan warga menyambutnya di Stadion Gelora Madura Ratu Pemelingan (SGMRP), Ceguk (1/1/2026). Jalan Raya Larangan Tokol dan sekitarnya macet, untuk beberapa saat.

Di dalam stadion, warga mengelu-elukannya, larut dalam nyanyi. Valen, menyapa, menyanyi sebagaimana konser, serupa artis dalam jumpa fans, seperti pertunjukan pada umumnya.

Sejurus sebelum konser dimulai, ribuan orang berduyun, berebut, hendak masuk dalam waktu yang bersamaan. Massa seperti gelombang setelah pintu stadion dibuka. Ada yang lolos dengan gegap gempita. Ada juga yang terhimpit, berdesakan.

Ada juga yang terjatuh, terluka. Fenomena ini, lazim dalam rebut waktu, dalam degup semangat yang berdenyut. Orang-orang, dalam psikologi massa, memiliki tujuan yang sama, menonton dari jarak dekat, setelah sebelumnya mereka hanya bersaksi di televisi.

Baca juga :  Nasib Ibu Rumah Tangga dan Efek Domino Kenaikan PPN 12 Persen

Ketika konser berakhir, orang-orang memiliki ceritanya masing-masing. Sebagian puas, menganggap visualisasi Valen lebih indah dari yang disaksikannya di televisi. Sebagian lainnya mengaku lebih indah ketika menyaksikannya di layar kaca.

Selebihnya, ada yang kecewa, bukan pada konser itu. Tetapi, pada nasib yang dialaminya, tidak terlalu baik karena dagangan yang tumpah, laku sebelum terjual. Sekali lagi, peristiwa berebut memiliki konsekuensinya masing-masing.

Nama Valen sebelum akhirnya disaksikan orang-orang secara luring, mereka membincangkannya. Di pasar, di warung kopi, dan di tempat kongkow lainnya.

Bahkan di malam puncak DA7, banyak yang tidak terima karena Valen dianggap lebih pas sebagai juara dibanding yang lain. Bahkan sekelas raja dangdut, Rhoma Irama, mengambil bagian dalam vonis dewan juri.

Bang Haji, menuding model penentuan juara dianggapnya tidak murni sebagai ajang pencarian bakat sebab tidak semata ditentukan berdasarkan kualitas. Pemenang, juga ditentukan isi tas pengendors para kandidat.

Begitulah di republik ini. Apa saja bisa terjadi. Nasib baik seseorang tidak melulu pada garis tangan. Adakalanya melibatkan buah tangan dan campur tangan.

Dalam kemenangan Argentina pada piala dunia tahun 1986 di Spanyol, Diego Armado Maradona, memasukkan bola melalui campur tangannya.

Baca juga :  Basmi Rokok Ilegal: Satir untuk Nur Faizin

Orang-orang berteriak saat itu, hands ball. Tetapi di lapangan, wasit yang mahakuasa, sebagaimana nasib Valen di ajang DA7, juri telah memenangkan Tasya sebagai juara 1. Keputusan juri, umumnya diiringi frasa mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.

Penonton dalam sepakbola, sebagian besar tidak bisa bermain, atau bukan pemain bola. Begitu juga penonton dalam DA7 di mana Valen terdapat di dalamnya, penonton umumnya tidak bisa menyanyi.

Mereka, biasanya hanya menyumbangkan lagu, nyanyian yang pentatonik, dibuat sumbang. Namun diminta atau tidak, penonton merasakan dirinya lebih tahu dari dewan juri itu sendiri.

Dalam hal Valen menjadi kebanggaan karena bisa menyanyi itu, ia tidak berdiri sendiri. Ada ribuan orang yang terlibat dalam posisinya saat ini, sebagai artis baru, penyanyi, penerus generasi sebelumnya, Imam S Arifin, Johny Iskandar, dan yang terakhir melalui pencarian bakat, Irwan Sumenep, sekadar menyebut contoh.

Itulah sebabnya, Valen harus membuka kembali buku yang pernah diajarkan guru di sekolah, mon asel jha’ loppa asal.

Di belakang kesuksesannya, ada ribuan orang yang ikut berjuang, terutama orangtua, sanak famili, handai taulan, media, dan para pihak yang telah mengantarkannya menjadi bintang baru di helat pencarian bakat.

Di jalur keartisan, personifikasi yang pas dan mendekati kufuknya peristiwa, dalam teori atribusi sedikit terurai soal jalan sempit, gelap, licin, dan sebelah kiri-kananya sungai.

Baca juga :  Megathrust: Alarm Alam bagi Manusia, Tinjauan Singkat dari Filsafat Alam

Valen, berada dalam suasana kebatinan sesuai teori itu. Salah melangkah di episode berikutnya, ia bisa tamat di riwayat karirnya.

Valen, sekali lagi, sebuah nama yang dapat membuat banyak orang ingat pada satu hal dan lupa pada hal yang lain.

Mereka ingat Valen yang terjadwal datang ke tanah kelahirannya dan karena itu seseorang yang suka, mengharuskan dirinya untuk datang.

Di sisi yang lain, penonton Valen secara tidak langung lupa pada sesuatu yang lain; sembako mahal, hutan rusak, negara banyak utang, terancam badai pula, dan minus APBN-2025 yang membuat Menteri Keuangan Purbaya, pusing dan tidak bisa tidur.

Kita, sebagai warga negara, pusing juga karena rupiah merosot bahkan ditolak; dianggap bukan sebagai alat bayar yang sah oleh oknum pengusaha. Di konser Valen, mereka khusuk, menyimak, menikmati, dan merasa senang.

Padahal, di saat Valen menyanyi dan ketika penonton dalam suasana hiruk-pikuk itu, di saat yang sama, di tempat lain, di belahan nusantara ini, pantas diduga ada banyak pihak yang menebang pohon, mengunduli bukit, dan menambang apa saja.

Di republik ini, sekali lagi, hal yang tak mungkin terjadi, bisa terwujud, menjadi kenyataan. #bismillah (*)

Berita Terkait

Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam
Waktu Adalah Pedang: Sebuah Refleksi dan Muhasabah Diri
Megathrust: Alarm Alam bagi Manusia, Tinjauan Singkat dari Filsafat Alam
Valen: Simbol Kebangkitan Identitas dan Solidaritas Madura
Perginya Jurnalis Bermazhab Masdawian
Menyoal Penolakan Milad Muhammadiyah di Sampang: Refleksi Seorang Putra Madura
Hari Bahasa Arab Internasional: Momentum Memperkuat Literasi Bahasa Arab, dari Tradisi ke Gerakan Sosial di PTKIN dan Pesantren
Keadilan Sosial untuk Semua Kelas

Berita Terkait

Jumat, 2 Januari 2026 - 01:22 WIB

Valen, Media, dan Atribusi

Rabu, 31 Desember 2025 - 15:16 WIB

Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Rabu, 31 Desember 2025 - 11:24 WIB

Waktu Adalah Pedang: Sebuah Refleksi dan Muhasabah Diri

Senin, 29 Desember 2025 - 05:28 WIB

Megathrust: Alarm Alam bagi Manusia, Tinjauan Singkat dari Filsafat Alam

Minggu, 28 Desember 2025 - 01:52 WIB

Valen: Simbol Kebangkitan Identitas dan Solidaritas Madura

Berita Terbaru

Opini

Valen, Media, dan Atribusi

Jumat, 2 Jan 2026 - 01:22 WIB

Opini

Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Rabu, 31 Des 2025 - 15:16 WIB